Deathroned, Temaram dan Kegelapan Dari Surabaya

Setelah kelahiran sebuah karya, penulis telah mati. The Author is Dead.

— Roland Barthes

Di pertengahan 2016, saya tercengang dengan kehadiran mesin gelap asal Jawa Timur berama Deathroned. pada waktu itu mereka berada di dalam naungan tameng raksasa Hitam Kelam Record selaku pencetak demo mereka. Tanpa pikir panjang saya menghubunginya untuk mendapatkan rilisan tersebut. Hingga pada tahun 2018 saya dapat melihat live mereka saat saya menjadi additional Nicrov.

Alhasil saya dapat ngobrol ringan dengan salah satu personil Deahtroned, Reno Surya.

  • Hai Deathroned, saya Delta dari ILVSI OPTIK ZINE, bisa perkenalkan diri anda dan dengan siapa saya ngobrol?

Hi, Delta! Saya Reno. Saya adalah salah satu dari kolaborator Deathroned. Kolaborator lain adalah E. Leviathan. L. Abyss. Dan di drum saat ini kami di bantu oleh Ical dan Fadly dari Humanure.

Photo from Google.com
  • Sampai hari ini saya menikmati demo MMXVI tetapi saya belum mendapatkan lirik dari Unholy Serpent dan Blasphemy Insane, bisa anda ceritakan latar belakang kedua lagu tersebut?

Ah, okay. Kedua lirik tersebut sebetulnya, sangat prematur bagi kami. Dua repetoar yang terkandung dalam demo pertama kami mengalami dua proses kreatif yang berbeda. Saya bertanggung jawab penuh pada Unholy Serpent, sedangkan L. Abyss yang menulis Blasphemy Insane.

Saya tidak memiliki kapasitas menjawab untuk Blapshemy Insane. Proses diskusi kami saat itu hanya pada fase konstruksi wacana saja pada saat. Seperti tentang ‘bagaimana bentuk lirik di demo kami nanti?’ ‘gagasan apa yang akan dimuat di dalamnya’. Hanya sebatas itu.

Dua lirik yang yang terkandung dalam dua nomor di demo kami adalah sesuatu yang masih sangat komikal. Seperti Unholy Serpent misalnya. Adalah interpretasi saya tentang hal-hal yang sifatnya phantasmagorical. Tentang maha lemahnya kita membedakan hal yang nyata dan fiktif. Tentang kebenaran yang tidak tunggal; yang sebagian manusia anggap suci, adalah kebusukan bagi manusia lainnya. Sedangkan yang kerap di katakan sebagai gelap; adalah sebuah terang bagi manusia lainnya.

  • Pendapat audience dengan demo tersebut?

Kami tidak berharap banyak kepada demo tersebut. Dan sebenarnya kami tidak pernah mengharapkan apapun dari siapapun. Kualitas rekaman jauh dari apa yang kami mau. Masih jauh dari kata memuaskan.

Photo by Yoga Beges, take from google.com
  • Secara tersirat, konsep deathroned lebih mengoyak ke arah keyakinan (yang disampaikan oleh samack dalam press rilis SPLIT dengan Diabolical) dibandingkan dengan konsep gore, brutal, alien dsb. Benarkah? Jika iya, mengapa demikian?

Kami memberikan kebebasan tafsir bagi siapapun. Roland Barthes mengatakan bahwa setelah kelahiran sebuah karya, penulis telah mati. The Author is Dead. Kami mempercayai konsep tersebut. Kenapa demikian? Karena memang yang menjadi fokus kami dalam merakit repetoar adalah memang mempertanyakan kembali tentang keyakinan. Pertanyaan tentang hubungan vertikal, atau justru menyoal—atau mengkoyak—batas antara gelap terang, benar salah. Kami berupaya meretas batas-batas itu.

  • Kalian sangat swedish pada demo tersebut, apa equipment dan gear kalian?

Kami terlalu mabuk dan tidak benar-benar ingat apapun kecuali Randal Thrasher dan Boss HM-2. Ingatan kami memang payah.

  • Tidakkah kalian takut suatu saat dicap sebagai “terlalu swedish” oleh orang-orang mengingat kalian jauh berada di timur, jauh dari negara dingin eropa tersebut?

Kami tidak pernah benar-benar berupaya menjadi siapapun. Atau katakanlah “Swedish”-esque. Memang kami menggunakan Boss HM-2, tapi untuk riff kami banyak hanya di pengaruhi oleh band-band Stockholm, Swedia, saja.

Justru, kami banyak terpengaruh riff-riff band seperti Wolfbrigade, Tragedy, Dawn, atau Obliteration. Di debut EP kami nanti kami menjanjikan musik dan lirik yang lebih konseptual dan kontekstual.  

  • Pada maret 2018, deathroned merilis single Upon a Mortal Wound, secara sound berbeda dengan demo MMXVI, mengapa demikian?

Sebetulnya memang sound seperti ini yang kami mau. Kami bertemu dengan engineer yang benar-benar mengerti kami—Daniel Natjaard of Hordavjintra, Natjard, Valerian—yang banyak membantu kami saat proses penulisan musik di debut EP kami. Upon a Mortal Wound adalah salah satu bentuk yang paripurna—bagi kami pribadi—jika ditilik dari segi apapun.

Serta, Made Darma dari Warmouth dan Deadly Weapon adalah man behind the gun, yang sangat membantu kami dan tahu apa yang kami mau. Kami melakukan beberapa eksperemintasi sebelum melakukan proses rekaman. Serta kemudian masing-masing personil memiliki referensi masing-masing, yang kemudian mempertebal pengaruh musik kami dari keragaman tersebut. Saya rasa karena dalam mengerjakan Upon A Mortal Wound kami memiliki rentang waktu yang cukup lama.Hal itu membantu kami untuk mengeksplorasi sound serta hal-hal yang turut dibelakangnya.

Photo take from google.com
  • Upon a mortal wound cenderung mengarah ke oldschool raw blackened death metal, benarkah demikian?

Uhm, bagaimana itu? Yang kami tahu, komposisi musik kami adalah Death Metal. Untuk segala imbuhan, kami kembalikan kepada pendengar.

  • Beralih topik, kondisi negara saat ini sedang sangat sensitif, apalagi berkaitan dengan keyakinan. Padahal underground erat digunakan sebagai media pengkritik dengan berbagai tematik termasuk keyakinan, blasphemy, anti-religion dan sebagainya. bagaimana anda selaku member deathroned menyikapi hal ini?

Saya pikir bukan hanya saat ini. Negara ini memang kupingnya terlalu tipis untuk menerima kritik. Diluar konteks Deathroned, kami memang tidak pernah berharap apa-apa kepada negara. Kami juga tidak akan memperlibatkan apa yang dilarang atau dianjurkan oleh negara dalam proses kekaryaan kami.

Saya pikir masing-masing seniman atau band memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengodok karyanya. Dan bagi kami meracik repetoar adalah sebuah ritus yang suci. Kami tidakan membuka ruang, atau akan terpengaruh siapa saja, apalagi negara. 

  • Ditambah lagi munculnya RUU pasal no 5 tentang musik yang memuat larangan bagi para musisi membuat konten provokatif, bagaimana pendapat anda?

Saya akan menjawab pertanyaan ini diluar Deathroned.

Menurut saya, adanya RUU Permusikan memang sama sekali tidak menawarkan benefit apapun bagi musisi yang berada di wilayah independen. Karena batasanan tentang mana konten yang ‘provokatif’ dan tidak masih bias, dan abu-abu. Bisa saja pasal ini digunakan untuk membungkam segala bentuk protes—seperti halnya UU ITE yang kerap digunakan untuk menjerat aktivisi lingkungan—dan akan membawa bangsa kita kepada kemunduran.

Saya rasa jika UU ini di sahkan, kita tidak perlu menunggu bagian dari Orde Baru memimpin negara ini, untuk membuat bangsa kita dekaden. Rezim ini sama otoritarianistiknya dengan rezim Orba. Kita tengah hidup di sebuah negara yang terlalu banyak ikut campur dalam urusan rakyatnya. Dari urusan ranjang, atau hingga urusan musik.

  • Terima kasih sudah bersedia berbincang dengan dengan anda, ada pesan-pesan untuk para pembaca?

Death Shall Prevail!

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started