Indonesian Death Fest Chapter Bogor adalah event yang memukau dalam hidup saya karena saya harus meninggalkan pekerjaan di sekolah berangkat dari Ngawi menuju Bogor untuk datang di event ini, selain saya harus menjadi additional bagi Nicrov. Bersama Mas Micco, Uci, Rafli, Bino dan kawan-kawa, saya bertemu dengan teman-teman baru, Shreky, Mas Tino ketemu langsung dengan Andre Tiranda dan banyak sekali hal-hal yang belum saya dapatkan seperti event-event di daerah timur saya, hahahaha.
namun, yang membuat saya menulis tulisan ini (dimana password haru hilang dan menacri akal untuk menghacknya) adalah melihat penampilan perdana Pure Wrath band one man besutan Ryo. Terlepas dari pengakuan beliau ketika bilang banyak terjadi missing di panggung, saya menikmati sekali penampilan live mereka untuk pertama kalinya di depan panggung. Selepas dari Bogor, saya menghubungi Ryo untuk melakukan sesi interview.
Januaryo Hardy, photo by @d.tirtayasa
Mengapa setelah merilis album Ascetic Eventide dan Sempiternal Wisdom anda memutuskan untuk live?
Sebenarnya, semenjak Ascetic Eventide rilis sudah ada plan untuk bermain live. Saya pun sudah sempat latihan dan jamming dengan beberapa teman di Bekasi, sampai akhirnya teman teman di Bandung lah yg cocok dengan format live Pure Wrath. Begitu juga dengan waktu mereka yg lebih fleksibel.
Pure Wrath Discography
Mengapa memilih Indonesian Death Fest chapter Bogor sebagai penampilan live perdana? Apa momentumnya?
Karena sebagian besar support dan pembeli terbanyak album album Pure Wrath di Indonesia adalah teman teman di scene death metal. Saya sendiri merupakan bagian di scene death metal bersama beberapa proyek saya, salah satunya Perverted Dexterity. Dan Indonesian Death Fest Chapter Bogor diselenggarakan pada waktu yg bertepatan dengan session players Pure Wrath pun bermain di sana dengan band utama mereka. Jadi menurut saya, saat itulah moment paling tepat bagi Pure Wrath untuk kali pertama bermain live.
Pada live perdana anda, ada beberapa sosok yang tidak asing bagi kalangan death metal yaitu Teguh Maggot, Arief Rahadian dan Agung Prasetia. Apakah anda tidak terbesit untuk menggunakan kolaborator lain agar penampilan Pure wrath menjadi lebih istimewa?
Menurut saya, line up ini merupakan line up yg istimewa bagi saya. Mereka adalah teman teman dekat yg sudah saya kenal selama bertahun tahun dan sudah sering berbagi panggung bersama maupun berada di perjalanan bersama. Tidak ada hal se-istimewa bermain bersama mereka.
Pure Wrath first live at Indonesian Death Fest chapter Bogor. Photo by Yoga Beges
Ada respon Pure Wrath seolah seperti Burzum pada awalnya karena cenderung tidak bermain live, bagaimana tanggapan anda?
Pada awalnya memang Pure Wrath tidak dibentuk sebagai sebuah band ataupun band yg bermain live. Pure Wrath merupakan solo side project saya di samping keasyikan saya dengan Perverted Dexterity yg cukup sibuk merilis musik hingga menjalani tour di era 2014 – 2017. Sampai pada akhirnya saya merasa sayang apabila tidak dibawa ke step yg lebih serius seperti bermain live atau mungkin menjalani tour karena feedback-nya cukup gila selama ini.
Dari kedua album tersebut tema seperti nature lebih banyak ditampilkan dalam konsep pure wrath, apakah ini menjadi standar bagi atmospheric black metal?
Sebenarnya tidak ada pakem atau standard tematik di sub-genre ini. Pure Wrath sendiri bercerita tentang introspeksi diri saya pada album pertama, hingga sejarah perjuangan para leluhur keluarga saya di album ke-2. Gambaran alam pada album pertama sendiri memang merupakan summary dari introspeksi personal saya sebagai manusia yg hidup berdampingan berbagi oksigen bersama mahluk hidup lain. Begitu juga dengan gambaran di album ke-2 yg merupakan sinergi kehidupan antara leluhur dengan alam di masa-nya.
Pada tahun 2020 ini anda akan merilis EP The Forflon Soldier dengan drummer Yurii Kononov dan Dice Midyanti di piano, siapakah mereka?
Yurii Kononov adalah drummer professional asal Ukraina yg telah banyak berkontribusi di album album metal ataupun non metal, seperti White Ward, Raunacht, Sauroctonos, Marunata, hingga diva ternama Ukraina, Elena Voynarovskaya. Dice Midyanti adalah pianis, penulis lagu, dan komposer games asal Bandung yg selama ini kita tahu bermain di band symphonic metal, Victorian. Kontribusi mereka membuat EP berdurasi 27 menit ini menjadi sangat powerful.
Ceritakan sekilas lirik dari “What s Great Man Dies”.
Lagu ini merupakan lagu pembuka di EP The Forlorn Soldier. Bercerita tentang anggota keluarga yg kehilangan ayahnya pada malam hari, dijemput paksa oleh sekelompok orang yg juga merenggut nyawa dan menghilangkan jasadnya.
Sampul EP yang dibuat oleh Arghy Purakusuma, apakah berkaitan dengan sosok yang baru saja meninggalkan kita di skena metal Indonesia, Boedi Leksono founder dari hitam kelam?
Sebenarnya EP ini sudah rampung semenjak almarhum Boedi Leksono masih hidup. Beliau pun sudah mendengar semua lagu di EP ini, hingga berdiskusi dengan saya perihal perilisan untuk pasar lokalnya. Memang mungkin lagu ini dipublish beberapa hari setelah beliau meninggal dunia. Untuk itu, EP ini pun saya dedikasikan secara hormat untuk beliau.
Almarhum Boedi Leksono, founder hitam kelam records. Photo from google.com
Lalu seperti apa seorang Boedi Leksono bagi anda?
Beliau adalah sosok yg tahan banting, rasional, real, dan supportif dengan roster atupun band di luar rosternya. Tanpa beliau, Pure Wrath tidak akan sampai ke titik sejauh ini. Beliau pula yg menyemangati saya untuk terus membawa Pure Wrath ke ranah yg lebih serius.
Ada final comment untuk semua?
Tetaplah menjadi personal yg real tanpa embel embel apapun demi sebuah pencapaian. (Kata kata ini dalah kutipan dari almarhum Boedi Leksono kepada saya selagi beliau masih hidup) — Regards,Ryo
Saya membaca banyakya perempuan yang selalu menginspirasi baik dari Nia Dinata sampai pada Susi Pudjiastuti. Diranah Thrash punk ada hal unik dimana seorang perempuan dan dia juga manis (Ehemm) bernama Dewi Nawang Wulan. Dalam lautan crowd yang panas kehadirannya mengamuk tanpa ampun dengan vokal tekak meraungnya diiringi besutan cadas personil lainnya. Dari band ini teringat yang menjadi playlist lagu saya, Trash Talk. Hanya saja dengan racikan yang berbeda. Tak butuh waktu lama saya mencoba menghubungi via dm instagram untuk ngobrol-ngobrl dan inilah Ravage:
Bagaimana anda mendeskripsikan sebuah band thrash punk dengan adanya kaum hawa di dalamnya sekaliber Ravage?
How do you describe a thrash punk band with women in Ravage?
Kalo menurutku sih, ya bagus dan salut. Walaopun notabennya dalam sebuah scene hc/punk kaum laki laki semua, perempuan juga boleh ikut berekspresi dan berkontribusi berupa ikut andil dalam sebuah band trashpunk sendiri seperti saya dengan Ravage. Perempuan juga mampu kok nggak cuman kaum laki-laki aja.
In my opinion, it’s good and salute. Although in fact in a hc / punk scene of all men, women may also participate in expressing and contributing in the form of taking part in a trashpunk band like myself with Ravage. Women are also capable, why not just men.
DewiNawang Wulang with Ravage. Photo take from instagram
Kejujuran lirik biasa dibuat kaum laki-laki, namun Ravage mendobrak batasan itu. Dengan adanya anda, apakah ada perbedaan konsep lirik yang dibuat perempuan dengan laki-laki dalam segi apapun?
Honesty in lyrics is usually made by men, but Ravage breaks that line. With you, are there differences in the concept of lyrics made by women and men in any way?
Perbedaan konsep lirik ya mungkin nggak ada sih, kalao menurutku. Kebetulan Ravage sendiri juga semua konsep lirik lagu tentang kehidupan nyata kayak tentang cinta, masalah, alam, keterpurukan dan lain sebagainya dan itu semua hal yang pernah dialamin semua personel band sendiri. Lalu untuk saat ini Ravage juga belum bikin konsep lirik yang merujuk ke feminisme lingkup perempuan. Jadi kalo menurutku perbedaan konsep lirik itu ngga ada.
There are probably no differences in the concept of lyrics, I think. Incidentally Ravage himself also all the concepts of song lyrics about real life like about love, problems, nature, adversity and so forth and that is all the things that have been experienced by all the band’s own personnel. Then for now Ravage also hasn’t made a lyrical concept that refers to feminism within women’s sphere. So if I think there is no difference in the concept of the lyrics.
Menurut anda apakah perlu eksistensi perempuan dalam scene underground semacam punk, hardcore dan sebagainya?
Do you think it is necessary to have women in underground scenes such as punk, hardcore and others?
Ya perlu lah eksistensi perempuan apalagi dalam scene underground like punk,hc, dsb. Soalnya perempuan yg terlibat di underground khususnya scene hc/punk masih sedikit, Tunjukkan bahwa perempuan itu bisa walaopun kita (perempuan) adalah kaum minoritas didalam scene sendiri. Entah sebagai pelaku dalam sebuah band, bikin karya zine, fotograger seperti itu. Tunjukkan bahwa perempuan itu mampu dan buat kalian perempuan yg sudah terjun didalam scene lanjutkan dan jangan takut untuk tetap maju!!
Yes it is necessary for the existence of women especially in underground scenes like punk, hc, etc. The problem is that women who are involved in the underground, especially the hc / punk scene are still few, show that women can be though we (women) are a minority in the scene itself. Either as a performer in a band, making zine works, photography like that. Show that the woman is capable and for you girls who have jumped into the scene continue and don’t be afraid to keep going !!
Dengan adanya anda di Ravage, apa seorang Dewi Nawang Wulan menginspirasi perempuan lain untuk tidak takut berekspresi?
With you in Ravage, does a Dewi Nawang Wulan inspire other women not to be afraid of expression?
Menginspirasi banget , soalnya teman-temanku ingin juga gitu ikut nonton gigs atau ingin punya band seperti aku, dan mereka sangat mengapresiasi aku sendiri dalam scena hc/punk yg notabene kehidupan di scene yang sudah memiliki stigma buruk dan problematika didalamnya, ternyata tidak seperti apa yg mereka bayangkan setelah mengetahui dari apa yg aku ceritakan. Dan buktinya aku sendiri juga tidak kenapa”, yg terpenting diri kita sendiri bisa memfilter mana yg baik dan yg buruk. InsyaAllah aman.
Very inspiring, because my friends want to watch gigs or want to have a band like me, and they really appreciate me in hc / punk scena which incidentally lives in a scene that already has a bad stigma and problems in it, apparently it’s not like what they imagine after knowing from what I tell. And the proof is that I’m also fine, the most important thing is that we can filter out the good ones and the bad ones.
Ravage Falling Apart EP released by Tarung Record and Here To Stay Rec. Photo take from instagram
Selama di gigs bersama Ravage, tidak takutkah anda “terlukai” selama show?
During the gigs with Ravage, aren’t you afraid you were “hurt” during the show?
Waktu pertama ngband SMA kls 10 dulu pasti takut karena belum terlalu sering main di gigs yang banyak anak moshing dan pogo sana sini. Tapi sekarang sudah terbiasa dan bisa jaga diri serta tau gimana kondisi crowdnya sebuah gigs kalo aku lebih memilih di belakang sendiri atau nggak dibelakangnnya atau disamping yg ngedrum.
The first time you used high school, you must have been scared because you haven’t played too often in gigs with lots of moshing and pogo kids here and there. But now I am accustomed to and can take care of myself and know how the condition of the crowd is a gigs if I prefer to be behind myself or not behind him or besides being shocked.
Apa konsep dari Worthles Words?
What is the concept of Worthles Words?
Worthless Word sendiri mengusung konsep dimana seseorang bicara kata-katanya tidak ada maknanya atau gak jelas sebelum dia berbicara itu harus difikir dulu benar atau tidak kata-kata yang dikeluarkan itu nggak cuma asal ngomong gitu.
Worthless Word means that where someone speaks the words there is no meaning or unclear before he speaks it must be thought to be true or not the words that were issued were not just talking about it like that.
Bisa anda ceritakan keseruan di Jatim Power kemarin?
Can you tell us about the excitement at Jatim Power yesterday?
Seru pol banyak ketemu teman-teman dari luar kota. Dan menurutku konsep Jatim Power ke 4 ini lebih asik karena outdoor dan tertata. Nggak cuman band show aja kayak Jatim Power sebelum-sebelumnya. Di Jatim Power ke 4 kemaren ada workshopnya juga ada live dj , live tatto gitu lebih seru hehe.
Exciting! meet lots of friends from out of town. And I think the concept of Jatim Power 4 is more cool because it is outdoor and organized. It’s not just a band show like East Java Power before. In the 4th Jatim Power yesterday there was a workshop there was also a live DJ, live tattoos were more exciting hehe.
Ravage live at Jatim Power 4. Photo take from instagram
Bagaimana pendapat anda tentang penyensoran di televisi?
What is your opinion about censorship on television?
Menurutku ya tidak wajar , karena konteks menjadi hal yang sangat penting ketika menentukan batasan apakah sebuah tayangan dikategorikan sebagai tayangan pornografi yang harus disensor atau tidak. Namun akhir” ini media elektronik terlalu berlebihan dalam penyensoran seperti didalam kartun Spongebob ada karakter Sandy dan di kartun doraemon ada karakter seperti Shizuka yang bagian tubuhnya disensor karena memakai bikini. Tapi sinetron” yang lain malah nggak disensor.
I think it’s not fair, because the context is very important when determining the limits of whether a show is categorized as a pornographic show that must be censored or not. But the end of this “electronic media is too excessive in censorship as in the cartoon Spongebob there is the character Sandy and in the cartoon Doraemon there are characters like Shizuka whose body parts are censored for wearing a bikini. But Sinetron is not even censored.
Nia Dinata seorang produser film menaruh kepedulian terhadap isu-isu gender, perempuan dan kaum marjinal, apakah anda juga memiliki concern di area itu?
Nia Dinata, a film producer, is concerned about gender, women and marginal issues, do you also have concerns in that area?
Kalau tentang isu-isu gender , dan perempuan aku sangat concern dalam hal itu kalau kaum marjinal belum untuk saat ini.
When it comes to gender issues, and women, I am very concerned about that, if the marginal groups are still not.
Musik yang anda dengarkan akhir-akhir ini?
Which music do you listen to lately?
Musik yang aku dengarkan akhir” ini kayak Torso, Super Unison, Mortality Rate, Slant, War On Woman , Punch, Hatchie, The Marias, Day Wave , Turnover,
The music that I listen to these days is like Torso, Super Unison, Mortality Rate, Slant, War On Woman , Punch, Hatchie, The Marias, Day Wave , Turnover,
Adakah pesan untuk pembaca di webzine terkutuk ini?
Any final comment for this zine?
Support selalu zine-zine lokal dan jangan lupa tetap berkarya untuk kalian yang sedang ingin membuat atau membangun zine/webzine. Dan jangan lupa untuk mengshare ke teman kalian untuk membaca webzine ini!! HAIL ILVSI OPTIK ZINE!!
Always support local zines and don’t forget to keep working for those of you who want to create or build a zine / webzine. And don’t forget to share to your friends to read this webzine !! HAIL ILVSI OPTIK ZINE!!
Kalau ada yang bertanya rilisan fisik apa yang pertama kali saya beli, saya akan menjawab Nemesis – Genocidal Battlefield. Nemesis sudah menemani masa-masa SMA saya hingga lanjut ke kuliah. Untuk pertama kalinya saya memberanikan diri untuk membeli rilisan fisik ditengah keterbatasan ekonomi saya sebagai mahasiswa kost-kosan. Dari lagu “About Eve” saya menyukai band ini hingga mendapatkan beberapa lagu lain seperti Plester Saint, Die Before Old, Your Head In My hand dan Angkara. Tentunya pada waktu SMA saya masih mencari musik dengan download.
Sayangnya hingga hari ini saya belum pernah sekalipun melihat mereka live. Sampai bongkar pasang personil dan memunculkan single terbaru “RISE”, sedetik pun mata belum melihat perform mereka, hanya dibalik screen handphone. Dan akhirnya kebangkitan titan ini menarik hati saya untuk bertanya seputar single terbaru mereka “RISE”:
Apa kabarnya hari ini dan dengan siapa saya ngobrol?
How are you today and who am I chatting with?
Halo mas saya Sendy, kabar alhamdullilah baik2
Hello bro, I’m Sendy, I’m fine
Siapa sajakah member Nemesis dalam formasi RISE?
Who are the members of Nemesis in the RISE formation?
Formasi Nemesis di single baru “RISE” ada Bustarinov – Vokal, Yudi “iduy” – Gitar, Aji – Bass, Fajar “Ibo” – Drum dan Sendy – Gitar
Nemesis Formation in the new single “RISE” are Bustarinov – Vokal, Yudi “iduy” – Gitar, Aji – Bass, Fajar “Ibo” – Drum and Sendy – Gitar
Bustarinov – Voca, Aji – Bassist and Sendy – Guitar. Photo by @yusuffmuhammad
Bagaimana anda menggambarkan RISE dari segi musikalitasnya?
How do you describe RISE in terms of its musicality?
Untuk temen2 yang mengikuti Nemesis dr awal akan merasakan beberapa perubahan dari segi sound, komposisi dan berbagai tambahan instrument lain yang bikin musiknya lebih kaya (ini menurut saya secara subjektif).
For friends who follow Nemesis from the beginning will feel some changes in terms of sound, composition and various other additional instruments that make the music richer (this is in my opinion subjectively).
“..this is who we are.. we will rise..” dari penggalan lirik tersebut apa yang disampaikan?
“… this is who we are … we will rise …” from the fragment of the lyrics what was conveyed?
Kebetulan saya juga terjun sebagai penulis lirik, yang ingin disampaikan adalah bagaimana proses saya menghadapi berbagai perubahan dan masalah2 yang terjadi pada diri saya secara pribadi dan pada Nemesis itu sendiri sampai pada titik saya harus bergerak dan berdiri melanjutkan apa yang saya bangun dari awal. Semoga ini bisa jadi anthem untuk teman2 yang sama2 sedang berjuang dalam hal apapun.
It just so happens that I am also a lyricist, what I want to convey is how my process of dealing with various changes and problems that happened to me personally and at Nemesis to the point I had to move and stand to continue what I had built from the beginning. Hopefully this can be an anthem for friends who are struggling in any way.
Dari RISE, bisa diketahui Nemesis menggunakan logo yang berbeda dari pada logo di album Genocidal Battlefield serta di Demo 2009, apakah ini akan permanen atau hanya sekedar pendamping single RISE?
From RISE, you can know Nemesis uses a different logo than the logo on the Genocidal Battlefield album and in the 2009 Demo, will this be permanent or is it just a companion to the single RISE?
Bukan logo sih lebih tepatnya font baru, sebenernya sebagai sebuah image baru. Kemungkinan akan permanen menggunakan font yang baru.
Not a logo, but rather a new font, actually as a new image. Likely to be permanent using a new font.
Sendy Nugraha from Nemesis and “RISE”. Photo take from instagram
Metal Hardcore, Metalcore, melodic death metal bahkan ada yang mengecap Nemesis dengan ungkapan Swedish Metal, dimanakah posisi Nemesis berada?
Metal Hardcore, Metalcore, melodic death metal and some even label Nemesis with the phrase Swedish Metal, where is Nemesis’s position located?
Metal aja sih saya bilangnya haha
Just metal, I say haha..
Dari pertanyaan nomor 5, perlukah imbuhan genre dan subgenre itu terhadap Nemesis?
From question number 5, do you need to add the genre and subgenre to Nemesis?
Saya pribadi ga terlalu perlu sih, genre metal gede banget apalagi subgenrenya. Biar temen2 pendengar aja yang menentukan.
I personally do not really need it, the metal genre is very big especially its subgenres. Let my listeners decide.
Kalian merilis album Genocidal Battlefield pada 2012 melalui Thorn Music Entertaiment dan distribusi melalui Riotic Record, bagaimana kabar Cdnya? Dan seperti apa antusias penggemar?
You released the album Genocidal Battlefield in 2012 through Thorn Music Entertainment and distribution through Riotic Records, how’s the CD? And what kind of enthusiastic fans?
Alhamdullilah kalo diliat dr penjualan, antusiasnya bagus meskipun terjualnya ga sampe ribuan, cuma sampe hari ini masih ada aja yang beli.
Alhamdullilah when seen from sales, the enthusiasm is good even though it doesn’t sell to thousands. until today, there are still those who buy.
Nemesis – Genocidal Battlefield. Photo take from google
Dalam demo 2009, “Your head on my hand” menjadi “Satu Langkah Perih”, terdapat perubahan komposisi, lirik dalam riff-riff yang kurang lebih sama. Apakah sah-sah saja mengubah seperti itu untuk dikemas ke diskografi selanjutnya? Bagaimana pendapat anda?
In the 2009 demo, “Your head on my hand” became “Satu Langkah Perih,” there was a change in composition, the lyrics in the riffs were more or less the same. Is it legitimate to change like that to be packaged to the next discography? What is your opinion?
Sebenernya perubahan lirik dari YHOMH ke SLP didasari atas bhs inggris yang kurang kena dan kita juga dulu emang pengen nambah lagu bhs indonesia sesimple itu sih.
Actually the change in lyrics from YHOMH to SLP is based on the English language that is lacking and we also used to add Indonesian songs. that simple.
Referensi band dan musik yang anda dengar hari ini sebagai influence dan pesan kepada pembaca.
The band and music references you hear today as influences and messages to readers
Musik2 sekarang saya kurang update kayaknya haha. Mungkin apa yah, Fit For An Autopsy, Soreption, Soilwork, Cradle Of Filth, Copeland yah gitu2 lah paling sama lagi sering dengerin lagu-lagu Gigi sekalian nostalgia haha. Untuk temen-temen pembaca tetap semangat dalam memperjuangkan apapun, hasil akhir baik bukan segalanya namun semua proses akan mengajarkan kita sesuatu yang baik.
I can’t update the music now, haha. maybe, fit for an autopsy, soreption, soilwork, cradle of filth, copeland, like that. Most often listen to the songs Gigi, all at once nostalgia haha. For my readers, keep the spirit in fighting for anything, the good end result is not everything but all the processes will teach us something good.
Kala pertama kali saya mendengarkan Nafrat, seperti merasakan aura Morbid Angel dipadu dengan Immolation dengan sound modern. Saat pertama kali saya melihat show mereka di Boyolali sebagai pembuka tour Immolation, saya takjub dengan sound output yang dihasilkan. Namun terbesit di hati saya muncul rasa tidak percaya dengan “originalitas” skill mereka. Saya putuskan ke belakang stage untuk merasakan feel dari band tersebut. SICK! Mereka benar-benar gila. Suara yang paling orisinil terasa natural disitu. Teringat teman saya berseloroh bahwa gear dari Nafrat bila dijual bisa untuk membeli sebuah rumah di kawasan perumahan.
Selepas acara dan saya sudah mendapatkan legalisir resmi dari Immolation, akhirnya bisa menemui Nafrat untuk ngobrol dan signing rilisan fisik mereka yang sudah saya beli beberapa bulan lalu. Saya bilang pada mereka untuk menginterview dipertengahan bulan, berikut ulasannya:
How are you today? Who is speaking, please?
Bagaimana kabarmu hari ini? Dengan siapa saya berbicara?
Hello. I am Han Shah, the vocalist and guitarist of Nafrat. Thanks for having us.
Hallo, saya Han Shah, vokalis dan gitaris dari Nafrat
Han Shah, from Nafrat. Photo take from Instagram
Abnegation was released by one of the Indonesian labels. We know that every process of making an album has many obstacles. How did you get through this difficult moment?
Abnegation dirilis oleh salah satu label Indonesia. Kita tahu bahwa setiap proses pembuatan album memiliki banyak kendala. Bagaimana Anda melewati saat yang sulit ini?
There were plenty of hurdles during the process such as conflicting work schedules between the members and we could not finish the recording within the timeline that we pictured. Despite all that, we pushed through in the end to get it sorted out and finished it once and for all. Glad that worked out.
Ada banyak rintangan selama proses seperti jadwal kerja yang saling bertentangan antara anggota dan kami tidak dapat menyelesaikan rekaman dalam timeline yang kami bayangkan. Terlepas dari semua itu, kami terus mendorong hingga pada akhirnya selesai dan untuk semuanya. Senang itu berhasil.
Album kedua Nafrat, Abnegation released by Brutal Infection Record. Photo take from Google.com
There are so many changes from the album Throught Imminent Vision with Abnegation, what is the basis for the drastic change?
Banyak sekali perubahan dari album Throught Imminent Vision with Abnegation, apa dasar kalian melakukan perubahan yang drastis?
In my opinion, the overall feel and sound of the album did take a different turn, with the band exploring more darkened elements and some mid-tempo sections written to take the listener into new unexplored territories. At the end of the day, it is still deathmetal and we hope the listeners enjoy our brand of it.
Menurut pendapat saya, keseluruhan nuansa dan suara album itu memang berubah, dengan band yang mengeksplorasi elemen yang lebih gelap dan beberapa bagian mid-tempo ditulis untuk membawa pendengar ke wilayah baru yang belum dijelajahi. Pada akhirnya, ini masih merupakan death metal dan kami berharap para pendengar menikmati karya kami.
Do you care about what other people think about your music changes?
Apakah Anda peduli dengan pendapat orang lain tentang perubahan musik Anda?
A part of us feel that we could only hope that the listener would appreciate our work, embrace the progression. If they love it, that’s great but if they don’t, we hope they would like the next one. Art can be a complicated subject. It is still up to the individual’s choice.
Sebagian dari kita merasa bahwa, kita hanya bisa berharap bahwa pendengar akan menghargai pekerjaan kita, merangkul kemajuan. Jika mereka menyukainya, itu hebat tetapi jika tidak, kami berharap mereka akan menyukai yang berikutnya. Seni bisa menjadi subjek yang rumit. Itu masih terserah pilihan individu.
Nafrat, Throught Imminent Visions album. Photo take from google
With Abnegation Album, you mix old school death metal with modern sound, how do fans respond to that?
Dengan album Abnegation, Anda mencampur death metal oldschool dengan suara modern, bagaimana tanggapan penggemar terhadap hal itu?
The reaction has been positive for the most part. We are glad to hear that fans like the kind of music that we like to play. This kind of positive feedback can only motivate us further to write more interesting stuff ahead!
Sebagian besar reaksi ini positif. Kami senang mendengar bahwa penggemar menyukai jenis musik yang kami suka mainkan. Umpan balik positif semacam ini hanya dapat memotivasi kami lebih jauh untuk menulis hal-hal yang lebih menarik di masa depan!
With the album Abnegation, what do you want to say to many people?
Dengan album Abnegation, apa yang ingin Anda katakan kepada banyak orang?
For those who bought the album, thank you for letting us be a part of your musical journey. It is of great pleasure to to be making music for your extreme ears!
Bagi mereka yang membeli album ini, terima kasih telah mengizinkan kami menjadi bagian dari perjalanan musik Anda. Sangat menyenangkan bisa membuat musik untuk telinga Anda yang ekstrem!
You repeatedly change the band logo. Finally you use the logo by Alex Hoffman. Why did you change the logo?
Anda berulang kali mengubah logo band. Akhirnya Anda menggunakan logo oleh Alex Hoffman. Mengapa Anda mengubah logo?
Not much of a reason. So that it becomes read-able. Haha. Tidak banyak alasan. Supaya menjadi mudah dibaca saja. Ha ha.
Old logo and new logo from Nafrat. Photo take from google
You have also toured in Indonesia, can you tell us interesting experiences during the tour?
Anda juga telah melakukan tur di Indonesia, dapatkah Anda memberi tahu kami pengalaman menarik selama tur?
During our East Java tour last year, we took a ferry from Bali to Lombok and sat on the helipad. The journey was pretty rough as we had never experienced that before and the rain pouring over our heads as we listened to stories from our Indonesian friends. With great company around, we could even forget brutal journeys like that!
Selama tur Jawa Timur kami tahun lalu, kami naik feri dari Bali ke Lombok dan duduk di helipad. Perjalanannya cukup berat karena kami belum pernah mengalaminya sebelumnya dan hujan turun di atas kepala kami ketika kami mendengarkan cerita dari teman-teman Indonesia. Dengan ditemani banyak orang yang hebat, kita bahkan bisa melupakan perjalanan brutal seperti itu!
Nafrat Tour. Photo take from instagram
What is the underground scene in Singapore?
Apa scene underground di tanah Singapura?
Although it is not a big scene here, there have been plenty of bands here putting on good shows. It is interesting however it can be quite challenging to have gigs due to many venues closing their doors and running costs are getting higher. Despite all these challenges, bands both old and new are still coming out with releases which is awesome!
Meskipun ini bukan scene besar di sini, ada banyak band di sini menampilkan pertunjukan yang bagus. Sangat menarik tetapi bisa sangat sulit untuk memiliki pertunjukan karena banyak tempat menutup pintu mereka dan biaya operasional semakin tinggi. Terlepas dari semua tantangan ini, band-band lama dan baru masih keluar dengan rilis yang luar biasa!
Your show while in Boyolali was amazing at the same time as a tour from Immolation. What atmosphere did you get with Metalhead when you were at Boyolali?
Show Anda saat di Boyolali sangat luar biasa sekaligus sebagai tur dari Immolation. Suasana apa yang Anda dapatkan dengan Metalhead ketika Anda berada di Boyolali?
Glad to hear that. Thank you. It was an honour to be opening the show for “Immolation” as they are an influence to our music as well. The rest of the local bands were pretty sick too! We were surprised to see the crowd responding to our set in such a positive manner. The band feeds off from the crowd’s positive energy. We felt that we were right at home during the set.
Senang mendengarnya. Terima kasih. Merupakan suatu kehormatan untuk menjadi pembuka acara “Immolation” karena mereka juga mempengaruhi musik kami. Band-band lokal juga cukup sakit! Kami terkejut melihat kerumunan menanggapi set kami sedemikian positif. Band ini mendapat energi positif dari penonton. Kami merasa bahwa kami di rumah selama bermain
Nafrat live at Boyolali DSR Fest 2019, opening Immolation. Photo by @HITUNGxMUNDUR
A funny little question, does metalhead should have to long hair?
Sebuah pertanyaan kecil yang lucu, apakah metalhead harus berambut panjang?
Long, short or no hair , it doesn’t matter. A metalhead should have his or her own freedom to choose. The lesser the rules the better.
Rambut panjang, pendek atau tanpa rambut, tidak masalah. Seorang metalhead harus memiliki kebebasannya sendiri untuk memilih. Semakin rendah aturan semakin baik.
Finally, a message for readers?
Akhirnya, pesan untuk pembaca?
Thank you for reading this interview. Hope you enjoyed it and continue supporting the underground! Regards,Han Shah
Terima kasih telah membaca wawancara ini. Semoga Anda menikmatinya dan terus mendukung bawah tanah! Regards,Han Shah
Sebelumnya saya memutuskan untuk berhenti sejenak dari blog ini sekiar nyaris tiga bulan lebih untuk fokus ke pekerjaan saya. Pekerjaan yang lumayan menguras banyak pemikiran hingga libur akhir tahun setelah penerimaan raport yang hanya 10 hari saya rasa kurang. Menulis di bog ini bukan pekerjaan utama, melainkan selingan terhadap diri saya yang suka ngobrol saja. Di kota tempatku tinggal mulai dirundung kebosanan karena tidak banyak yang memungkinkan saya ngobrol dengan topik yang berwawasan.
Semua berubah ketika ada pesan masuk melalui whatsapp dari DF Ahmad aka Pipeng dengan jawaban interviewnya beberapa bulan lalu, karena masih dilanda rasa malas, saya belum berniat seutuhnya mengupoad tulisan ini. Termasuk ada band Singapura yang sudah mengirikan jawaban interviewnya melalui e-mail. Namun ketika tulisan ini terunggah MUKJIZAT ITU DATANG MEMBUKA MATA! Simak obrolan bersama Heavy Crust asal Semarang, TIDERAYS!
Sebelumnya saya ucapkan selamat atas suksesnya Tiderays menghantam beberapa gigs di Asia Tenggara bersama AK47, namun sebelumnya bisa perkenalkan dengan siapa saya berbicara?
I congratulate you on the success of the Tiderays show for some gigs in Southeast Asia with AK47, but who am I talking to right now?
Terimakasih banyak! Namaku DF Ahmad, panggil saja Pipeng untuk mempermudah. Salam.
Thank you very much! My name is DF Ahmad, just call Pipeng to make things easier. Regards.
DF Ahmad aka Pipeng. Photo take from instragram
Setelah tour besama AK47 bertajuk, “South East Asia Tour 2019” pengalaman menarik apa yang bisa dibagi disini? Mana gigs yang berkesan bagi Tiderays?
After the AK47 tour, “South East Asia Tour 2019”, what interesting experiences can be shared here? Which gigs are memorable for Tiderays?
Akan sangat panjang apabila menceritakan keseruan tur kemarin dengan format paragraf yang terbatas seperti ini. Secara sinoptik, semua misi tur terlaksana tuntas. Bagi seorang musisi, tak ada hal yang lebih menyenangkan dari musik yang mereka buat bisa didengar dan diapresiasi oleh banyak orang. Pengalaman & ingatan tersebut kita bawa pulang dan akan kita rawat baik2. Tentu saja, disertai motivasi yang berlipat daripada sebelumnya. Keseruan lainnya bisa kalian simak lewat video dokumenter yang sebentar lagi akan kita bagi.
It would be very long to tell the excitement of the tour yesterday with a limited paragraph format like this. Synoptically, all tour missions are complete. For a musician, there is nothing more pleasant than the music they make can be heard and appreciated by many people. We bring these experiences & memories home and we will take good care of them. Of course, accompanied by more motivation than ever before. Other excitement can you see through a documentary video that we will soon to share.
Tiderays tour with AK47. Photo take from instragram
Saya memiliki album kalian “401” yang dirilis oleh Samsrong Records, selamat atas perilisanya. Dari seluruh track yang disajikan, bagaimana anda menggambarkan musik dari album 401?
I have your album “401” released by Samsrong Records, congratulations on the release. Of all the tracks presented, how would you describe the music from the 401 album?
Terimakasih sudah membeli. “401” adalah akronim yang bisa kalian ucap “For No One”. Secara musikal, bunyi apapun yang tertangkap disana adalah hasil dari proses yang organik, kausa dari berbagai perspektif dan fantasi kemarahan. Tentunya untuk mengakomodir atmosfer dan mood tersebut saya terbantu oleh sound engineer dan orang dibalik dapur tata suara. Teknisnya kita kesampingkan saja. Secara lirikal, saya selaku penulis lirik juga diberi kebebasan mengolah gundah. Marah saja.
Thank you for buying. “401” is an acronym that you can say “For No One”. Musically speaking, whatever sounds are captured there are the result of organic processes, causes from various perspectives and fantasies of anger. Of course, to accommodate the atmosphere and mood, I was helped by the sound engineer and the person behind the sound system kitchen. Technically we just leave it aside. Literally, I as a lyricist was also given the freedom to process anxiety. Just angry.
Kenapa memilih judul “401” untuk judul album ini?
Why choose the title “401” for the title of this album?
Soal mengapa memakai kode angka dan diakronimkan itu kupikir hanya perkara estetika memilih diksi saja. Namun “For No One” secara arti pun sudah cukup lugas dan menarik di sisi lain. Hal yang bagus apabila akhirnya banyak orang yang bertanya.
About why using numeric codes and being synchronized, I think it’s just a matter of choosing aesthetic diction. But “For No One” is already quite straightforward and interesting on the other hand. It’s a good thing when finally many people ask.
Dari seluruh track yang tersaji dalam “401” mengalir begitu kuatnya emosi hingga mengoyak batiniah, dimana kunci menyajikan emosi ini dalam delapan track ini?
Of all the tracks presented in “401” flowed so strongly that emotions tore inside, where is the key to presenting these emotions in these eight tracks?
Sederhana. Marah saja. Lalu ngeband.
Simple. Get angry. Then play the band.
Tiderays – 401 released by Samstrong Record. Photo take from instragram
Dari laman akun instagram Tiderays serta booklet, didominasi warna merah gelap, adakah bahasa semiotik visual dari warna tersebut?
From the Tiderays Instagram account page and booklet, dominated by dark red, is there a visual semiotic language of that color?
Sebuah album secara keseluruhan tidak mungkin dikerjakan seorang diri (personel yang ada dalam band). Banyak kerja lintas disiplin yang berkelindan sehingga timbul sinergitas. Saya salah satu yang senang dengan kerja2 kolaborasi, karena dari situ terkadang muncul gagasan yang progresif. Begitu juga untuk pengerjaan album ini, segala aspek album saya komunikasikan dengan rekan yang ahli di ranah masing2. Art director & visual pada album itu saya percayakan penuh pada Afri (Semarang on Fire) dan Garna Raditya (AK//47 & Gargar Art). Saya ngobrol banyak soal konseptual dan mereka yang eksekusi bagian estetika dan kalibrasinya. Mengapa merah? Mungkin kami PKI.
An album as a whole is not possible to do alone (members in the band). Many interdisciplinary work intertwined so that synergy arises. I am one of those who love collaborative work, because from there sometimes progressive ideas emerge. Likewise for the execution of this album, all aspects of the album I communicate with colleagues who are experts in their respective fields. I trust the art director & visual of the album to Afri (Semarang on Fire) and Garna Raditya (AK // 47 & Gargar Art). I talked a lot about conceptual and those who carried out the aesthetics and calibration. Why red? Maybe we are PKI.
Terdapat bonus track ke 9, apa judulnya? Apakah benar itu menggunakan bahasa Indonesia, karena dari semua track “401” menggunakan bahasa inggris?
There is the 9th bonus track, what’s the title? Is it true that it uses Indonesian, because of all the tracks “401” use English?
Cukup urgen untuk dijawab. Betul bahwasanya track ke-9 adalah bonus track, dimana itu adalah cover track dari Life for Anything Else (Semarang) yang berjudul “Lari, Sembunyi, Berhenti, Hilang dan Kembali”. Ada kesalahan dalam cetakan pertama, dimana kita lengah menulisnya dalam credits dan akan kita perbaiki di cetakan kedua. Mengapa memilih lagu tersebut? Itu salah satu yang terkuat dalam kurasi untuk cover track. Artinya memang mereka keren. Sayangnya, sekarang si band sedang hiatus.
Quite urgent to answer. It is true that the 9th track is a bonus track, which is the cover track of Life for Anything Else (Semarang) entitled “Lari, Sembunyi, Nerhenti, Hilang dan Kembali”. There was an error in the first print, where we off guard wrote it in credits and we will correct it in the second print. Why choose the song? It’s one of the strongest curations for cover tracks. That means they are cool. Unfortunately, now the band is on hiatus.
Tiderays live. Photo take from instragram
Apakah anda yakin musik dapat mengubah cara berpikir seseorang?
Are you sure music can change the way people think?
Banyak periset yang sudah mengamini hal itu di segala disiplin ilmu secara komprehensif. Sehingga serampangan rasanya untuk mengakhiri jawaban hanya dengan kalimat yakin tak yakin. Musik bekerja melalui emosi dan menumbuhkan koneksi ke beragam hal yg menopangnya. Jika dikerucutkan ke hal psikologis, itu bisa jadi hal yang paling kentara dan paling mudah diidentifikasi, sesederhana musik dapat menimbulkan mood untuk masing2 pendengarnya. Namun untuk cakupan yang lebih lebar, dalam praktiknya, orang yang melempar propaganda lewat medium musik sudah bukan menjadi barang baru dan kini masih menjadi medium yang masif. Saya salah satu yang percaya bahwa musik bukan sekedar produk kebudayaan.
Many researchers have agreed to it in all disciplines comprehensively. So haphazard it feels to end the answer with just sure sentences not sure. Music works through emotions and fosters connections to the various things that support it. If it is pursed in psychological terms, it can be the most obvious and easiest to identify, as simple as music can create mood for each of its listeners. But for wider coverage, in practice, people who throw propaganda through the music medium are no longer new things and are now still a massive medium. I am one who believes that music is not just a product of culture.
From left to right :Faubyest Duvadilan, DF Ahmad, Ghozy El Yussa, Gresia MN. Photo take from instragram
“Masa depan bisa mirip masa kini, dan kalau begitu maka masa depan juga tidak akan mau mendengarkannya; atau dapat pula masa depan berbeda dengan masa kini, dan kesulitan yang sekarang dialaminya akan tak berarti.”
George Orwell, 1984 Book
Sebuah buku dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam musik. 1984 adalah sebuah band punk gelap yang crusty serta jelas terinspirasi dari sebuah buku karya George Orwell dengan judul yang sama. Semangat punk membara ketika saya melihat di laman sosial media mereka kemarin memposting tentang aksi mahasiswa 24 September 2019 akan sebuah RUU yang tak becus dibuat oleh kelompok terorganisir yang mengatasnamakan perwakilan masyarakat, DPR. Namun disini saya tidak akan membahas aksi tersebut melainkan mencoba menerawang apokalips yang telah muncul terlebih dahulu dalam sebuah buku yang kemudian direpresentasikan ulang dalam sebuah musik. Seperti dalam wawancara 1984 bersama tarung Record, mereka mengatakan : ” Boleh dibilang isu yang kami angkat adalah sebuah hal klise untuk sebuah band crustpunk, namun kami coba menggali lebih dalam tentang makna protes itu sendiri agar tidak terjebak pada sebuah presentasi isu stagnan dan tanpa realisasi karna terlalu muluk. Kami coba mengikuti relevansi perkembangan situasi dan kondisi carut marut di sekitar kita dengan representasi sederhana lewat lirik yang kami hubungkan dari buku karya Orwell tersebut.“
Saya sudah membaca ringkasan buku 1984 dimana saya terteguk ketakutan karena sebuah buku yang ditulis pada 1949 seolah menerawang masa depan. Mempertontonkan masa depan yang pedih. Berbekal kepedihan yang saya alami dengan menambah kesan temaram yang berubah menjadi lava emosi setelah mendengar rangkaian track berbaur rapi dalam lintasan api bertajuk Dystopia EP via bandcamp, saya memberanikan diri mengontak mereka melaui dm instagram untuk membeli rilisan fisik. Nihil, hanya menyisakan DIY boxset dan hasil rujukan disetiap label distribusi mereka tak memberi hasil. Namun tak surut kembali, saya rangkum point penasaran itu dengan obrolan via email oleh salah satu kolaborator 1984:
Saya sama sekali tidak mengenali siapapun yang ada di 1984, siapa sajakah kolaborator dalam 1984?
I don’t know anyone in 1984, who are the collaborators in 1984?
Halo salam kenal, di dalam komunike 1984 ada saya Arief di posisi orator, sedangkan kolaborator yang lain ada Ray di 4 string, Nanang di 6 string, dan Imam pada battery.
Hello, nice to meet you, in the 1984 communique I was Arief in the position of orator (vocalist), while the other collaborators were Ray guitarist, Nanang at the basist, and Imam at the drummer.
Orwellian Crust Black Metal, kalian memberi imbuhan tersebut dari karya fenomenal George Orwell sebagai penegasan tematik dalam pendokumentasian musik bertajuk Dystopia EP. Perlukah penegasan tersebut untuk setiap band agar lebih terspesifikasi?
Orwellian Crust Black Metal, you give that understanding from George Orwell’s phenomenal work as a thematic affirmation in the documentation of music entitled Dystopia EP. Should the affirmation for each band be more specific?
Sebenarnya tidak ada
spesifikasi apapun sih dari kami, kata Orwellian crust black metal
diberikan oleh seorang kawan kami yaitu Reno (deathroned) dan kami rasa itu
cukup menarik untuk Dituliskan pada bio kami, disamping itu apa yang kami ingin
sampaikan adalah membedah kembali ide-ide Orwell mengenai ‘isolasi mental’
dalam sebuah tatanan sosial totalitarianisme modern yang mengkonstruksi alam
bawah sadar kita saat ini.
Actually there aren’t any specifications from
us. Orwellian crust black metal was given by a friend of ours, Reno
(deathroned) and we find it quite interesting to write on our bio, besides what
we want to convey is to dissect Orwell’s ideas about ‘mental isolation’ in a
social order of totalitarianism modern constructs of our current subconscious.
Kembali pada yang kamu
sebut sebagai penegasan, sekali lagi kami tidak memiliki spesifikasi
apapun, tapi itu bebas untuk siapa saja ketika memiliki sebuah band,
kolektif, atau komuni. membuat ‘label’ tertentu sebagai sebuah ‘Label
kekerenan’ menurut apa yang pantas untuk mereka representasikan dan ya.. kami
pun menganut itu secara tidak langsung.
Back to what you call affirmation, we don’t
have any specifications, but it’s free to anyone when having a band,
collective, or communion. make certain ‘labels’ as ‘cool labels’ according to
what they deserve to represent and yes … we embrace it indirectly.
1984 Dystopia EP dalam berbagai format dan aksesorisnya. Photo take by google.com
Ketika semua orang ingin berteriak kebebasanan tapi masih dibayangi ketakutan akan kekuatan oknum atas. Apa menurut anda kondisi saat ini sama dengan apa yang diceritakan George Orwell dalam buku 1984?
When everyone wants to shout freedom but still overshadowed by fear of the power of the person above. Do you think the current conditions are the same as what George Orwell told in the 1984 book?
Seperti yang saya
bilang tadi, Orwell telah berhasil meramalkan sebuah apokalip lewat
tulisannya di tahun 1949 tersebut, bahkan apa yang orwell tulis telah
menjadi sebuah Kitab Nostradamus sekaligus enigma dalam plot twist yang dia
buat, sungguh sebuah karya epic yang relevansinya bisa kita rasakan saat
ini.
As I said earlier, Orwell has succeeded in
predicting an apocalypse through his writing in 1949, even what Orwell wrote
has become a Book of Nostradamus as well as an enigma in the twist plot he
made, truly an epic work whose relevance we can feel today.
Sekali lagi saya sebut ‘isolasi mental’ dibawah kendali Panopticon tidak pernah kita sadari sama sekali apa yang sebenarnya mengontrol kebebasan kita, ‘Freedom is slavery’ Kata itu menjadi kunci yang betapa kita tidak sadar bahwa sebuah kognisi palsu telah ditanamkan sejak dini bahwa hidupmu baik-baik saja, pernahkan kamu berfikir bahwa ketika kamu mengaktifkan ponselmu kamu telah menyerahkan data hidupmu pada sang panopticon untuk diawasi atas nama stabilitas? Sistem sosial ini terlalu banyak ikut campur dari urusan ranjang hingga urusan berpikir secara bebas.
Once again I call ‘mental isolation’ under the control of the Panopticon we never realize at all what actually controls our freedom. ‘Freedom is slavery’, the word is the key that we are not aware that a false cognition has been implanted early on that your life is fine, have you ever thought that when you activate your cellphone you have submitted your life data to the panopticon to be monitored on behalf of stability? This social system interferes too much from the affairs of the bed to the affairs of thinking freely.
Kalian telah melaksanakan amanah sebuah band dengan ritual tour bertajuk “Consuming Pollutan Tour 2019” ceritakan moment-moment seru kalian disana?
You have carried out the tour titled “Consuming Pollutan Tour 2019” tell me your exciting moments there?
Consuming Pollutan
adalah rangkaian ‘sambang dulur’ kami yang kesekian kalinya kami jalani dengan
suka cita, walaupun banyak juga dukanya untuk menjalani sebuah ‘fardhu
ain’ bahwa sebuah band memang sudah seharusnya berani menghajar jalanan a.k.a
tour, tour kemarin adalah ketiga kalinya kami menjalankan aksi
silaturahmi ke beberapa titik untuk bertemu dan bertegur sapa dengan kawan
lama sekaligus memperluas network komunikasi dengan sel-sel aktif baru, cukup
menyenangkan dan selalu ada momen-momen yang memuaskan bagi kami ketika
mendapati ruang diskusi baru dalam tour kami, setiap stage yang kami
jajaki adalah sebuah ruang komunikasi dan diskusi secara kekeluargaan tanpa ada
batasan apapun… Puja dan puji kami haturkan untuk semua organisator yang
menampung kami tanpa tahu siapa kami, respect now!!
Consuming Pollutan is a series of ‘dulur
sambang’ which is the umpteenth time we live with joy, even though there are
also many grief to undergo an obligation that a band really should dare to beat
the streets a.k.a tour. Yesterday’s tour was the third time we held a friendly
gathering to several points to meet and greet with old friends while expanding
the communication network with new active cells, quite pleasant and there were
always satisfying moments for us when we found a new discussion room on the
tour we. Every stage we explore is a family-friendly communication and
discussion room without any limitations … We praise to all the organizers who
accommodate us without knowing who we are, respect now !!
Masih banyak juga
tempat yang belum kita jajaki, mungkin selanjutnya adalah kota kamu…
There are still many places that we haven’t
explored yet, maybe next is your city …
Photo take by google.com
EP Dystopia telah Sold out dalam berbagai format menyisakan format digital yang bisa diakses melalui bandcamp. Bagaimana pendapat kalian tentang EP tersebut hingga soldout? Apakah kalian berekspetasi hingga tahap ini?
The Dystopia EP has been sold out in various formats, leaving only the digital format that can be accessed via bandcamp. What do you think about the EP to the soldout? Do you guys expect to be like this?
Kami tidak pernah
berekspektasi atas ini semua, kami hanya menjalani sebuah kesenangan dan
merayakan festival hidup kami sendiri, sebenarnya EP tersebut masih jauh dari
apa yang kami inginkan dari segi sound terutama, tapi kami anggap EP
‘Dystopia’ sebagai langkah awal untuk menunjukkan eksistensi kami,
sebagai salam pembuka saja.
We never expected all this, we just had a fun
and celebrated our own life festival. actually the EP is still far from what we
wanted in terms of sound especially, but we consider the EP ‘Dystopia’ as a
first step to show our existence, just as a beginning.
Kami sangat berterima
kasih sekali pada para pihak label Tarung records (Jakarta), Forget The Pain
inc. (Malang), Broken Noise records (Malaysia), dan Voirloup productions
(Perancis) untuk mau memanifestasikan rilisan dari komune minor seperti
1984 ini.
We are very grateful to the label Tarung
records (Jakarta), Forget The Pain inc. (Malang), Broken Noise records
(Malaysia), and Voirloup productions (France) who want to manifest the release
of minor communes like 1984.
Photo take by google.com
Kalian merilis “Dystopian Tour Edition” berisikan 5 track dengan tambahan live raw bonus track dalam jumlah terbatas. Dalam bandcamp kalian juga menyertakannya dalam playlist 1984. Apa makna live raw bagi kalian hingga harus didokumentasikan dalam rilisan fisik?
You released “Dystopian Tour Edition” containing 5 tracks with a limited number of additional live raw bonus tracks. In the bandcamp you also included it in the 1984 playlist. What does live raw mean to you that it has to be documented in a physical release?
Hanya ingin mendokumentasikan sesuatu yang mungkin jauh dari kata “profesional” dalam segi sound menurut kami tapi masih tetap mempunyai esensi yang bisa kami sampaikan bahwa diluar sesuatu yang profesional ketika kalian mampu me manage nya dengan baik tetap memiliki pesan dan kesan tersendiri.
We just want to document something that might be far from the word “professional” in terms of sound in our opinion but still has the essence that we can convey that outside of something professional when you are able to manage it well still have its own message and impression.
DIY paper box berisikan 5 track dan raw live track. Photo take by google.com
Dewasa ini banyak sekali band indie yang mampu mengalahkan pamor-pamor band besar dengan label major dan juga banyak musisi mayor berlaih ke jalur independent. Apakah genre-genre minoritas seperti 1984 berambisi memiliki potensi eksistensi seperti itu? Bisa dijelaskan jawaban anda?
Today there are many indie bands that are able to beat the prestige of big bands with major labels and also a lot of major musicians have gone to the independent track. Do minority genres such as 1984 have ambitions to have such potential for existence? Can you explain your answer?
Batasan itu sudah lama runtuh sebenarnya dalam perdebatan mayor atau indie semua sama saja, dalam ranah independen saat ini sudah memiliki banyak memiliki segmen dan sudah menjadi komoditas untuk pasar. Kami tidak pernah peduli dengan itu semua, sekali lagi kami hanya ingin bersenang-senang.
The divider has long since collapsed, in fact in major or indie debates all the same, in the independent sphere now it has many segments and has become a commodity for the market. We never care about it all, once again we just want to have fun
Mengapa genre musik seperti underground dianggap musik setan? Padahal banyak genre yang lebih banyak membawa petaka dibanding metal?
Why are music genres such as underground considered satan music? Even though there are many genres that bring more disaster than metal?
Stigma “judge by
the cover” dalam sosial kita, hal lumrah yang biasa kita dapatkan, society
kita sebenarnya lebih hipokrit daripada yang mereka labelkan pada genre
tertentu, moralitas picisan masyarakat kita gampang tersulut seperti bensin
dalam botol kecap.
The stigma of “judge by the cover”
in our social, a normal thing that we usually get, that our social is actually
more hypocritical than what they label on certain genres. the moral morality of
our society is easily ignited like gasoline in soy sauce bottles.
Apa makna garis horizontal dalam logo 1984?
What is the meaning of horizontal lines, in the 1984 logo?
Crucified by social judgemental and authority.
Beritahukan kepada pembaca apa yang ingin kalian ungkapkan kepada mereka.
Tell the reader what you want to express to them.
The hole was wide
open, keep your eyes open and keep the flame burn the throne.
Untuk pertama kalinya atau mungkin seterusnya, saya menggunakan dua bahasa dalam blog ini. mungkin konsep bilingual dalam penulisan akan menjadi penting karena bisa jadi, blog ini akan diekspos antar negara dari berbagai benua. Siapa yang akan menyangka, saya tidak peduli. Pada intinya apabila ini dibutuhkan demi sebuah eksistensi karya, mengapa tidak? Akhirnya, saya mewawancarai band death metal dari negara dingin Eropa yang mungkin terdengar asing di beberapa kalangan death metal tetapi demo mereka dirilis ulang oleh Reaping Death Record dan sold out. Mari kita sambut inilah, Taphos.
Mendengar nama Taphos pasti lumayan asing di telinga, bahkan mulut orang lokal tak kuasa untuk mencibir. Taphos berasal dari bahasa hellenic (τάφος) juga dikenal sejak zaman purba sebagai Hellas, yang berarti kuburan (Grave). Tidak perlu berbasa-basi dengan saya karena kehadiran mereka sudah membuat saya begitu excited karena untuk pertama kalinya blog ini mendapatkan narasumber lintas negara. Okey, check this out:
Taphos. Photo take by google.com
From the metal-archives.com site your members only use initials. But for now, who am I talking to?
Dari situs metal-archives.com personil kalian hanya menggunakan inisial. Tapi untuk sekarang, dengan siapa saya berbicara?
Hello. This is M from Taphos.
Halo. Ini M dari Taphos.
So what’s the concept, you only use initials?
Lalu apa konsepnya kalian hanya menggunakan inisial?
We only use initials because we don’t want to use our real names.
Taphos from Denmark. Photo take by google.com
Kami hanya menggunakan inisial karena
kami tidak ingin menggunakan nama asli kami.
In 2016 you issued a MMXVI demo, 2017 EP MMXVI until 2018, you released the full album “Come Ethereal Somberness”. For such a fast process, are there any obstacles when working on it?
Ditahun 2016 kalian merilis MMXVI demo, tahun 2017 EP MMXVI hingga 2018, kalian merilis full album “Come Ethereal Somberness”. Untuk proses yang sedemikian cepatnya, adakah kendala saat kalian mengerjakannya?
No there has not been any obstacles
recording and releasing these tapes and vinyls. We are a very productive band
and are in the process of finishing the songs for our next full length.
Tidak ada kendala dalam merekam dan merilis
kaset serta vinyl ini. Kami adalah band yang sangat produktif dan saat ini sedang
dalam proses menyelesaikan lagu untuk album penuh kami berikutnya.
I have difficulty getting a physical release for the album “Come Ethereal Somberness”. Can you tell us what the concept of the album is?
Saya kesulitan mendapatkan rilisan fisik dari album “Come Ethereal Somberness”. Bisa kalian ceritakan kepada kami konsep apa yang ada pada album tersebut?
The concept of the album is to
spread death, despair and darkness with our music. Konsep
album ini adalah menyebarkan kematian, keputusasaan, dan kegelapan dengan musik
kami.
Taphos. Photo take by google.com
Through Blood Harvest, you released “Come Ethereal Somberness” on CD, Cassette, Digipack and Vinyl formats. But you also upload it on the bandcamp site. Do many people still buy physical releases compared to online streaming?
Melalui Blood Harvest, kalian merilis “Come Ethereal Somberness” dalam format CD, kaset, Digipack dan Vinyl. Tetapi kalian juga mengunggahnya dalam situs bandcamp kalian. Apakah orang-orang tetap membeli rilisan fisik meskipun ada streaming online?
When we play shows we sell a lot of records and cds. And sometimes from online
sales, so yes people still collect records, CDs and tapes and buy them to
support the bands.
Saat kami bermain, kami menjual banyak
rekaman dan CD. Dan meskipun adanya penjualan (musik) online, jadi ya orang
masih mengoleksi rekaman fisik, CD dan kaset dan membelinya untuk mendukung
band.
What do you do, if anyone makes the Bootleg version of Taphos?
Apa yang kamu lakukan bila ada yang membuat versi bootleg dari Taphos?
I really hope no one will bootleg
our music. If anyone wants to release our music they can ask us for permission.
But if someone bootlegs our stuff it’s like stealing from the band. And that
fucking sucks.
Saya sangat berharap tidak ada yang akan
merampas musik kami. Jika ada yang ingin merilis musik kami, mereka dapat
meminta izin kepada kami. Tetapi jika seseorang yang membajak barang-barang
kami, itu sama seperti mencuri dari band. Dan itu menyebalkan sekali.
What is the underground scene like in Denmark? can you tell me for readers in Indonesia?
Seperti apa scene underground di Denmark? Bisa kamu ceritakan kepada pembaca di Indonesia?
The underground scene in Copenhagen is very good. We have a lot of great and active deathmetal bands. These are a few of them: Ascendency, Chaotian, Deiquisitor, Hyperdontia, Phrenelith, Sulphurous, Taphos and Undergang. Check them out… they are very good.
Pemandangan bawah tanah di Kopenhagen
sangat bagus. Kami memiliki banyak band deathmetal yang hebat dan aktif. Ini
beberapa di antaranya: Ascendency, Chaotian, Deiquisitor, Hyperdontia,
Phrenelith, Sulphurous, Taphos dan Undergang. Lihat … mereka sangat bagus.
MMXVI Demo tapes which were re-released by Reaping Death records Indonesia sold out here. This indicates that many appreciate the musical of Taphos. Have you ever known the death metal scene in Indonesia?
Kaset Demo MMXVI yang dirilis ulang oleh Reaping Death Record Indonesia sudah habis disini. Ada indikasi banyak orang orang mengapresiasi musik Taphos. Apakah kalian tahu tentang scene death metal di Indonesia?
It’s nice that the reaping death rereleased our demo. I didn’t know it was sold out though. Maybe there should be made some more. And no I don’t know the scene in Indonesia. We were supposed to do a tour there next week. A guy from Singapore tried to book us a tour. But we never heard back from him. That sucks.
Sangat menyenangkan bahwa Reaping Death Record merilis demo kami. Saya tidak tahu itu terjual habis. Mungkin harus dibuat lagi. Dan tidak, saya tidak tahu scene di Indonesia. Kami seharusnya melakukan tur di sana minggu depan. Seorang pria dari Singapura mencoba memesankan tur kepada kami. Tapi kami tidak pernah mendengar kabar darinya. Itu memuakkan.
Kaset Thapos rilisan Reaping Death Record. Photo take by google.com
Are you interested in a tour here?
Apakah kalian tertarik untuk tur disini?
We really want to tour Asia. It
would be amazing for us to come and play your country.
Kami benar-benar ingin tur Asia. Akan
luar biasa bagi kami untuk datang dan bermain negara Anda.
What do you want to say for die hard metal fans in Indonesia?
Apa yang ingin kamu sampaikan untuk die hard metal fans di Indonesia?
Pernahkah kalian sadar bahwa disetiap band yang kalian idolakan memilik berbagai bentuk visual yang menjadi identitas terkonsep dalam mewakili individu atau kelompok bermusik, termasuk musik ekstrem itu sendiri? Sebuah bentuk visual perwakilan itu biasa disebut dengan logo.
Logo menurut http://www.vivalogo.com adalah
sebuah grafik elemen yang secara unik mengidentifikasi perusahaan, produk,
jasa, agensi, institusi, asosiasi, acara, dan lain-lain dengan tujuan
membedakan secara umum pemilik logo ini dari entitas. Logo juga memiliki kepentingan
menghindari kebingungan yang mungkin terjadi pada market, distributor,
supplier, pemakai dan sebagainya. bisa dibayangkan apabila Deicide dan Vader
memiliki bentuk logo yang sama atau Carcass dan Napalm Death memiliki aksen
logo yang mirip. Pasti memberikan kekacauan visual pada ranah underground.
Logo terutama logo dalam ranah kultur
underground beserta extreme metal di dalamnya, merupakan bagian dari karya seni
rupa. Herbert Read dalam bukunya yang berjudul The Meaning of Art menyebutkan bahwa
seni merupakan usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan.
Bentuk yang menyenangkan dalam arti bentuk yang membingkai perasaan keindahan
dan perasaan keindahan dapat terpuaskan apabila menangkan harmoni atau satu
kesatuan dari bentuk yang disajikan. Maka logo extreme metal diciptakan para
pelaku musik tersebut karena kesenangan mereka pada scene ini dengan usaha
menampilkan kesan artistik pada bentuk logo serta sebagai perwakilan visual
musik mereka.
Menurut Sakki Makki dalam majalah
Concept mengatakan bahwa, “Saya ingin menghimbau kepada semua untuk tidak lagi
menggunakan kata logo, tapi menggunakan kata identitas. Kenapa identitas yang
dikedepankan? Karena zaman sekarang kita tidak lagi membedakan hanya dengan
logo”. Saran Sakti yang lanjut memaparkan kalau pada identifikasinya bukan pada
barangnya atau brandnya tetapi lebih pada siapa pemilik barang/brand tersebut.
Logo saja tidak cukup untuk menjadi pembanding karena logo hanya penanda,
sementara identitas itu semakin lama semakin holistik, semakin penting dan
semakin makro. Karena kini logo merupakan marker interpretasi dari sesuatu yang
lebih besar dimana hal itu dimiliki oleh korporasi atau produk.
Kelebihan identitas lebih diutamakan
mengingat identitas yang berbeda diterapkan pada bentuk logo yang berbeda pula
yang menandai suatu waktu atau era. Sebagai contoh kita ambil logo dari
Cannibal Corpse. Logo band oldschool death metal ini memiliki identitas berbeda
pada logo era Chris Barnes atau George Corpsegrinder Fisher, namun memiliki
satu bahsa semiotik yang sama sebagai citra band tersebut yaitu cipratan darah.
Kesan pertama kali yang ditangkap oleh kalangan die hard metal fans oleh band
ini adanya aksen darah yang berlebih pada dua era logo Cannibal Corpse. Akhirnya
identitas “darah” sebagai tanda logo extreme metal tidak hanya melekat pada
Cannibal Corpse saja, contohlah Autopsi, Mortician, Internal Bleeding, Disgorge
dan sebagainya. Dengan demikian identitas dapat membentuk suatu tanda semiotik
visual yang bisa dipakai dalam bentuk logo yang berbeda-beda sebagai penanda
identitas serta karakter band.
Dua logo Cannibal Corpse, sebelah kiri era George CorpseGrinder Fisher sedangkan sebelah kanan era Chris Barnes. Photo take by google.com
Logo pada band extreme metal, hardcore
atau berbagain subgenre underground lainnya sebenarnya tidak sepenuhnya dibaca.
Saya pernah ketika seorang teman yang tidak memiliki latar belakang musik underground
sama sekai berusaha membaca logo di salah satu poster yang tertempel di kamar.
Dari situ saya menyimupulkan bahwa, sebenarnya logo pada band metal tidak
sepenuhnya untuk dibaca, melainkan diingat. Diingat dalam arti mengamati bentuknya,
menandai setiap karakter dari tiap element logo tersebut bahwa logo dengan
karakter ini adalah milik band ini.
Menurut Nico A. Pranoto, Ketua ADGI
(Asosiasi Desain Grafis Indonesia) Jakarta chapter 2006-2007, logo memiliki
banyak varian tapi memiliki tiga dasar yaitu Logotype, Logomark dan gabungan
Logotype dengan Logomark.
Logotype Logotype merupakan kata atau nama produk yang dibentuk dengan unsur tipografi. Dalam scene underground, kebanyakan band menggunakan logotype dalam logo bandnya dengan berbagai bentuk tipografi yang berbeda-beda sesuai identitas dan konsep masing-masing. Beberapa band dengan logotype yang terkenal band lawas seperti Nile, Pestilence, Monstrosity, Obituary hingga band extreme metal modern seperti Severed Savior, Gorod, Misery Index, Cerebral Effusion dan sebagainya.
Dismember, death metal asal Swedia yang turut mempopulerkan sound ala gergaji mesin dengan Boss HM-2. Logo mereka termasuk dalam kategori logotype. Photo by google.com
Logomark Logomark adalah logo yang menggunakan ilustrasi atau icon (ilustratif atau inisial). Logo ini menggunakan icon-icon yang sesuai dengan konsep dan tema yang diusung. Tidak banyak band extreme metal yang menggunakan logomark dalam penempatan identitas band. Kebanyakan beberapa band menggunakan logomark sebagai logo sekunder yang bersifat alternatif pendamping logo utama pada aspek-aspek tertentu, bisa pada album, merchandise, fanpage dan sebagainya. Beberapa band yang menggunakan logomark sebagai logo sekunder contohnya Suffocation pada album Suffocation atau Sepultura yang terkenal dengan logo “S” nya atau Decapitated pada salah satu merchandisenya.
Logomark dari band thrash metal asal Brazil, Sepultura. Logo ini menjadi ikonik di seluruh dunia. Photo by google.com
Gabungan Logotype dan Logomark Penggabungan logotype dan logomark menjadikan sebuah logo tampil komplit karena hadirnya tipografi dibarengi dengan icon yang muncul. Terdapat beberapa band yang menggunakan konsep logo ini yang dinilai memberikan kesan kuat akan konsep band yang diusung. Contohlah sejak jaman 80-90’an Slayer, Mayhem, Morbid Angel, Possessed, Death, Unleashed, Nocturnus, Vital Remains sampai pada band penerusnya seperti Lost Soul, Necrophagist dan sebagainya.
Nocturnus, band death metal asal Tampa, Florida ini menampilak gabungan logomark dengan logotype. Photo take by google.com
Ponorogo dikenal dengan kota budayanya yang kental. Sebut saja Reog Ponorogo yang mendunia. Hingga Dinas Pendidikan setempat menjadikan Reog sebagai muatan lokal di materi pelajaran di sekolah. Namun saya tidak sedang membahas Reog melainkan salah satu band dari kota tersebut, VANAGANDR.
Saya mengetahui band Vanagandr dari laman musik dari Ponorogo benbenan.com. dari situ lah saya penasaran dengan band tersebut. Setelah dilirik-lirik, saya tak asing dengan sang vokalis yang notabenenya adalah ilustrator yang pernah saya interview untuk Nerograph Zine issue 2. Beliau adalah Arga Kurnia.
Sayangnya saya belum pernah melihat mereka live dimanapun mereka manggung. Termasuk saat mereka berkunjung di Ngawi. Mungkin suatu saat saya dapat menyaksikan mereka live. Untungya saya memiliki rilisan fisik mereka dari EP perdana mereka yang diberi title “Void Dimension”.Atas rekomendasi Arga, sesi ngbrol saya lakukan bersama sang gitaris, Gigih, let’s fly:
Vanagandr. Photo take by google.com
Terdapat tiga track dalam album Void Dimension. Karena dirilis dalam format slipcase dan tidak terdapat lirik, apa pesan dari track Acid Dive, Collision dan Badtrip?
Sebelumnya terima kasih kepada Ilvsi Optik zine sudah sudi menginterview band kampung kami ini dan sukses selalu untuk mas Delta. Kembali ke pertanyaan yg benar terdapat 3 track di ep. Void Dimension. Untuk lirik akhirnya kami rilis di bandcamp. Dan pesan dari track Acid dive sendiri tentang awal perjalanan spiritual. Untuk bisa mengontrol diri dengan semesta. Dalam reff kami tekankan anda bisa terbang tinggi seperti dewa mabuk. Tapi anda juga bisa bisa terjatuh seperti bangkai busuk. Kalau untuk track dari Collision sendiri menceritakan tentang perjalan percampuran 3 elemen udara lanjut air lanjut kimia. Dan track terakhir yaitu Badtrip sendiri menceritakan tentang keadaan kacau jika kita tidak kontrol atas semua perbuatan. Dan tak akan bisa melakukan perlawanan walau terasa siksaan tak akan berakhir.
Vanagandr, Void Dimension EP. Photo take by google.com
Sound yang berat nan lambat, vocal yang terdengar delay, doom yang terasa. Bagi anda, bagaimana cara yang ideal mendengarkan Void Dimension?
Untuk waktu ideal mendengarkan Void Dimension sebenaranya bebas mau kek gimana. Lebih enak lagi kalau didengarkan dengan posisi kayang antau sikap lilin pasti lebih bisa meresap semua. Hahaha
Siapa yang menciptakan logo Vanagandr? Apakah ada makna di pusaran kecil dalam huruf D tersebut?
Untuk
logo vanagandr dibuat oleh vokalis kami Arga Kurnia. Menurutnya makna dari
pusaran kecil tersebut adalah penggambaran pintu masuk menuju void (ruang
hampa) dimana kita bisa “nyuwung” dan berdiskusi dengan diri kita
sendiri.. haha hanya bercanda, sebenarnya dalam proses membuat sebuah karya
visual saya tidak pernah memikirkan atau mencari cari makna atau pesan2. Semua
mengalir begitu saja.jadi kalau ditanya apa makna dari ini dan itu. Saya suka
bingung.
Vanagandr logo yang diciptakan oleh Arga Kurnia. Photo by Instagram @vanagandrrr
Di kanal Youtube kalian, terdapat video dengan iringan track “Badtrip” apakah itu videoclip atau bagaimana kalian menjelaskanya?
Ya
benar itu sebenarnya kami upload awal untuk memperkenalkan single dari EP Void
Dimension itu sendiri. Dan kebetulan dengan keterbatasan tidak bisa membuat
video lirik maka kita hanya menggambarkan pesan dari track Badtrip itu sendiri.
Dengan seolah seperti perjalalnan lalu akhirnya kacau lalu dengan akhir yg
tambah kacau dengan tempo yg lebih pelan dan berat. Semoga saja bisa menggambarkan maksud dari
track Badrip itu sendiri
Vanagandr live. Photo take by google.com
Seberapa besar pengaruh Dragonaut dari Sleep serta Black Sabbath hingga kalian mengkovernya saat live?
Sangat
besar sekali yg kebetulan itu salah dua band pujaan kami. Dan pemilihan lagu
dari band tersebut karena kami merasa untuk mempertegas maksud Void Dimension
itu sendiri
Seperti apa scene musik Ponorogo?
Seperti biasa scene kota ketiga dengan sedikit akamsi yg hanya bisa berjuang sekuat tenaga dan biaya untuk masih bisa mempertahankan scene kolektif itu sendiri. Tapi tetap salut untuk teman teman scene dari Ponorogo bisa menjadi satu tanpa memandang genre dan umur dan terimakasih dari teman” luar kota yg sudah pernah singgah ke ponorogo. Semoga kita bisa bertandang ke kota kalian suatu saat.
Vanagandr live. Photo take by google.com
Kalian merilis “Void Dimention” dalam bentuk CD, apa dampaknya terhadap band antara merilis rilisan fisik dengan format digital?
Kebetulan
dari semua rilisan kami tak menyangka jika teman” bisa merespon karya kami
yg alakadarnya ini dengan baik. Terimakasih semua. Untuk rilisan fisik banyak
teman dalam kota dan luar kota yg memesan dan dari 50 keping semuanya bisa ludes.
Dan untuk format digital sendiri lewat bandcamp juga ada yg membelinya walau
hanya beberapa orang. Tapi itu sudah pencapaian yg bagus bagi kami karena band
pertama yg rilis lewat bandcamp dan ada yg membelinya untuk band ponorogo
sendiri
Serta selamat atas debut Split EP kalian bersama Selfexile. Bisa diceritakan awal mula kalian split dengan band Selfexile asal Sokolov, Czech Republic?
Karena
sebelumnya kami mencoba menawarkan split dengan teman antar kota dan banyak
kendala. Akhirnya dengan keisengan dan bantuan dari teman kami Neoan yg mencoba
iseng mencari band sejenis vanagandr di Bandcamp. Akhirnya ketemu dengan
Selfexile dan coba berkontak lewat email. Tak sampai disitu ternyata setelah
bertukar track dan berdiskusi akhirnya disepakati untuk membikin split
Cannabisoid itu sendiri.
Spilit EP bersama band asal Czech Republic, Selfexile. Photo take by google.com
Di Indonesia masih banyak oknum yang sensitif dengan barang haram narkotika, namun Split kalian dinamai “Canabisoid”, bisa dijelaskan konsepnya? Apa kalian tidak takut terjadi sesuatu, ditangkap aparat mungkin? hahahaha #Lol
Kebetulan
nama split Cannabisoid itu rekues dari teman teman Selfexile sendiri dan
menurut kami bagus juga. Maka disepakati diambil Cannabisoid itu sendiri. Untuk masalah itu
sebenarnya kami samarkan di ep kami Void Dimension dulu dengan tidak terlalu vulgar.
Takut sebenarnya ada karena di Indonesia sendiri masalah kecilpun bisa sekali
dibesar”kan. Tapi semoga tidak ada apa” saja ya doakan. Hahaha
Apa anda setuju pemusnahan ganja dengan dibakar?
Sebenarnya
itu bukan pemusnahan lebih tepatnya menikmati ganja bersama sama kalau dibakar.
Hahaha
Last question, ada yang ingin anda suarakan kepada para pembaca?
Untuk
para pembaca semoga tetap mengutamakan budaya membaca dan tetap jalin
pertemanan sebanyak banyaknya
Di era saya mengenal musik underground, saya tertarik dengan salah satu genre yaitu Hardcore. Sama seperti saaat saya membahas bersama Mashedbrains, saya selalu bersemangat di arena moshpit kala itu untuk berkarate kid hahahaha. Namun seiring berjalannya waktu, di tahun 2016 hingga kemari saya menemukan sudut pandang berbeda dalam musik hardcore. saya menemui era hardcore yang gelap selaras dengan emosi yang kelam. Salah satu band yang menarik perhatian saya yaitu, DISPOSED dari Malang.
DISPOSED. Photo take from Instagram
Sewaktu mendengar band Disposed, saya belum tertarik untuk memiliki rilisan fisik band tersebut. Lalu saat saya ngobrol santai dengan Micco Rulyanto, saya sempet tanya dengan beliau karena disalah satu postingan sosmednya dia memakai kaos Disposed. Micco bilang materi mereka bagus, bahkan ia menegaskan kepada saya kalau suka musik yang gelap saya dijamin pasti suka. Karena Micco bilang begitu, saya mencoba untuk mencari tahu rilisan fisik Disposed yang kabarnya CD mereka yang dicetak secara self released sudah habis. Apa daya saya hanya bisa streaming di laman bandcamp mereka yang menyisakan satu single “Two Meters” serta cuplikan EP yang singkat di youtube.
Tetapi takdir berkehendak lain ketika label asal kediri, Resting Hell merilis ulang EP mereka yang bertajuk “Penumbra”. Sedikit cerita yang fun saat saya berusaha memiliki CD tersebut. Kala itu saya mengetahui beberapa titik distribusi EP Penumbra salah satunya di Madiun. Dari Ngawi saya mengontak Fazz Store selaku titik dari Madiun. Ownernya mengiyakan namun jam tutup hingga pukul 22.00, alhasil saya dari Ngawi berangkat pukul 18.30 bergegas menuju Madiun. Namun nass, hujan lebat melanda hingga pakaian basah kuyup tidak karuan hingga perjalanan yang hanya 30 menit memakan waktu hingga lebih dari 1 jam yang mana harus berteduh beberapa kali karena naik motor sendirian. Sesampai di toko, saya disambut sang owner Mas Ando yang mungkin beliau merasa kasihan hingga niatan saya untuk beli rilisan fisik disambut dengan teh hangat dan cemilan sembari menunggu hujan reda demi sekeping EP dari band Malang tersebut.
Seiring berjalannya waktu hingga saya menyadari Disposed merupakan band favorit dalam playlist dan saya memiliki riwayat khusus dalam memiliki CD mereka, kenapa tidak untuk mengontak salah satu membernya untuk membahas beberapa pertanyaan ringan dan fun? Akhirnya dengan bantuan Micco saya dapat menghubungi salah satu personilnya, Riko Andreas dibantu sang vokalis, Yuslih. Berikut ulasannya:
Riko Andreas from Disposed. Photo take from Instagram by @vikyzulkifli
Bagaimana kabar Disposed sekarang. Setelah saya amati kalan update terakhir show 28 April di Pasuruan?
Riko : Saya Riko dari Disposed saya akan dibantu Yuslih (vokalis Disposed) , Langsung ke Jawaban dari pertanyaan nomer 1. Kabar kami baik, tentu akan ada beberapa show lagi di bulan ini, bahkan kami sedang menyiapkan materi beberapa lagu nanti nya yang akan dijadikan EP (lagi) atau Full Album kami masih belum bisa memastikan. Yang pasti kami sedang meng-garap materi ditengah kesibukan personil Disposed.
Yuslih, Vocalist. Photo take from Instagram by @mengenaskan
Mengapa “Penumbra” sebagai perwakilan wujud kata rangkuman track gelap kalian?
Yuslih : Maknanya kami ingin menciptakan alunan musik dengan nuansa bias. Lirik dan nada2nya pun tidak melulu yg ngeri2. Arti kata penumbra kalau di proyeksikan ke lagu yg kami buat jadi seperti lebih ke bersentuhan dengan cahaya (kehadiran) dan ketiadaan cahaya (kehampaan)
Mengapa hanya sebatas EP (Extended Play), mengapa tidak full album mengingat seluruh track hardcore nan gelap ini memukau memberikan asupan ledakan liar diantara gemerlap cahaya blantika musik yang didominasi lagu cinta?
Disposed – Penumbra EP. Photo take by Instagram.
Riko : Sebenarnya karena Disposed sendiri masih dibilang band baru kami lebih suka mengenalkan profil Disposed melalui EP ketimbang Full Album, sekedar hanya utk memberi salam kepada para pendengar bahwa inilah Disposed dan seperti ini musik nya.
EP kalian Penumbra dalam format CD dirilis secara independent sebelum dirilis oleh Resting Hell, apa perbedaan diantara keduanya?
Riko : Perbedaan hanya dalam bentuk format nya saja, Disaster Records dalam bentuk kaset, Lalu kami dan Resting Hell dalam bentuk Compact Disc (CD).
EP format CD yang dirilis secara independent, kemudian dirilis oleh Resting Hell. Belum lagi dirilis oleh Disaster Record dalam format kaset, apa yang mendasari kalian untuk tetap merilis rilisan fisik ditengah maraknya streaming lagu online yg kualitasnya setara rilisan fisik?
Riko : Ya semua musisi pastinya akan merilis fisik semua album atau karya nya. Mungkin karena di lingkungan kita juga masih banyak yang mencintai rilisan fisik apalagi band temen sendiri kesan nya harus punya nih. Memang era streaming sudah sangat berkembang tapi rasa ingin memiliki rilisan fisik teman2 saya jauh lebih besar. Appreciate it! Tidak memungkin kan juga nanti disposed akan memasuki dunia streaming juga kok. Tp setelah EP album dari kami sold out, tujuan nya satu hanya ingin memudahkan para pendengar saja yang ingin mendengarkan karya kami dimana saja.
Penumbra EP cassette version released by Disaster Records. Photo take by Instagram
“Diaspora” merupakan satu-satunya track berbahasa Indonesia diantara track lainnya yang menggunakan bahasa asing (bahasa Inggris), adakah konsep tertentu dari hal tersebut?
Yuslih : Sebenarnya konsep spesifik dari tiap lagu gak ada karna dalam ep penumbra. Lagu2nya saling berkaitan jadi semacam cerita yang di episode kan. Semua lirik sebenarnya berangkat dari bahasa ibu yakni bahasa indonesia yang kemudian kami rekonstruksi ulang menjadi kalimat2 yg mudah diingat dalam bahasa inggris. Hanya saja untuk diaspora, kami kebingungan untuk merekonstruksi ulang ke dalam bahasa inggris karna kami rasa, diaspora akan sangat cantik kalau tetap pada bahasa asli.
Ada objek menarik dalm cover album kalian, terdapat burung (dalam pengamatan saya burung gagak) dalam art kalian, adakah pesan dari bentuk visual tersebut?
Riko : Pesan artwork tersebut seperti yin dan yang, ada hitam ada putih, ada sisi baik ada sisi buruk, antara bulan dan gagak, inti nya lebih menceritakan sisi manusia saja. Kadang kita berbuat baik dan sangat buruk. Otomatis art burung gagak yang ada di cover penumbra tidak lain menggambarkan sisi gelap manusia.
Photo take by Instagram
Siapa yang menciptakan logo keren Disposed?
Riko : Kebetulan yang bikin logo anak” Disposed sendiri di rembuk secara bersama.
Disposed logo. Photo take by google.com
Sebutkan 5 band luar negeri beserta albumnya yang menjadi influence kalian?
Riko : Mungkin lebih saya kerucutkan melalui sudut pandang influence Disposed saja ya biar simpel , toh kita satu selera hehe, Disposed sendiri pada awalnya sangat meng-influence kan band2 seperti Nails, Weekend Nachos, Implore, Trap Them, Black Breath dan tidak menutup kemungkinan materi baru kami akan sedikit merubah influence kami.
Terakhir, yang ingin anda sampaikan kepada pembaca?
Riko : Terakhir pesan ya, hmm ini agak ribet nih. Tetap beli rilisan fisik album teman kalian agar keberlangsungan dalam suatu band tetap berjalan, kunjungi gigs” kolektif yang diadakan teman kalian tiap weekend biasanya, support terus movement teman kalian seperti kalian mensupport artis yang bahkan kalian tidak kenali. Dan pastinya nantikan gebrakan terbaru dari kami! Stay safe!
Entah kenapa saya ingin memposting hasil obrolan dengan teman saya, Sickgit Sick. Dimana hasil obrolan ini ditulis dan diterbitkan secara independent oleh Zine beliau.
Semoga hasil obrolan ini bermanfaat bagi banyak orang sekalipun ini sudah berlalu sekitar 2017 lalu. Terakhir saya ber karya dalam bentuk rupa yaitu sebuiah peta untuk give setiap pembelian album kedua Paranoid Despire, Majasty. Maka apabila kalian heran kenapa saya tidak berkarya,mungkin jawabannya:
Apakabar bro delta a.k.a pak guru. Haha ?
Hahaha, Alhamdulillah baik.
Apa kegiatan kamu akhir2 ini? Kapan nih turun kejalan bareng lagi? ahaha
Selain sibuk dengan kerjaan mengajar, saya tertarik untuk bikin film pendek. Saya pribadi minta maaf saat turun ke jalan saya gagal untuk ikut karena ketiduran padahal kita sudah janjian untuk turun ke jalan bareng.
O ya, sebagai seorang artworker metal dan seorang guru kesenian juga nih, pernah nggak kamu merasa bosan menjalani rutinitas term kerja jadi guru dan mengajar kayak gitu?
Untuk berkarya artwork sendiri
yang lebih ke ilustrasi metal sedikit saya kurangi. Bukan berarti saya berhenti
tapi saya tidak ingin berkarya karena mengejar profit tapi ingin berkarya
dengan apa yang benar-benar
terkonsep. Maka, saya sementara menggambar sesuai dengan mood. Jadi
jarang untuk upload-upload gambar.
Untuk rutinitas sebagai guru, saya Alhamdulillah merasa tidak terbebani. Sharing dan bertemu dengan murid-murid terkadang hal yang menyenangkan dan menyebalkan dimana dapat membuka perspektif baru bagi saya pribadi. Sedikit banyak menjadi guru dapat menemukan hal-hal baru bagi saya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Subandiyo, Guru seni budaya SMA Negeri 3 Boyolali dan Hyan Rizky Kurniawan, teman saya kuliah yang menemukan passion saya dalam mengajar.
Apa upaya yang kamu lakukan saat bosan atau mentok dalam membuat karya?
Beribadah, mendengarkan musik, pergi ke luar alias hangout juga browsing-browsing internet. Biasanya ngobrol dengan teman-teman, tetapi adanya pengaruh generasi wifi membuat intensitas ngobrol menjadi berkurang hahahahaha…
Bagaimana pendapatmu tentang zine personal sendiri?
Saya rasa zine personal lebih “personal” dalam artian kualitas zine itu sendiri hanya dapat dinilai bagi mereka kekuatan ideologi personalitasnya sama. Dengan begitu pelaku zine personal itu akan dapat terbuka diri menanggapi personalitas yang sama dengan pelaku zine personal lainnya.
Kapan nerograph zine ke-3 rilis?
Harusnya bulan april lalu sudah rilis, namun dua narasumber yang saya wawancarai mengajukan revisi untuk pertanyaannya hingga saya harus menulis draft pertanyaan lagi. Padahal layout, cover, konsep, konten sudah siap. Tapi tidak masalah, bagi saya justru ini tantangan untuk menciptakan list pertanyaan yang menarik bagi interviewer agar mereka tertantang untuk berpikir dalam menjawab pertanyaan saya agar Nerograph Zine issue 3 lebih menarik. (Yang mana tidak akan pernah dirilis karena sudah beralih menjadi Webzine seperti ini #Lol)
Saya lihat kamu cukup memperhatikan perkembangan scene musik lokal. Bagaimana pendapatmu tentang scene musik lokal ngawi sendiri?
Saya tidak begitu banyak mengikuti musik-musik di Ngawi kecuali dalam scene underground. Meskipun tidak seramai dulu, masih ada event dan band yang masih konsisten di scene tersebut.
Balik lagi nih soal dunia artwork, siapa yg berperan besar dalam mempengaruhi kamu terjun ke dunia coret-mencoret artwork?
Sejak SMA saya tertarik dengan gambar-gambar seram dan jelas tentunya inspirasi saya Mark Riddick. Seiring berjalannya waktu saya membuat banyak karya-karya diluar ilustrasi tersebut. Akhir-akhir ini saya tertarik melihat arca, ukiran, relief candi. Juga melihat karya-karya kebudayaan kuno di Indonesia maupun mancanegara.
Inspirasi dalam menggambar? Lokal maupun interlokal alias luar negeri?
Mark Riddick, Toshihiro Egawa,
Par Ollofson, Dan Seagrave, Rukmunal Hakim, Darbotz dan masih banyak lagi.
Apa tangapanmu tentang orang-orang yang punya paham menolak kerja untuk orang lain/korporasi? Karena saya lihat mereka lebih mengikuti hasratnya untuk lebih mengikuti kehendak mereka sendiri…
Saya sendiri tidak bisa berkata
banyak mengingat saya juga bekerja untuk orang lain. Namun terkadang muncul
keingingan untuk menjadi diri sendiri dalam bekerja. Maka solusi yang tepat
untuk hal ini adalah just do it. Lakukan saja hal tersebut asalkan berguna bagi
orang banyak dan kehidupan baik di dunia maupun akhirat kelak.
Apa yg kamu pikirkan tentang passion?
Passion itu naluri dan kata hati,
satu-satunya yang membuktikan itu passion atau tidak hanyalah waktu. Apabila
dia tetap konsisten menjalani kata hatinya yang menghasilkan karya terbaiknya
dari waktu-ke waktu, Itulah passion.
Saya dengar kamu mulai mendirikan label sendiri dengan membuat project2 film pendek, bisa ceritakan sedikit?
Saya tertarik untuk bermain-main
sinematografi akhir-akhir ini karena saya juga membina ekstrakurikuler film
pendek disekolah. Label tersebut bukan label yang terlalu serius, hanya sebuah
nama lain saya ketika saya berkarya video.
Saya merasa di era digital ini sebagian besar anak-anak muda mulai tidak lagi mengenal rilisan fisik karena adanya internet. Entah itu buku, kaset, CD, booklet, dsb. Mereka lebih dimanjakan dan disita masa produktifnya oleh media sosial. Apa tanggapan bro delta tentang fenomena ini?
ONLY PHYSICAL RECORD IS REAL.
Tergantung lingkup yang mana mereka mengenal rilisan fisik. Ketika kamu tumbuh
di lingkungan underground dengan death metal, thrash metal dan semuanya,
rilisan fisik akan sangat berarti bagi di hard metal fans. Karena jejak-jejak
luhur para sesepuh musik di scene tersebut tercipta dari demo-demo rilisan fisik
berupa kaset. Namun ketika kamu tumbuh dengan musik yang tidak mengenal rilisan
fisik katakanlah mereka terdongkrak karena popularitas panggung. Para
penikmatnya akan kesusahan mengenal sebuah konsep rilisan fisik.
Konsep rilisan fisik tergantung pada era dan jangkauan pencipta itu
sendiri. Pada awal-awal saya mengoleksi rilisan fisik, saya cukup gencar
mempromosikan BUY PHYSICAL RECORD tapi tuntutan zaman dan mindset membuat saya
sadar tidak semuanya dapat memahami makna rilisan fisik. Tetapi bagi mereka
yang terbiasa dengan rilisan fisik, hal-hal yang hanya berupa digital akan
terasa hambar untuk dimiliki.
Kapan morticinum addled reuni? Hahaha
Saya juga berharap sekali kita
reuni. Tidak hanya dari personil baru
tapi juga personil lama. Hanya tuhan yang menjawabnya dengan waktu hahahaha..
saya berpikir untuk mengkover dissnya yonglek. hahahaha
Satu kata tentang TV?
Sebuah pembodohan massal yang
terorganisir rapi bagi mereka yang menerima segala macamnya tanpa filterisasi
untuk dirinya sendiri. Dipublikasi
secara repetitif. Mendominasi mindset banyak orang. Leih cepat dipercayai
ketimbang mengkaji ulang kembali. Bukan untuk dihindari saat kalian melihat TV,
tapi memfilter segala apa yang TV suguhkan.
Pencapaian tertinggi kamu saat ini?
Saya rasa tidak ada. Saya tidak
mau menganggap suatu hal yang saya kerjakan sebagai pencapaian tertinggi. Saya
takut membandingkannya dengan masa lalu sehingga ketika saya berkarya untuk
masa depan terganjal karena pengetahuan dan batas capaian tertinggi di masa
lalu.
Pernah nggak ngerasa gagal? Dalam hal apa? Atau cerita kejadian freak juga boleh…
Kalau saya tidak gagal, saya tidak mungkin menjadi diri saya yang saat ini.
Terkadang gagal itu adlah hal yang penting untuk mengetahui batas kekurangan
kita. Hanya saja kita tertanamkan paham bahwa gagal itu memalukan dan mindset
orang kebanyakan ketika melihat kegagalan adalah marah dan mencibir kegagalan
itu. suatu mindset yang membuat saya geli karena ketika orang bangkit dari
kegagalannya dan sukses, baru orang-orang sadar atas pencapaian orang tersebut.
Terkadang ini yang harus saya tanamkan pada diri saya untuk tetap menikmati
suatu proses, apapun itu.
Kejadian freak cukup banyak, mengingat saya adalah orang yang berusaha
berbeda dengan lingkungan saya. Yang sampai saat ini saya teringat adalah saya
selalu diangap seumuran dengan murid-murid saya jadi di acara-acara seremonial
sekalipun orang tidak percaya kalau saya adalah seorang guru.
Bagaimana cara kamu menjaga mood tetap stabil selama berkarya, boleh dong bagi tips? Hehehe
Saya tidak punya cara tertentu untuk mendorong mood saya kembali.
Hahahaa… karena ketika bosan saya juga masih bingung untuk melakukan apa.
Sampai di penghujung nih, ada nggak pesan & kesan untuk mas editor ini? Haha
terus berkarya, belajar dan banyak-banyak berdoa. Hahahahaha..
Apapun yang terjadi pada scene death metal, kita seharusnya menghargai bagaimana sikap para pendahulu death metal dalam memulai karya mereka dengan meracik sound-sound awal death metal. Seperti kemarin saat saya meet and greet dengan band Immolation di Boyolali, saya bertemu dengan bapak-bapak membawa kaset pita bertuliskan “Immolation ’88” spontan saya bertanya itu apaan dan ternyata itu demo Immolation di awal karir mereka.
Dari Richard Johnson, editor Disposable Underground zine, disalah satu zinenya yang saya baca keluaran 1990. saya mendapati Richard sering membeli demo-demo band 90’an seperti Abominog, Atheist hingga band besar layaknya Cannibal Corpse era Chris Barnes. Ternyata band-band death metal purba itu mengeluarkan demo untuk dijual kepada kalangan atau sekedar dibagikan cuma-cuma kepada sahabat dekat. Mungkin sama seperti Rotten Corpe dari Malang yang membagikan demonya secara cuma-cuma yang secara rehearsal direkam di studio Oase era 90’an.
Menurut Vice Indonesia pula, tahun 2018 adalah kebangkitan death metal lama era 80’s dan 90′ dimana banyak band-band muda yang terkadang tidak terlahir di era tersebut membawakan musik-musik dengan style khas band-band lawas. Suasana seram, gelapnya kematian, sadisme, okultis, anti religion dan berbagai imbuhan kematian lainnya khas death metal lama mucul kembali. Saya teringat wawancara Andre Tiranda dalam Abominasi Zine, ” Seram. Kalau ga seram berarti ada yang salah, karena lo main death metal. Kalau lo nonton film horror, terus film itu ga seram berarti ada yang salah kan sama filmnya. Death metal itu harus punya itu, entah itu cuman ada satu detik, lima detik atau lima menit. Di album lo harus ada itu. Seram.” (Abominasi Zine, 2013). Dari sini dapat saya tarik bahwa, oldschool death metal memiliki agrsifitas keseraman death metaal yang seharusnya membuat bulu kuduk merinding dan memacu kontroversi batiniyah bagi orang yang melihatnya.
Dari kalangan death metal muda yang mempresentasikan kembali era lama musik ini, saya bertemu dengan beberapa kawan yang menciptakan band dengan mengembalikan kejayaan scene lawas death metal. Sebut saja Gilgaxar, yang baru saja merilis demo rehearsalnya dalam format kaset dan dibagikan gratis kepada kawan-kawan. Meski tidak kebagian demo tersebut, saya tetap tertarik untuk mengulas Gilgaxar hingga bertemu dengan salah satu membernya untuk ngobrol, berikut ulasannya:
Olieztrator, gitaris Gilgaxar. Photo take by google.com
Bisa diperkenalkan siapa sajakah Gilgaxar?
Saya Olieztrator pada Gitar & Vocal, Ficky pada Vocal, Krisna pada Bass, dan Nurul pada Drum.
Gilgaxar from left to right : Olieztrator, Krisna, Ficky, Nurul. Photo take by google.com
Kalian merilis sebuah demo, berapa track dalam demo tersebut?
Rehearsal demo tape ada 4 track materi kita dan 1 lagu cover dari CANCER.Saya suka kaset hehe
Ada alasan kenapa merilis demo dalam bentuk kaset, bukankah lebih efisien dalam bentuk CD?
Saya suka kaset hehe
Demo rehearsal yang dibagikan cuma-cuma hanya 15 pcs. Photo take by google.com
Demo tersebut mengingatkan saya dengan demo2 yang dibuat para punggawa death metal era lama yang berbeda dengan konsep demo pada kebanyakan band merilis demo via online atau CD promo, mengapa kalian mengonsep demikian?
Melihat masa kini dan masa lampau itu perlu, dan saya ingin melakukan apa yang dilakukan pada masa itu, tidak peduli sedigital apa masa kini.Merilis rehearsal secara mandiri dan DIY lalu memberikannya pada orang orang pilihan, termasuk Ross Dolan ( 1/15 ) hehe.
Adakah tujuan tertentu dari kalian merekam rehearsal dan menjadikannya demo?
Point nya hampir sama seperti jawaban diatas, melakukan apa yang dilakukan pada masa itu, selain promo.. saya mengajak mereka untuk time travel ke ahir 80an – awal 90an.
2018 (termasuk pada tahun ini 2019) melalui artikel Vice dianggap sebagai kebangkitan oldschool death metal, bagaimana tanggapan kalian?
Ini adalah fakta yang menarik, dimana penikmat mungkin mulai merasa jenuh dengan musik yang kecepatandan kebrutalannya sudah mentok, sound digital mentah yang begitu clean dan ringan ditelinga,terlalu banyak pengulangan materi dari yang sudah ada.Dan ketika kembali mendengarkan materipara pendahulu, mereka terkampleng sadar.. 80an akhir hingga 90an awal adalah era termurni para punggawa extreme metal meledakan kuburannya.
Apakah kamu mengikuti dengan adanya trend dalam scene ini?
Di tahun 2014 saya mulai mengkarang materi yang lebih true death metal karena sadar materi kami sebelumnya.. death metal music tidak seperti itu. Terus menyelam dan harus saya temukan bikini botom. Lalu pada akhir 2017 kami mulai menggeber distudio dengan personel baru.
Satu-satunya demo yang kalian rilis resmi secara online hanyalah “Baptized in Rapture”, mengingat tidak ada lirik yang dipublish, apa konsep lagu tersebut?
Menceritakan “dia laki laki” dibalik layar yang sangat berpengaruh pada kemunduran peradaban umat manusia. Menciptakan sistem yang belawanan dengan logika dengan segala kelicikan dan kebusukannya.
Bagaimana anda menggambarkan sound Baptized in Rapture?
Jawabanya mengarah pada pakem tukang masak handal, dapur tertinggi penggodokan extreme metal di Amerika, Tom Morris & Scott Burns. Disadari atau tidak, yang mereka sebut sound lawas itulah yang saklawase ( Eternity ).
Keluar dari topic, bagaimana pendapat anda tentang death metal yang tidak bisa menghidupi kebutuhan (kata lainnya financial) harian, mengingat desas-desusnya itulah yang menyebabkan Frank Mullen memilih keluar dari Suffocation?
Mungkin sedikit berbeda dengan seorang gitaris atau drummer yang menurut saya lebih sering di endorse berbagai merk dagang dsb, sehingga ada income tambahan biar dapur tetap ngebul.. itu di Amerika dan di Eropa sana. Di Indonesia harus memiliki pekerjaan tetap, tidak bisa dipungkiri dan harap maklum.
Terakhir, apa yang akan dilakukan oleh Gilgaxar kedepannya?
Yang
utama dan paling penting adalah mampu bertahan, terus produktif dan karya kita
dinikmati para metalhead didunia. Terimakasih..
Rilisan fisik berkualitas tidak akan pernah tersedia di gerai junkfood!!!
Resting Hell
Photo take from instagram @restinghell
Kutipan di atas ada benarnya ketika sebuah rilisan musik berkualitas terpampang nyata di beberapa titik lokasi, dimana tidak seharusnya industri tersebut mewakili sebuah dokumentasi rilisan fisik musik.
Artikel kali ini membahas seberapa pentingnya sebuah ilustrasi terhadap pandangan sebuah label. Seidealis apapun sebuah band/musisi dalam merilis rangkuman musik mereka, pasti ada aspek visual yang mewakili musik tersebut. tidak dapat dipungkiri bahkan band underground sekelas Deadsquad sekalipun menggunakan lebih dari satu ilustrasi untuk album Profanatik.
Dalam pandangan saya selaku dulu ketika masih berpikiran bahwa dunia hanyalah hitam dan putih, saya mengerjakan art untuk sebuah band dari Jakarta bernama Cadaver untuk album terbaru mereka. Dari situ saya merasa bahwa sebuah album musik yang memiliki banyak lagu di dalamnya harus segaris dengan ilustrasi yang terkonsep untuk mewakili aspek visual yang akan menjadi kemasan pertama yang tertangkap mata sebelum telinga mendengar full lenght nya.
untuk menegaskan seberapa pentingnya sebuah ilustrasi, saya tidak mengiterview sebuah band. Melainkan sebuah label yang berasal dari Kediri, Resting Hell. Wawancara ini saya lakukan di akhir 2016 dalam zine saya dulu, Nerograph zine dan saya post di blog ini agar dapat dibaca oleh banyak khalayak serta saya rasa masih relevan dengan keadaan sekarang. Resting Hell adalah salah satu label yang hari ini masih merilis banyak rilisan fisik dan merch yang mana beberapa rilisannya ada di rak CD koleksi saya. Salah satu rilisan Resting Hell yang hari ini masih saya putar adalah Disfare “Self Title” band power violence asal Jakarta yang setiap saya play tak mampu membendung chaos di telinga dan berikut obrolan ringan saya bersama Gofur, dari Resting Hell:
Saya tertarik pada label satu ini dengan beberapa rilisan yang amazing dari aspekvisualnya. Namun bolehkah anda memperkenalkan diri anda beserta label anda?
Terima kasih sebelumnya untuk Delta. Perkenalkan saya Gofur dari Resting Hell. Resting Hell adalah salah satu record label dari Kediri yang pada awal berdirinya hanya merupakan band merchandise yang hanya membuat beberapa cetakan kaos dan merchandise dari band hardcore punk teman-teman yang saya kenal sejak 2010. Namun seiring berjalannya waktu dan kesenangan saya terhadap rilisan fisik, saya mulai mencoba untuk mengembangkan Resting Hell menjadi sebuah record label. Dan saya disini tidak sendiri, saya mengajak seorang sahabat dari kecil, Fendi yang notabene sampai saat ini juga menjalankan record label ini lebih maximal baik dari segi keuangan yang tertata dan juga masalah distribusi.
Beberapa produk Resting Hell. Photo take from instagram @restinghell
Selaku label yang merilis merch dan rilisan fisik, bagai mana pendapat anda tenang keberadaan sebuah artwork/ilustrasi yang ada di dalamnya?
Dalam sebuah band, artwork / ilustrasi menurut saya sangat penting. Karena dari artwork / ilustrasi itu kita bisa menggambarkan bagaimana band itu sendiri. Serta artwork bisa juga digunakan sebagai trademark ataupun identitas band itu sendiri. sSyang banget kan kalau bandnya keren, musik oke, lirik juga oke tapi covernya artnya kurang “ih” gitu hehehehe. Liat aja bagaimana Metalica dengan “Pushead” nya maupun Sleep dengan “Erik Roper” nya bahkan Baroness dengan “Baizley”nya. Semua terasa sudah menjadi identitas dari band itu sendiri. Dan artwork yang keren juga mempengaruhi penjualan rilisan Jisik itu sendiri lhoo… 😀
Pada hal ini, andakah yang mencarikan ilustrator band atau band sendiri yang memilih siapa senimannya?
Sejauh ini untuk band-band yang udah dirilis sama Resting Hell sih bebas. Ada yang udah disiapin sama band itu sendiri, ada juga beberapa yang saya carikan artworknya. Namun kalaupun dirasa kurang oke, saya juga minta revisi, gitu sih.
Hingga saat ini terjadi pembajakan artwork. Selaku label bagaimana anda menyikapinya?
Hahaha, iya lucu juga sih karena pengalaman kayak gitu pernah saya alami juga. Skull bones logo Resting Hell buatan Ken Terror dibajak juga sama salah satu band, yang nggak mau saya sebutkan. Namun setelah kita coba mengingatkan dan ngajak ngomong, si band sendiri yang akhirnya mengakui kesalahannya. Ya just that, mau gimana lagi udah terlanjur. Yang penting orang yang ngebajak udah mengakui kesalahannya dan mau minta maaf saya kira udah cukup.
Resting Hell Skull n bones. Photo take from instagram @restinghell
Dibajak dalam arti sudah tercetak merch atau belum?
Sudah malahan dibikin kaos dan udah dijual.
Apa dari pihak artworker / ilustrator sudah tahu hal itu?
Sudah dan sudah saya komunikasikan pastinya. Ya mau gimana lagi hahaha udah terlanjur toh gambar yang dibajak juga gak sebaik resolusi asli sih.
Dalam pembuatan merch, bagaimana cara anda memilih art untuk merch keluaran Resting hell?
Kalau pemilihan secara baku kudu gimana gimana gitu nggak ada. Yang jelas musti kudu sesuai dengan konsep band itu sendiri. Hati dan perasaan kita nih yang dimainin kira-kira cocok nggak dan oke nggak hehehe.
Pernah berpikir untuk membuat gambar sendiri dengan konsep sendiri?
Pernah sih pada awal-awal Resting Hell dulu bikin T-shirt merchandise, untuk artwork saya kerjakan sendiri. Karena keterbatasn budget juga buat beli gambar hahaha.
Ada Artworker/ilustrator yang karyanya anda sukai?
Ada mas. Ken Terror dan Dan Tone
Kebiasaan yang anda sukai sehari-hari?
Yang saya sukai, bermalas-malasan sambil dengerin CD hahaha
Disfare “Self Title” rilisan Resting Hell 2016. Photo take from instagram @restinghell
Terakhir pesan untuk pembaca dan khususnya artworker/ilustrator?
Untuk pembaca, selalu support terus segala movement positif dari skena kalian. Do it with your friend. Dan untuk para artworker mungkin yang masih beginner selalu terus mencoba dan berlatih ngegambar terus ya. Biar punya karakter gambar sendiri.
Resting Hell Hellish Industry
is Hardcore Punk Metal Subgenre record label, spread the chaos since 2013 at Kediri East Java, Indonesia e-mail at restinghell666@gmail.com
Saya menyaksikan pertama kali band Nicrov saat saya berada di sebuah event bernama Deadrenaline 7 : Death Black Series di Boyolali. Mereka datang berempat dari Jakarta bersama satu additional, Resha dari Infected Sragen. Konsep musik yang mereka bawa berbeda dengan death metal yang pernah saya temui sebelumnya, death n roll. Pada awalnya crowd terlihat sepi. Namun karena Nicrov memainkan musik dengan begitu gayengnya, crowd mulai beranjak ramai memainkan sekitar 5-7 track mereka. Setelah dari perhelatan itu, saya masih mengingat begitu excitednya saya melihat mereka.
Nicrov, from left to right : ED, RF, UC, DC. Foto by Yoga Beges. Take from google.com
Beberapa bulan setelah mereka main dari Deadrenaline, saya dikontak oleh sang vokalis untuk menjadi dokumenter mereka saat bermain di Sragen hingga saat mereka menjalani tour bertajuk Lost Chapter In Central Java Mini Tour 2019. Hingga akhirnya saya dapat menangkap sesuatu yang menarik dari band ini, diputuskan untuk saya rangkum dengan obrolan ringan bersama sang vokalis, UC. Berikut ulasannya:
UC Nicrov. Photo by Delta Eka Wardana
Nicrov telah menyelesaikan tour bertajuk “Lost Chapter in Central Java Mini Tour 2019”, padhal Nicrov sendiri masih berstatus demo pre album, apa yang melatar belakangi anda dan teman-teman untuk menggelar tour tersebut?
Halo, perkenalkan dulu gua UC Warlord dari Nicrov. Latar belakang gua sama temen” gelar tur ini ada 5 alasan, yang pertama silaturahmi ke temen” di Jawa tengah terutama kota” yang belum pernah Nicrov singgahin, yang kedua buat acuan Nicrov sendiri seberapa banyak sih metalhead yang udah tau musik Nicrov, apa sih yang Nicrov suguhkan? yang ketiga sebagai bentuk pengenalan musik Nicrov dan ending trilogi tur demo yang gua bentuk sebelum album di rilis, yang keempat buat bahan edukasi, sharing tentang musik sama temen” di sana soalnya gua pribadi agak risau sama perkembangan scene terutama death metal, yang kelima sebagai pembuka jalan buat temen” yang lain untuk tur di kota-kota itu.
Apakah hal ini lazim untuk sebuah band dengan bermodal demo untuk mengelar sebuah tour/mini tour?
Sah aja, kalo udah bicara masalah promosi karya gua rasa setiap band punya cara yang efektif dan efisien buat nentuin bentuk promosi yang mereka pilih. Mungkin gua pribadi pake cara lama yaitu door to door buat Nicrov, gua juga lebih suka tatap muka ke temen” bukan cuma sekedar say hai di media sosial haha, terlebih di titik tur ini 70% materi yang kita bawa itu materi di album nanti.
Dalam beberapa titik saya mengamati Nicrov tidak hanya bermain di acara pure death metal, namun juga di event punk dan hardcore, mengapa demikian?
Karena gua pribadi ga suka adanya eksklusifitas, fak lah wong semua scene sama. sama sama menderita dari eksistensi musik general terlebih temen temen di Nicrov juga punya latar belakang musik yang beda”, gua berharap ga ada sekat yang kita bikin sendiri apalagi sekarang untuk sekedar buat event itu izinnya setengah mati. shit
Apa yang membedakan demo “Forging The Silver Bullets” dengan “Lost Chapter Demo”?
Bedanya kalo “Forging the Silver Bullets” di rekam dalam bentuk live studio, kalo “Lost Chapter” dikemas dalam bentuk raw mix dari data album nanti. Kurang lebih haha
Nicrov – Lost Chapter Demo. Photo by Hitam Kelam Store
Nicrov – Forging The Silver Bullets (Demo Live) versi kaset. Photo take by google.com
Saya melihat dua sosok baru yang berbeda pada posisi drummer, yang berbeda saat saya pertama kali melihat Nicrov di Deadrenaline 7 : Black Death series kemudian nicrov menambah formasi baru dengan menambahkan gitaris, siapakah mereka berdua?
Di posisi drum itu ada MC, dulu sempet jadi drummer pengganti DC pas dia ga bisa. akhirnya karena suatu hal MC kita angkat jadi drummer tetep di Nicrov. Di posisi lead gitar ada GB, dari awal sebenernya konsep awal Nicrov itu ber 5. Susahnya cari SDM yang satu Visi dan Misi sama Nicrov jadi hambatan sih, beruntung sebelum album rilis kita udah bisa nambah line up di posisi ini. Welcome aboard Lycan
Nicrov dengan member baru MC (paling Kiri) dan GB (paling kanan) serta additional bassist, Dimas. Photo by Delta Eka Wardana
Saya mengamati nicrov kerap menggunakan additional player dibeberapa titik bermain. Terkadang ada beberapa band menolak bermain apabila formasi asli tidak lengkap. Bagaimana pendapat anda?
Pendapat gua ya gapapa kalo band lain nerapin itu haha, di sisi lain gua menjunjung tinggi kepentingan Nicrov diatas kepentingan personal. jadi selama Nicrov bisa survive, terlebih saat tur, ya kenapa ga di coba? Setiap player pasti punya kepentingan diluar Nicrov, misal pekerjaan atau tiba” berhalangan banget ga bisa perform. Menurut keputusan bersama yang paling bijak yaitu cari additional player buat Nicrov. That’s it
Nicrov merilis split album bersama band Avulsed, death metal asal spanyol. Bagaimana respon band Avulsed saat split dengan Nicrov?
Ini semua ga lepas dari
peran Label Nicrov juga, Sickness Prods. Pas Avulsed main di Hammersonic kalo
ga salah tahun 2015, owner sickness si andre ketemu dave rotten vocalist dari
Avulsed tuh pertama kali. Obrolan terus berlanjut pas Nicrov akhirnya join ke
sickness dan coba tawarin split album sama mereka. Gua pribadi seneng banget,
Dave sama personil Avulsed yang lain setuju buat split dan sampe mereka minta
izin buat discography ini masuk ke album anniversary 25 tahunnya mereka
“Deathgeneration”. Gilaaaa!!! Nicrov salah satu dari dua band yang
pernah split sama legenda death metal dari spanyol ini, what a day!!!
Nicrov split EP dengan band asal Spanyol, Avulsed. Dirilis oleh Sickness Production. Photo take by google.com
Di Indonesia kultur death metal masih banyak di dominasi oleh band-band brutal dan technical, namun nicrov berada di luar jalur tersebut mengedepankan nuansa dan atmosfir memainkan death metal tidak begitu cepat dengan feel in. Bagaimana respon audience dengan kehadiran musik nicrov yang seperti itu?
Semua balik ke selera sama tujuan
dari sebelum Nicrov ada. Gua seleksi banyak hal mulai dari visi misi,
background musik sampe influence player Nicrov sebelum nyentuh Death Metal.
Pilihannya? yang genre death metal pake sentuhan doom, punk, grunge dan yang
lainnya hahaha. Banyak trial and error juga ko selama perjalanan sebelum album
ini haha, semoga materi yang ada di album Nicrov nanti bisa jadi candu di kala
jenuh sama opsi yang ada.
Mana yang lebih anda nikmati, penggunaan lirik bahasa inggris yang dangkal atau bahasa indonesia yang dalam?
gua lebih memilih nikmatin 2-2nya,
karena gua tau susahnya cari tema, ide penulisan lirik itu ga gampang. misal,
pake bahasa inggris yang dangkal tapi cocok sama musik dan tema yang di pilih
kenapa engga? itu opsi sih, gua udah pernah terjebak di 2 posisi itu hahaha.
Saat ini marak isu tentang RUU no. 5 tentang permusikkan, bagaimana pendapat anda selaku orang di scene death metal/underground?
Gua pribadi menanggapi
RUU no. 5 itu ga terlalu ambil pusing, toh ada ato engga undang-undang itu,
eksistensi underground itu bakal tetep ada. malah dengan adanya larang2an
tersebut bakalan memicu lebih banyak aktifitas” kolektif di scene ini.
“kami terus ada, dan berlipat ganda.”
Final comment untuk pembaca baik die hard metalfans, band player dan lain-lain?
Terima kasih buat seluruh pembaca Ilvsi Optik Webine buat ruang dan waktunya, tetap support pergerakan” underground, stay old, hail Lycanthrodeath!!! Cheers
2014 this band was created by him, on 2015 i’m joined, make a some material together, shared a good and bad time together Today Fajar S. Wicaksono as a leader, front man announcement resign from this band, the best vocalist ever i’ve seen Sad news but I aprrecitated his choice, thank you so much for everything, everything! Trust me! Without him this band would not be where, like we see right now And today I annouce first album IMPERFORATA will be realese with the great records label on this planet DISMEMBERED RECORDS !! On this years !! This band not going anywhere and still DEATH METAL until I’m died !
Guitarist from Imperforata, Yogi Awan Samudra
Saya menuliskan tulisan ini di bulan Februari 2019 bersama sang vokalis Fajar S. Wicaksono. pada saat itu Imperforata hanya menyisakan dua personil nya saja bersama sang gitaris Yogi Awan Samudra. Obrolan ringan ini begitu asik menyisakan eforia saat itu diterpa badai wacana RUU Permusikan dan dari berbagai daerah di Indonesia bersatu untuk membuat pergerakan kritis akan wacana tersebut.
Namun, saya kembali dikejutkan dengan statement fajar pada tanggal 16 Juli 2019 bahwa dia mengatakan keluar dari band yang telah ia rintis.
Statement yang dikeluarkan oleh Fajar dan dikonfirmasi melalui pihak band di akun sosial media mereka. Photo take by Instagram @imperforataIDDM
Band ini menyisakan Yogi selaku member terakhir dan berusaha menghidupi band ini ditengah proses menuju full album. Dan simak obrolan singkat saya dulu dengan Fajar saat dia masih berada di band ini. Mungkin interview ini akan terasa hambar karena sudah terlewat beberapa bulan, namun sepertinya masih banyak hikmah yang bisa kita petik di sini. Let’s roll!
Yogi Awan Samudra dari Imperforata. Photo take by google.com
Bisa perkenalkan diri anda kepada para pembaca?
Hallo saya Fajar S. Wicaksono dari Imperforata.
Bisa diceritakan Imperforata saat ini?
Imperforata saat ini di ambang kepunahan, kami di tinggal dua personel kami ya itu Danar dan Sofyan hal tsb menunjukan bahwa band ini tidak sedang baik baik saja, tetapi kami (saya dan Yogi) tetap menjaga agar api Imperforata tak kan pernah padam, dan berita baik kita sampaikan di saat ini kamu memasuki fase recording untuk full album di tahun ini.
Formasi klasik Imperforata. From left to right : Sofyan, Yogi, Danar, Fajar Photo take by google.com
Imperforata mengalami banyak perubahan mulai dari slamming ke brutal death lalu berubah pada single “Possessed”, mengapa demikian?
Hahaaa, sejak awal kami tidak pernah menganggap bahwa kami adalah band slamming, semenjak 2014 saya membentuk band ini dengan format one man saya barmain dengan konsep brutal death, ketika Bagus Wijie bergabung menjadi gitaris musik mengalami perubahan karena menesuaikan dengan karakter dia, tetapi masih di road brutal death bisa kita cek di promo 2015 Imperforata, pasca Bagus Wijie hengkang gitrais di ambil alih oleh Yogi, di situ proses kami terjadi berawal dari EP 2016 “Immortal Untreated” sampai saat ini kami mengalami banyak hal, pencarian dan pendewasaan yang kami dapat, terlebih Yogi, lalu Yogi menemukan kenyamanan ketika memainkan riff death metal dan di realisasikan pada single 2017
“Possessed” bukankah kenyamanan sebagai dasar kita melakukan suatu hal? Hahah kalau kami sih begitu
Seberapa besar pengaruh “death” (band) ke imperforata saat ini?
Tidak banyak berpengaruh, jujur Imperforata sendiri tidak condong kemana mana semua musik kami serap semua band kami explore mungkin yogi pribadi sangat mengidolakan Chuck Schuldiner (Death) tapi bukan berarti musik kami condong ke “Death” band
Bagaimana opini orang ketika mengetahui Imperforata saat ini menjadi lebih death metal ketimbang brutal death?
Sejauh ini dan
sepengamatan saya teman teman sekitar tidak ada masalah mereka menerima dengan
baik (mungkin) tapi kami tidak tau orang orang di luar sana, apa pun itu suka
atau tidak itu hak mereka.
Apakah suatu saat kalian membuat video klip?
Mungkin !! Akhir akhir
ini kami memikirkan hal tersebut dan sudah kami bicarakan, semoga saja
Perlukah death metal dan underground mendapat pengakuan dari publik mainstream?
Tidak perlu, mengapa
death metal / underground perlu pengakuan public mainstream
kalau aku kamu dan kita
semua sudah mengakuinya.
Apakah death metal di indonesia menjanjikan untuk peluang bisnis? Mengingat cukup banyak event death metal dengan skala besar?
Mungkin,
bisa iya bisa tidak tergantung di bidang mana yang kita bahas, jika dari event
death metal yang pernah saya singgah sih mungkin tidak kayaknya, terlihat
panitia pun terkadang tombok mereka survive agar acara death fest tetap ada,
dengan modal nekat mereka menggelar acara, menurutku mereka pahlawan sih tapi
jika di lihat dari segi perilisan mungkin menjajikan, banyak bermunculan lebel
lebel baru yang mulai merintis dan banyak lebel indonesia yang bekerjasama
dengan lebel luar dalam perihal perilisan atau distribusi
Imperforata tetap melanjutkan full album mereka di bawah naungan Dismembered Record meski hanya menyisakan satu member saja. Photo take by google.com
Mana menurutmu yang lebih enjoy, bermain di skena festival besar atau sebuah gigs kecil?
Menurutku
semua enjoy sih, yang paling utama sih mabok ketemu teman teman jauh itu lebih
dari cukup, menikmati acara dengan sederhana perfom dengan maksimal.
Indonesia sedang krisis keyakinan, setiap problem tertentu dikaitkan dengan isu keyakinan tertentu dan tersambung lurus dengan politik, bagaimana sikapmu?
Kalau
saya sih lebih memilih diam, karena keyakinan setiap orang bisa berbeda beda
bahkan yang satu agama pun mempunyai sudut pandang yang berbeda tentang
keyakinan, pertanyaan yang lumayan sulit sih, tapi jika di tanya sikap saya
lebih memilih acuh saja
Final comment untuk webzine dan pembaca?
Untuk webzine : saya mendukung dengan sangat terbentuknya webzine seperti ini, mungkin kedepannya lebih produktif lagi
Untuk pembaca : jangan sampai kita kehilangan idealis kita entah dalam hal bermusik atau kehidupan, karena idealis adalah puncak kemewahan yang di miliki seorang pemuda seperti kata Tan Malaka.
Paranoid Despire, salah satu band death metal yang dulunya saya kenal melalui salah satu personilnya, Wahyu. Yang mana saat itu dia adalah adik tingkat saya di kampus. Saya berpikir awalnya ini adalah band biasa yang saya temui sehari-hari dimana saat gigs sekedar memuaskan nafsu headbang.
Ternyata tidak!
Band ini memainkan death metal yang tidak biasa dengan komposisi yang berat terarah tanpa ada sela untuk membantai rasa kagum audience saat mendengar riff-riffnya. Album pertama mereka, NEBULOUS yang dirilis oleh Hitam Kelam Record mendapat respon yang positif dikalangan pecinta musik cadas. Hingga pada tahun 2018, pada tanggal 18.08.18 mereka menampik scene ini dengan album terbaru mereka MAJASTY.
Saat ini, saya bersama sang vokalis Andrian Kokom untuk menceritakan album kedua mereka, MAJASTY yang mereka rilis secara independen. Berikut ulasannya.
Andrian Kokom, Vokalis Paranoid Despire. Photo take by google.com
Saya sudah mendengar album Majasty, bisa diceritakan mengenai penggambaran album tersebut?
Album Majasty menggambarkan beberapa peristiwa yang
terjadi di bumi Wilwatikta/Majapahit yang bersumber dari Negarakertagama dan
Pararaton, ada juga beberapa dari Babat
Tanah Jawi, beberapa cerita yang bertajuk Mitologi yang merupakan konsep awal
Paranoid dalam dua album yang telah lahir, kami banyak mengadopsi cerita-cerita
kuno yang jarang di perhatikan dan penting untuk disampaikan kepada generasi
muda akan keluhuran Majapahit sebagai kerajaan yang mempunyai periode terlama
dan mampu mencapai puncak keemasan persatuan Nusantara.
Secara sound, apakah kamu menginginkan album sebelumnya seperti (sound) album Majasty?
Ya tentunya, tapi itu merupakan sebuah proses untuk
evaluasi kami untuk menjadi lebih baik,
dan kami masih belum puas lebih tepatnya tidak boleh puas, karena kami ingin mempunyai
progres lebih baik untuk kedepannya, mungkin untuk album berikutnya kami bisa
menyajikannya dengan sound yang lebih baik lagi dari Majasty.
Death metal adalah subgenre metal yang berkaitan dengan kematian, kekerasan, gore dan lain-lain. Sedangkan album Majasty menceritakan sejarah Majapahit. Mengapa demikian? Apa yang Paranoid despire, sampaikan?
Kembali lagi pada konsep awal Paranoid yang
mengangkat Mitologi sebagai benang merahnya, karena didalam mitologi terdapat
bentuk kekerasan, kematian, kengerian dan masih banyak lagi, dan ini akan
memperluas kami dalam menuangkan ide-ide dalam penulisan sebuah karya, tidak
memungkiri lahirnya sejarah serta ilmu berawal dari mitos, dan terpecahkannya
sebuah mitos akan membawa kita kepada kebenaran yang belum kita ketahui. Dan
alasan kami mengangkat Majapahit sebenarnya sangat sederhana, karena kami
adalah fans para leluhur-leluhur Majapahit, yang meninggalkan banyak ilmu yang
luhur yang ingin kami sampaikan dengan musik Deathmetal.
Majasty, Album kedua Paranoid Despire. Self released. Photo take by google.com
Di dalam lirik “Aim The Highest” terdapat kalimat “Palapa..”. Apakah single “Aim The Highest” menjadi salah satu acuan album Majasty?
Bisa dibilang seperti itu, karena Nebulous dan Majasty
saling berkaitan, tetapi Majasty lebih bersifat mengerucut dan lebih tegas dari
pada Nebulous yang masih samar samar dari segi ceritanya.
Ada keinginan untuk album Majasty dirlis menjadi vinyl?
Pastinya ada, kami juga ingin merilis Nebulous menjadi
vinyl karena dari segi sound akan terdengar lebih real dari media perekam CD
ataupun Kaset pita. Dan untuk penikmat musik, itu akan menjadi point plus
karena tidak ditemukan dalam format CD ataupun Kaset pita. Dan akan sangat
berkesan ketika ada yang meminta tanda tangan di vinyl kami nantinya, seperti
yang kami lihat Cannibal Corpse dengan formasi awal, setelah melakukan show
“Eat Moscow Alive 1993” dan bertemu dengan para fansnya untuk
memberikan signature beberapa vinyl fansnya. Pemandangan yang jarang kita temui
di era sekarang, pastinya sangat keren hahaha XD.
Bisa ceritakan atmosfir saat kalian launching album di Mojokerto. Apa yang kalian rasakan?
Bermain dirumah, bisa dikatakan kalau kami pulang
kerumah, karena sejatinya Majapahit adalah tanah leluhur kami, dan kami
merasakan atmosphere yang berbeda ketika bermain disana, dengan dihadirkannya
salah satu pataka Majapahit yaitu Trisula yang dibawa oleh Mas Nanang sebagai
juru kunci, dan memadukannya dengan musik Paranoid tentunya itu menjadi moment
bersejarah untuk Paranoid, bisa dikatakan bukan sembarangan orang bisa
menghadirkan pataka tersebut, ini adalah salah satu wujud restu dari para
leluhur kami.
Apabila RUU permusikkan disahkan, apa yang kamu lakukan untuk pasal no. 32 (Uji Kompetensi)?
Kalaupun RUU permusikan No.32 disahkan tentunya kami
akan menolaknya, dan juga ini akan merugikan setiap musisi karena diwajibkan
mengikuti uji kompetensi, walaupun kami belum tau seperti apa
penyelenggaraannya tetapi yang jelas itu merupakan sebuah pembatas untuk setiap
musisi dalam mengekspresikan karyanya, dan kalau benar disahkan maka kami
selaku musisi yang bergerak di ranah Underground akan benar-benar bermain
dengan cara Underground, karena sejatinya musik Underground adalah musik
perlawanan.
Left to right : Yoga, Wahyu, Andrian Kokom, Faiz. Photo take by google.com
Apakah kamu mendengarkan death metal setiap hari? Apa playlistmu akhir-akhir ini?
Setiap hari saya mendengarkan musik Deathmetal,
disamping sebagai refrensi saya juga menggemari band-band deathmetal, seperti
Obituary, Malevolent Creation, Morbid Angel, Deicide, Gorefest, Cannibal
Corpse, Six Feet Under, Entombed, Dismember, Sinister, Fleshcrawl dan masih
banyak lagi, tapi saya tidak membatasi diri untuk mendengarkan genre musik
lain, seperti Grindcore, Brutal, Heavy Metal, Hardcore, Black Metal, Grunge,
Punk. Karena saya juga seorang penikmat musik-musik Underground.
Setelah kelahiran sebuah karya, penulis telah mati. The Author is Dead.
— Roland Barthes
Di pertengahan 2016, saya tercengang dengan kehadiran mesin gelap asal Jawa Timur berama Deathroned. pada waktu itu mereka berada di dalam naungan tameng raksasa Hitam Kelam Record selaku pencetak demo mereka. Tanpa pikir panjang saya menghubunginya untuk mendapatkan rilisan tersebut. Hingga pada tahun 2018 saya dapat melihat live mereka saat saya menjadi additional Nicrov.
Alhasil saya dapat ngobrol ringan dengan salah satu personil Deahtroned, Reno Surya.
Hai Deathroned, saya Delta dari ILVSI OPTIK ZINE, bisa perkenalkan diri anda dan dengan siapa saya ngobrol?
Hi, Delta! Saya Reno. Saya adalah salah satu dari kolaborator Deathroned. Kolaborator lain adalah E. Leviathan. L. Abyss. Dan di drum saat ini kami di bantu oleh Ical dan Fadly dari Humanure.
Photo from Google.com
Sampai hari ini saya menikmati demo MMXVI tetapi saya belum mendapatkan lirik dari Unholy Serpent dan Blasphemy Insane, bisa anda ceritakan latar belakang kedua lagu tersebut?
Ah,
okay. Kedua lirik tersebut sebetulnya, sangat prematur bagi kami. Dua repetoar
yang terkandung dalam demo pertama kami mengalami dua proses kreatif yang
berbeda. Saya bertanggung jawab penuh pada Unholy Serpent, sedangkan L. Abyss
yang menulis Blasphemy Insane.
Saya
tidak memiliki kapasitas menjawab untuk Blapshemy Insane. Proses diskusi kami
saat itu hanya pada fase konstruksi wacana saja pada saat. Seperti tentang ‘bagaimana
bentuk lirik di demo kami nanti?’ ‘gagasan apa yang akan dimuat di dalamnya’.
Hanya sebatas itu.
Dua
lirik yang yang terkandung dalam dua nomor di demo kami adalah sesuatu yang
masih sangat komikal. Seperti Unholy Serpent misalnya. Adalah interpretasi saya
tentang hal-hal yang sifatnya phantasmagorical. Tentang maha lemahnya kita
membedakan hal yang nyata dan fiktif. Tentang kebenaran yang tidak tunggal;
yang sebagian manusia anggap suci, adalah kebusukan bagi manusia lainnya.
Sedangkan yang kerap di katakan sebagai gelap; adalah sebuah terang bagi
manusia lainnya.
Pendapat audience dengan demo tersebut?
Kami
tidak berharap banyak kepada demo tersebut. Dan sebenarnya kami tidak pernah
mengharapkan apapun dari siapapun. Kualitas rekaman jauh dari apa yang kami
mau. Masih jauh dari kata memuaskan.
Photo by Yoga Beges, take from google.com
Secara tersirat, konsep deathroned lebih mengoyak ke arah keyakinan (yang disampaikan oleh samack dalam press rilis SPLIT dengan Diabolical) dibandingkan dengan konsep gore, brutal, alien dsb. Benarkah? Jika iya, mengapa demikian?
Kami
memberikan kebebasan tafsir bagi siapapun. Roland Barthes mengatakan bahwa
setelah kelahiran sebuah karya, penulis telah mati. The Author is Dead. Kami mempercayai konsep tersebut. Kenapa
demikian? Karena memang yang menjadi fokus kami dalam merakit repetoar adalah
memang mempertanyakan kembali tentang keyakinan. Pertanyaan tentang hubungan
vertikal, atau justru menyoal—atau mengkoyak—batas antara gelap terang, benar
salah. Kami berupaya meretas batas-batas itu.
Kalian sangat swedish pada demo tersebut, apa equipment dan gear kalian?
Kami terlalu
mabuk dan tidak benar-benar ingat apapun kecuali Randal Thrasher dan Boss HM-2.
Ingatan kami memang payah.
Tidakkah kalian takut suatu saat dicap sebagai “terlalu swedish” oleh orang-orang mengingat kalian jauh berada di timur, jauh dari negara dingin eropa tersebut?
Kami
tidak pernah benar-benar berupaya menjadi siapapun. Atau katakanlah “Swedish”-esque. Memang kami menggunakan Boss
HM-2, tapi untuk riff kami banyak hanya di pengaruhi oleh band-band Stockholm,
Swedia, saja.
Justru,
kami banyak terpengaruh riff-riff band seperti Wolfbrigade, Tragedy, Dawn, atau
Obliteration. Di debut EP kami nanti kami menjanjikan musik dan lirik yang
lebih konseptual dan kontekstual.
Pada maret 2018, deathroned merilis single Upon a Mortal Wound, secara sound berbeda dengan demo MMXVI, mengapa demikian?
Sebetulnya
memang sound seperti ini yang kami
mau. Kami bertemu dengan engineer yang
benar-benar mengerti kami—Daniel Natjaard of Hordavjintra, Natjard,
Valerian—yang banyak membantu kami saat proses penulisan musik di debut EP
kami. Upon a Mortal Wound adalah salah satu bentuk yang paripurna—bagi kami
pribadi—jika ditilik dari segi apapun.
Serta,
Made Darma dari Warmouth dan Deadly Weapon adalah man behind the gun, yang sangat membantu kami dan tahu apa yang
kami mau. Kami melakukan beberapa eksperemintasi sebelum melakukan proses
rekaman. Serta kemudian masing-masing personil memiliki referensi
masing-masing, yang kemudian mempertebal pengaruh musik kami dari keragaman
tersebut. Saya rasa karena dalam mengerjakan Upon A Mortal Wound kami memiliki
rentang waktu yang cukup lama.Hal itu membantu kami untuk mengeksplorasi sound serta hal-hal yang turut
dibelakangnya.
Photo take from google.com
Upon a mortal wound cenderung mengarah ke oldschool raw blackened death metal, benarkah demikian?
Uhm,
bagaimana itu? Yang kami tahu, komposisi musik kami adalah Death Metal. Untuk
segala imbuhan, kami kembalikan kepada pendengar.
Beralih topik, kondisi negara saat ini sedang sangat sensitif, apalagi berkaitan dengan keyakinan. Padahal underground erat digunakan sebagai media pengkritik dengan berbagai tematik termasuk keyakinan, blasphemy, anti-religion dan sebagainya. bagaimana anda selaku member deathroned menyikapi hal ini?
Saya
pikir bukan hanya saat ini. Negara ini memang kupingnya terlalu tipis untuk
menerima kritik. Diluar konteks Deathroned, kami memang tidak pernah berharap
apa-apa kepada negara. Kami juga tidak akan memperlibatkan apa yang dilarang
atau dianjurkan oleh negara dalam proses kekaryaan kami.
Saya
pikir masing-masing seniman atau band memiliki cara sendiri-sendiri dalam
mengodok karyanya. Dan bagi kami meracik repetoar adalah sebuah ritus yang
suci. Kami tidakan membuka ruang, atau akan terpengaruh siapa saja, apalagi
negara.
Ditambah lagi munculnya RUU pasal no 5 tentang musik yang memuat larangan bagi para musisi membuat konten provokatif, bagaimana pendapat anda?
Saya
akan menjawab pertanyaan ini diluar Deathroned.
Menurut
saya, adanya RUU Permusikan memang sama sekali tidak menawarkan benefit apapun
bagi musisi yang berada di wilayah independen. Karena batasanan tentang mana
konten yang ‘provokatif’ dan tidak masih bias, dan abu-abu. Bisa saja pasal ini
digunakan untuk membungkam segala bentuk protes—seperti halnya UU ITE yang
kerap digunakan untuk menjerat aktivisi lingkungan—dan akan membawa bangsa kita
kepada kemunduran.
Saya
rasa jika UU ini di sahkan, kita tidak perlu menunggu bagian dari Orde Baru
memimpin negara ini, untuk membuat bangsa kita dekaden. Rezim ini sama otoritarianistiknya
dengan rezim Orba. Kita tengah hidup di sebuah negara yang terlalu banyak ikut
campur dalam urusan rakyatnya. Dari urusan ranjang, atau hingga urusan musik.
Terima kasih sudah bersedia berbincang dengan dengan anda, ada pesan-pesan untuk para pembaca?
Decorate the cry with my emptyness heart. Lifeless ideology got burried on my mind. We are gathered here. Just waiting for gate of the hell. Faced with suffering death. Till forgot all the risk ― Ruthless Abyss, Consvrge
Apakah kalian sudah mengkonsep untuk merilis album mengapa tidak merilis single satu per satu?
Pada awalnya sempat terpikirkan untuk merilis single satu per satu di fase awal ketika CONSVRGE berdiri. Dan setelah merilis single pertama ‘Ruthless Abyss’ kami pun merubah rencana dengan sebuah plan untuk merilis EP. Tujuan kami merilis EP bukan semata-mata ambisi sebagian personil. Seiring dengan chemistry yang makin lekat di antara kami dan adanya kesamaan visi dalam berkarya, akhirnya tercetuslah keinginan untuk merilis EP. Namun seiring berjalannya proses recording, ada beberapa fase improvisasi yang cukup kompleks. Ego masing-masing personil diuji dan manajemen waktu adalah hal yang harus kami terapkan pada saat recording session. Semua materi dalam EP akhirnya rampung, namun ada saran dari Aldi (gitaris) untuk menambahkan beberapa lagu yang akhirnya terangkum dalam satu album ‘Endless Worshiper’. Jadi singkatnya, bermula dari hanya ingin rilis single – ide untuk rilis EP – sampai akhirnya plan berubah ke rilis album atau LP.
Mengapa pada album Endless Worshipper tidak memiliki lagu yang berdurasi panjang, hanya satu track pada A Fragile Grip yang mencapai 3.33 menit?
Pertanyaan yang cukup unik dan jujur baru kami temui dari media ini. Karena nyatanya, pemilihan durasi pada setiap track di album kami bukan semata-mata hal yang mengalir begitu saja. Jujur, kami nggak se-easy going itu ketika bikin lagu dan kami cukup stick to the plan juga objektifitas yang kami terapkan sebelum mulai untuk memproduksi satu materi dalam album ini.
Pemilihan durasi yang tergolong pendek tersebut karena sebagai pendengar, masing-masing dari kami merasa cukup bosan dengan durasi yang panjang melebihi 3 menit atau bahkan 4 menit. Di era digitalisasi dan tsunami referensi seperti sekarang, kita tentunya sepakat bahwa adanya platform-platform streaming music online membuat telinga kita dibanjiri dengan ribuan referensi setiap harinya.
Dan jujur, hal itulah yang entah kenapa membuat kami bosan dengan banyaknya pattern di sub-genre ini dengan durasi panjang dan cenderung repetitif. Tanpa mendiskreditkan dan bermaksud untuk mengkotakkan pemilihan durasi lagu dalam sub-genre extreme, namun kami merasa patten dengan durasi singkat di bawah 3 menit terasa jauh lebih padat dan ringkas. Straight to the point dan membuat pendengar tidak perlu berlama-lama untuk mengenal vibes dan message yang disampaikan melalui suatu lagu. That’s how we choose a short duration on our song.
Mengapa terdapat numerisasi pada track Dark Century: Chapter I dan Carpenoctem: I? Apakah akan ada sekuel pada dua track tersebut?
Absolutely, numerisasi pasti akan bermuara pada sekuel-sekual selanjutnya. Dan kami berharap dapat segera merilis sekuel dari numerisasi lagu tersebut di rilisan-rilisan selanjutnya, meskipun kita belum tahu kapan.
Adanya CONSVRGE bermula dari suatu journey. Bagaimana masing-masing personil bisa bertemu dan kenapa kami dipertemukan untuk membuat band yang bernama ‘CONSVRGE’ ini di usia sekarang padahal kita sudah saling kenal sejak SMA dulu (kecuali Tatar yang gap usianya jauh di bawah kita). Atas dasar itu, akhirnya kami ingin merilis suatu album yang bersifat ‘journey’ atau berkesinambungan dengan album-album selanjutnya. Ya, semacam suatu rilisan dengan storytelling mungkin, yang possible untuk dibuatkan sekuel atau prekuel selanjutnya. Alasan ini tentu linear dengan maksud pemberian angka-angka pada beberapa track di album ‘Endless Worshiper’.
Oiya ada satu alasan lagi yang agak aneh mungkin. Pemberian nomor pada beberapa track tersebut juga merupakan trigger buat kami agar tetap melanjutkan band ini. Yang artinya, it’s okay kalau in case kita harus ganti beberapa personil karena suatu alasan tertentu, yang penting project CONSVRGE ini sebisa mungkin harus tetap ada karena cerita harus tetap berlanjut. Cause the next chapter of ‘Dark Century Chapter I’ still waiting and always haunting!
Apakah kalian tergolong band yang well-prepared diatas panggung, dengan menempatkan beberapa sequencer di beberapa titik lagu?
Hehehe kalau dibilang ‘well prepared’ kayaknya kita masih jauh banget dari kata itu deh. Menurut kami sih, pakai sequencer di panggung belum bisa kami jadikan patokan kalau kami udah ‘well-prepared’ banget di atas panggung. Karena toh masih banyak kok kekurangan kita yang harus kita upgrade satu per satu. Misalnya aja soal gear masing-masing personil, stage management, blocking stage dan banyak printilan lainnya yang masih perlu kita upgrade kedepannya. Ya, tapi kita berusaha menampilkan yang terbaik aja sebisa dan semampu kita untuk saat ini and we’re doin fun about it!
Lirik kalian cenderung lebih puitis dan mengutamakan unsur sinestesia, apakah kalian mengalami suatu keresahan hingga terciptanya kesan itu dalam medium karya pada Consvurge?
Apakah kami mengalami suatu keresahan? Iya tentu saja, begitupun dengan 8 miliar manusia di dunia. Tapi secara subyektif, untuk lirik-lirik kami, kesadaran akan hipokrisi yang terjadi di sekitar kami adalah bahan bakar utama terciptanya lirik-lirik tersebut. Tanpa terencana dan memang spontanitas saat penulisannya. Berkaca dari pemahaman salah satu filsuf Inggris abad 17, Thomas Hobbes, bahwa ‘semua manusia pada hakikatnya memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat’ adalah salah satu poin penting yang kami serap hingga terciptanya lirik pada album ini. Dan jikapun ada beberapa pendengar yang memaknai lirik kami sebagai suatu kritik sosial, mungkin artinya kritik itu ditujukan untuk kita semua. Karena masing-masing dari kita bisa sewaktu-waktu menjadi manusia paling jahat sekalipun.
Berangkat dari lirik-lirik kalian dalam menanggapi isu sosial hari ini, apakah terasa makin sulit untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi?
Menjadi manusia menurut kami adalah suatu keputusan dan pilihan. Karena selama berabad-abad benar dan salah masih menjadi suatu entitas abu-abu. Kebenaran dan kesalahan seringkali dikaitkan dengan moralitas dan norma. Benar menurutmu belum tentu benar menurutku, surgamu belum tentu jadi surgaku. Nerakamu bisa berarti surga untukku dan surga untukku bisa berarti neraka untukmu. Jadi susah atau tidaknya memaknai kesadaran untuk menjadi manusia yang lebih ‘Manusiawi’ tentu lekat dengan pilihan dan pemaknaan kita tentang bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Tapi bagi kami, di era post-modern ini memang terlalu banyak distraksi dan informasi yang membuat kita melupakan hal-hal kecil di sekitar kita hingga mengganggu kenyamanan orang lain. Bagi kami, sejauh kita nggak menggangu kenyamanan dan privasi orang lain. Let’s do whatever we wanted. Untuk itu kan norma, aturan dan batasan diterapkan?
Mengutamakan “rasa gelap” pada album ini ketimbang mengejar kecepatan meskipun saya saat melihat live kalian tetap memiliki tempo yang sedikit lebih cepat. Apakah kalian merasakan demikian?
Penyampaian pesan tidak hanya ingin kami deliver melalui lirik, tapi juga melalui audio visual. Untuk alasan itu, kami merasa saat perform kami harus tetap menjaga ambience tersebut. Itu juga salah satu alasan kita menggunakan sequencer ketika live. Untuk menjaga warwah asli dari setiap track yang kami buat.
Apa alasan kalian menggunakan drop low tuning pada gitar dan bass?
Se-sederhana untuk menjaga dan menyatukan vibes yang sudah kami rencanakan sejak awal. Dengan drop dan low tuning kami rasa nuansa yang ingin kita bawa jadi lebih menyatu.
Apakah masing-masing personil merasakan berada dalam Dark Century, seperti yang album kalian sampaikan?
Always! Karena kami merasa abad modern ini tak ubahnya era kemunduran di abad pertengahan yang dikemas dengan kemajuan dan segudang permasalahan baru.
Tidak seperti band hardcore lainnya, kalian lebih menyenangkan untuk headbanging dari pada two-step atau crowd hardcore pada umumnya. Apakah kalian memiliki niatan untuk berbeda dari band hardcore lainnya?
Perbedaan ini bukan hal yang kami rencanakan sebenarnya. Kami hanya berusaha menyatukan minat genre dari masing-masing personil menjadi suatu entitas baru. Jikalau memang dirasa lebih nyaman dinikmati dengan headbang, sejujurnya kami juga menyadari hal tersebut. Karena memang unsur deathcore dan metal cukup kental mendominasi beberapa pattern pada tiap track album kami. As long you guys having fun.. Do whatever you want to listen and enjoy our music….
Apakah terbesit pada kalian untuk mencover lagu yang memiliki mood dan karakter yang sama dengan kalian? Siapakah kira-kira?
Sebenarnya kita udah ngelakuin ini, karena di semua stage kita tetep cover 1-2 lagu dari beberapa musisi. Kalau dulu kita pernah cover dari Thrown, Alpha Wolf dan Knocked Loose. Sekarang sih lebih ke Knocked Loose aja cover-nya. Tapi ada beberapa cover yang belum sempet ke akomodir sih, yaitu dari Church Tongue, End dan Chamber.
Menyikapi tren hardcore saat ini, menurut kalian mengapa hal ini berkembang pesat? Mengingat sekitar 5 tahun lalu sepertinya sempat meredup.
Fenomena ini emang udah jadi bahasan di beberapa scene. Dan menurut kami akan selalu jadi bahasan unik sampai kapanpun. Karena tren hardcore yang revive belakangan memang cukup unik dari segi fashion, attitude hingga pattern. Sempat kami merasa kalau trend hardcore beatdown udah berhenti di tahun 2016-2017 awal dengan munculnya entitas scene dan genre lain yang cukup mendominasi. Terutama wave dari scene blackned / black metal yang cukup mendistrupsi secara sporadis sampai ke fashion. Tapi nyatanya wave hardcore kembali muncul terutama pasca pandemi. Sampai platform se-receh TikTok pun punya andil besar dalam meluasnya pengaruh dan paham musik ini. Kami sih melihat hardcore sebagai suatu pendewasaan, layaknya sub genre punk. Karena memang dua sub-genre ini sebenarnya merupakan satu entitas yang nggak bisa dipisahkan. Atas dasar pendewasaan itu, cukup make-sense memang jika crowd musik hardcore (nggak semua) tapi mostly di dominasi sama remaja di bawah usia 25 tahun. Dan nggak ada masalah dengan itu semua.
Karena musik hardcore pada dasarnya lahir dari gerakan perlawanan dan merupakan antitesis dari standarisasi rumit yang diterapkan oleh sederet musisi pada masanya. Jadi make sense juga kenapa music hardcore punya wave yang cukup besar 5 tahun belakangan. Karena memang cukup simple, dan buat kalian yang baru belajar main musik pun bisa dengan cepat mempelajari chord dari genre ini.
Buat crowd? Beat-beat hardcore emang se-asik itu buat moshing. Dan hal ini yang paling disukai sama remaja kan? Mengekspresikan diri mereka sebebas-bebasnya dalam pit yang liar. Karena bagi kami, semua jenis karya pasti menemukan peminatnya masing-masing. So, as long kita nggak judgemental kita bebas memilih dan berganti minat sesuka kita… Cheers
Listen Consvrge – Endless Worshipper Album 2024 on spotify, click link down below
Mengapa bandcamp sebagai media streaming EP kalian, sedangkan jangkauan pendengar dapat dikuasai melalui spotify, apple music bahkan youtube?
Sebenarnya bandcamp hanya sebuah langkah awal untuk media preview atau pengenalan terhadap karya lagu kami, karena bandcamp memberikan fasilitas platform yang mudah dan cepat di akses tanpa menunggu waktu yang lama, dan langsung bisa di nikmati bagi para pendengar, meskipun ada kekurangan dan kelebihan.Tidak hanya bandcamp, kami juga menggunakan platform digital Spotify baru-baru ini, agar jangkauan nya lebih luas dan mudah dinikmati.
Mengapa In Heart membawa elemen-elemen melankolis dalam musikalitas kalian?
Sebenarnya In Heart sendiri sangat antusias dalam berbagai musik musik melankolis namun tetap dalam klimaks tingkat emosi yang agresif, musik post rock, emo/skramz, ambient, shogaze, dan musik musik hardcore yg masih memiliki ranah emo hardcore, dan riff riff intonasi nada lantunan melodi cengeng atau menyetuh, dari awal sampai akhir. Itu alasan kami tetap menyuguhkan karakter musik melankolis.
“This place remind me, about my childhood” apakah kalian menceritakan kerinduan pada track “homesick”?
Di track “homesick” kami menyuguhkan bagaimana tingkat emosional seseorang bisa di gambar kan dari masa lalu nya, kami mengambil gambaran dari masa muda atau masa kecil seseorang, karena di situlah banyak historis yang lebih emosional, dan disitulah banyak tersirat kunci proses kedewasaan menerima apa ada nya agar selaras dan merasakan harmonisasi.
Formula apa yang kalian lakukan pada track Ocean of Time dengan durasi 02.46 menit namun tetap berisi dan temaram?
Kami mengadopsi intonasi dengan gaya nada halusinasi atau bayang-bayang,samar-samar seperti musik shogaze, post rock, supaya pendengar hanyut dalam lantunan nada tersebut di komposisi kan dengan karakter musik kami yang masih terdistorsi namun tetap easy listening.
Mengapa menambahkan clean vokal perempuan pada single Broken Apart dan Ocean of time?
Simpel saja, kami mencari feellin selain dari feell melodi gitar, kami juga menggunakan vocal karakter perempuan untuk di jadikan feellin musik kami, mungkin pendapat kami,vocal perempuan lebih emosional.
Tidak seperti band Hardocre pada umumnya, kalian terpampang pada Radar Ponorogo di 10 Desember 2021. Bersamaan dengan Knocked Loose yang tampil di acara Jimmy Kimel. Apakah ini momentum bahwa musik dengan subkultur tertentu ini, sudah saatnya keluar dari hutan belantara menuju ekosistem yang lebih luas?
Mungkin hanya sebuah kebetulan saja, kami hanya band ranah kota ke 3 yang masih merintis dan banyak belajar, dan selebihnya kami hanya band pengusung subgenre hardcore untuk lebih mengenalkan ke para pendengar bahwa hardcore itu luas banyak warna dan jenis nya, tapi masih dalam naungan underground.
Menyikapi modernitas pada panggung mana yang kalian pilih direct atau ampli on stage?
Kami dalam segi equipment mungkin lebih mempersiapkan terlebih dahulu, supaya di vanue show, lebih siap. Entah itu direct/on stage kami tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, bagaimana pun kita tetap band yang butuh panggung. Tetapi kami tetap memiliki standarisasi dengan menyuguhkan musik kami. Jadi kami mempersiapkan itu semua untuk kenyamanan bersama. Direct ampli maupun on stage kami tetap siap dalam kondisi apa pun.
Bagaimana pandangan kalian terhadap lagu cinta yang mendominasi kultur musik saat ini? Bukankah genre yang kalian anut melingkupi khasanah tersebut?
Bagi kami tema soal emosional seseorang, bisa lebih mengena entah perasaan,cinta,amarah,atau hal semacam lain nya yang masih melingkupi gejolak emosi. Karena sepenuhnya manusia adalah mahluk emosional jadi kami mengambil sisi tersebut yang lebih mendominasi dan bersifat universal, itu kunci dasar kami.
Apakah kalian percaya bahwa lirik yang emosional dipadukan dengan aransemen musik yang kuat dapat menjadi formula yang mematikan untuk pendengar? mengapa demikian?
Kami sangat menyakini hal tersebut, di situlah titik formula nya, karena manusia di dominasi oleh tingkat emosional nya masing masing, dengan perjalanan dan pengalaman nya masing masing.
Apa keinginan kalian setelah EP ini rilis?
Kami akan melakukan perjalanan Tour untuk EP pertama kami, setelah itu agenda selanjutnya akan merilis lagi single-single baru dengan nuansa yang berbeda dan lebih segar.
Listen In Heart – Gray EP 2024 on spotify, click link down below
Better With You vol 1 adalah awal pertemuan saya dan pertama kali saya melihat show band asal malang yang telah merilis album beberapa waktu lalu. Cukup excited dengan formasi 3 orang namun mampu mengimplementasikan gear yang mereka bawa untuk sound yang megah, raw, memekak telinga dan tentu saja membuat crowd meliar. Di akhir show sata menyempatkan untuk mengobrol dengan sang vokalis hingga berujung tertulisnya interview ini.
Seperti pada umumnya sebuah percakapan, kepada siapa saya kali ini berbicara?
Haloo saya Naufal vokalis sekaligus gitaris dari Sir Lord Buzz
Argumentasi perihal penyebutan genre dianggap sudah usang, lalu bagaimana kalian mendeskripsikan musik kalian?
Kalau roots utamanya Sir Lord Buzz adalah Grunge, tapi terserah kalian ingin melabeli genre apa kepada kami. Pada press rilis kami biasanya menyebut Buzz adalah Heavy Grunge Dirty Sound.
Hampir 10 tahun perjalanan bermusik kalian dari 2015 hingga sekarang. Sesuai dengan deskripsi kalian di spotify, “MENGGEBER KUPING KALIAN DENGAN SOUND YANG DIRTY DAN MELEDAK-LEDAK”, apakah kalian sudah berhasil merepresentasikan musikalitas kalian dengan semboyan tersebut?
Untuk statement itu, kami rasa kami sudah berhasil untuk melakukannya. Sir Lord Buzz bukan hanya untuk didengarkan, tapi kalian harus datang ke pertunjukan kami untuk merasakannya sendiri!
Album “AWAS” kalian rilis di tahun 2021, di era seperti ini dimana musisi merilis single. Justru kalian merilis album, mengapa terbesit demikian?
Menurur kami album adalah sebuah keharusan, minimal satu tahun sekali. Kita bisa merilis single kapan saja. Namun, album memiliki ke-eklusifannya tersendiri bagi musisi yang memilikinya.
Dan di tahun 2024, kalian merilis single -2+1, apa definisi yang tersirat dari penulisan judul dan lagu tersebut?
Sederhananya adalah, -2 adalah interpretasi dari kegiatan negatif apapun itu. Sedangkan +1 adalah interpretasi dari kebaikan sekecil apapun itu.
“Merayakan Benci” adalah salah satu single kalian yang sudah dapat diakses oleh Digital Streaming Platform, apakah merasa lagu tersebut relate dengan keadaan sekarang?
Hahahahaha, kalo dibilang relate pasti relate dong. Banyak hal-hal yang buruk yang kita alami, entah kesalahan-kesalahan yang membuat kita diperbincangkan secara negatif. Namun Sir Lord Buzz memilih untuk merayakan kebencian-kebencian itu. Banyak faktor sih kenapa lagu ini bisa tercipta.
Saat kalian live di “Better With You”, saya mengamati kalian menggunakan Electro Harmonic Big Muff sebagai drive kalian. Seberapa penting kah pedal tersebut terhadap sound band?1 response
Weeeeiitttss wkwkwkwkw, demi mendapatkan sound yang kotor dan terkesan high gain tapi masih sopan di telinga. Makanya Big Muff menjadi pilihan yang oke untuk menggeber kuping kalian hehehehe.
Kembali ke album “AWAS”, apakah kalian sebuah band yang terstruktur dalam well-design dalam proses kreatif penciptaan lagu atau memang kalian berproses secara acak saja dalam menemukan riff kemudian dijahit menjadi sebuah materi?
Album Awas!!! Merupakan proses terberat dalam perjalanan Buzz, pergantian personil menjadi faktor. Kebanyakan lagu-lagu di album itu adalah peninggalan dari personil lama yang memang menyiapkan materi itu secara serius. Tapi lebih banyak ber-eksperimen di riffnya karena kita tidak terpaku pada Seattle sound saja.
Lalu apa misi kedepan untuk Sir Lord Buzz dalam memekakkan telinga masyarakat dalam ekosistem ini?
Sir Lord Buzz akan tetap menemani keresahanmu, amarahmu, ketidak tauan arahmu. Kami selalu percaya bahwa semua lagu yang kami tulis adalah proses-proses sosial yang melekat dengan kehidupan sekarang.
Listen Sir Lord Buzz – Awas Album 2024 on spotify, click link down below
Di awal tahun 2024, band hardcore asal Sidoarjo menyambangi kota kami tercinta ini. Sebuah moment yang tepat disaat saya berada di sana menyaksikan show mereka yang penuh energi. Saya menyempatkan waktu untuk mengobrol dengan mereka dan lebih jauh saling memfollow di sosial media untuk terkoneksi dalam menjaga pertemanan. Hingga pada saat saya memutuskan untuk menghidupkan webzine ini lagi, mereka saya pilih sebagai narasumber pertama saya untuk season kedua ini. Dan sambutlah mereka, Gruff.
Hallo semua, Delta disini dari ilvsioptik webzine. Dengan siapa kali ini saya berbicara?
Eggik : Eggik biasa di panggil endog Gruff pada bass
Rizky : Hallo, aku Rizky gitarisnya gruff
Raka : dengan Raka , posisi pada drum & lead vocal
Avis : Avis
Hendy : HENDY KURNIAWAN
Bagaimana Gruff mendefinisikan musik hardcore yang kalian anut?
Eggik : Hardcore adalah musik kebebasan yang tidak memiliki batas apapun itu, dimana Gruff menerapkan Musik dengan mencampurkan berbagai unsur yang bisa di dengar. Jika di analogikan Rujak dengan unsur-unsurnya itu sangatlah nikmat. Bagaimana pun orang Indonesia melakukan hal yang bercampur-campur
Rizky : Menurutku gruff mendefinisikan musik hardcore paket komplit. lebih tepatnya kita engga mau terpatok hanya dalam satu genre karna kita selalu ingin explore dalam bermusik, misalnya kita mencoba meramu musik hardcore di padukan dengan metal,emo,shoegaze,arabic,dll. di lagu baru yang belum release ada sedikit sentuhan lead rock n roll. Intinya kita mencoba membuat musik hardcore yang agak berbeda.
Raka : Music Hardcore yang di anut oleh Gruff adalah seperti sebuah bentuk karya ekspresi kebebasan yang dibuat dengan sederhana , jujur , terkadang emosional dan penuh amarah. Kita juga tidak percaya terhadap konsep jika music hardcore adalah music yang monoton dan terkesan membosankan banyak aturan, tapi kita selalu percaya bahwa hardcore adalah tentang ekspresi kebebasan kepercayaan diri yang bertanggung jawap . kita sering mencampurkan vibe elemen elemen pemanis seperti Emo, Alt-Rock 2000an, Shoegaze, Metal di dalam track kita. di karenakan sehari-hari kita juga bertumbuh dengan soundtrack genre tersebut, tapi tidak juga melupakan benang merahnya.
Hendy : Hardcore yang berani explore
Misi apa yang anda sampaikan dengan 4 track bertajuk Fault, Great Expectation, Break The Fear dan Bury You Under The Tails dalam satu EP?
Eggik : Misi gruff pada pembuatan lirik selalu mencoba untuk mengangkat hal-ha dan isu yang sangat dekat dengan kehidupan personilnya. Fault : di ciptakan ketika scene di kota kita di rasa kurang asik (kurang merangkul satu sama lain ketika di pit) walau pun banyak orang yang kurang notice terkait hal itu kami tidak se menggurui itu, hanya ingin mengenangnya dalam lagu. Break the fear : intinya mengangkat isu Bullying, personil kami pernah merasakan hal itu pada ia sekolah. Great expectation : menceritakan kehidupan drumer kita “Raka” yang cinta mati terhadap anaknya walaupun rumah tangganya sudah sah untuk berpisah. Raka menaruh harapan yang sangat besar terhadap anaknya, lalu hal itu di ceritakan di lagu Great Expectation
Rizky : Misiku adalah meluapkan ide-ide ku dalam bermusik, untuk di sampaikan ke pendengar tentunya dalam bentuk karya. Barangkali lagu-lagu gruff bisa menjadi inspirasi juga nantinya, aku bakal seneng banget sih.
Raka : 4 track dalam self titled kemarin. menurut saya pribadi, berkaitan dengan irisan hidup para personel seluruh dinamika dan problematikanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Avis : Yang pasti kami sedang mengutarakan keresahan yang ada dalam benak kami tentang masalah² yang ada di sekitar dengan dibalut musikalitas yang berbeda, secara garis besar semoga kita semua saling mendukung sebuah karya dan pilihan tanpa ada suatu perpecahan didalamnya
Hendy : Berbagi energi positif dan ingin bercerita berbagi rasa yang mungkin sedang kita dari personil rasakan semoga sampai ke para pendengar dari lagu lagu kita
Great Expectation memiliki aura shoegaze, emo dan feel sad emotion dengan sentuhan reverb yang basah dimenit 3.07 hingga 6.13, apa yang melandasi kalian menggunakan elemen tersebut?
Eggik :Cerita ini mungkin anak anak gruff lupa. Suatu hari semua personil datang di sebuah acara musik di kota kami. Pada saat itu kami terinspirasi dari musik yang di bawakan oleh Beeswex . Beeswex pada di penutup performnya permainan musiknya perlahan-lahan kelam. Inspisrasi itu akhirnya di kembangkan oleh Along dan Raka, hingga di rembukan lagi kalau lagu Great expectation di outro nya di kasik bumbu-bumbu feel sad kayaknya keren dan gas jadilah seperti itu
Rizky : Karna sepertinya asik kalo kita tambahin sentuhan yang agak berbeda meskipun terkesan jomplang “but why not?” . Dan karena liriknya emang cocok dengan fibe yang agak sedih seperti yang ada di penggalan lirik “I feel so blue,but i still stand for you” Ide ini kalo gasalah datang dari Hendi gitaris gruff, dan Kebetulan waktu itu aku lagi suka dengerin morgensoll, gara-gara liat mereka live season di pelatar live. fun fact nya aku dapet isian2 gitar part yang agak emo/shoegaze ini pas waktu recording.
Raka : menurut saya sebagai salah satu penulis lirik di lagu ini , betapa egoisnya jika lagu ini tidak ada vibe sedihnya karena lirik lagu ini sangat emosional, lagu ini bisa jadi pengingat juga untuk mencintai diri sendiri dan mencintai & menjaga orang yang kita sayangi (keluarga) FYI penambahan part dimenit 3.07 hingga 6.13 terinspirasi dari band Touche Amore, yapp. salah satu band favorit kita.
Avis : Biar king along ( Hendy ) yang jawab
Hendy : Mungkin karena pada waktu brainstorming mengenai lagu ini yang awalnya tidak ada part tambahan yang seperti itu, itu terinspirasi karana waktu itu sedang lagi senang2nya dengerin touche amore – honest sleep yang membuat kita terinspirasi membuat part yang selow diakhir, karna didasari dengan lyrics yang terkesan sedih
Fault memiliki pendengar terbanyak di spotify hingga per hari ini 7187 pendengar, apakah ini penting untuk kalian? apakah alogaritma sosial media mempengaruhi musikalitas kalian?
Eggik :Pendengar yang banyak seperti lagu Fault menurut gruff bukan soal penting atau tidaknya. Melainkan ada sisi kebanggaan tersendiri bisa di angkah itu. Dan algoritma sosial media di sosial media tidak mempengaruhi warna dari musik yang kita ciptakan. Namun pada kreatifitas musik kita mencoba mood lagu yang ingin kita ciptakan sendiri
Rizky : Menurutku jumlah pendengar ini lumayan penting, karna secara tidak langsung itu berarti semakin banyak pendengarnya, maka semakin banyak yang suka dengan karya yang kita buat. Lebih ke kepuasan tersendiri. Untukku pribadi,masalah algoritma social media enggak terlalu berpengaruh karna entah apapun algoritmanya,aku akan tetap membuat karya.
Raka :Menurut saya cukup penting, siapa tau syukur Alhamdulillah lewat lagu (Fault) kita bisa menyambung tali sillaturahmi di kota kota para pendengar tersebut. menurut saya alogaritma sosmed tidak berdampak sama sekali untuk kualitas musik kami. Karena sudah ada formula dalam diri kita sendiri untuk pembuatan karya agar tercipta musikalitas yang proper.
Hendy : Pendengar yang banyak seperti lagu Fault menurut gruff bukan soal penting atau tidaknya. Melainkan ada sisi kebanggaan tersendiri untuk bisa di angka itu. Dan algoritma sosial media di sosial media tidak mempengaruhi warna dari musik yang kita ciptakan. Namun pada kreatifitas musik kita mencoba mood mood baru lagu yang ingin kita ciptakan sendiri
Selain itu pada lagu Great Expectation berdurasi sangat panjang, bukankah ini hal yang tidak biasa untuk band Hardcore?
Eggik :Gruff ingin berbeda dari hardcore pada umumnya
Rizky : Menurutku gak ada patokan/batasan baku untuk durasi lagu, asal komposisi nya oke dan tidak membosankan,masalah durasi hanyalah jumlah waktu.
Raka :Karena untuk 2 menit saja tidak cukup untuk menulis curahan hati POV seorang Bapak yang sangat mencintai buah hatinya, pada awalnya lagu ini hanya menjadi paragraf puisi usang di dalam folder catatan di handphone tentang “Perceraian Bukan lah Akhir dari Kehidupan ini”. Tetapi karena merasa ingin membuat karya yang relate, jujur dengan emosional personil di rekam lah lagu ini, wajar jika anda merasa bosan mendengar track ini jika di putar satu kali. Mungkin di hitungan putaran waktu kedua semoga anda merasakan apa yang kami rasakan.
Avis : Mencurahkan isi hati memang sudah seharusnya tuntas dan puas
Hendy : Karna kita mempunyai fisi ingin membuat music hardcore yang berbeda dari yang lain
Lawatan tour kalian melewati bumi orek-orek Ngawi melalui Ngawi Thrift Market Showcase Januari lalu. Energi kalian saat perform benar-benar luar biasa. apakah show dengan energi seperti itu akan terus dilakukan gruff meskipun moshpit tidak seliar ekspetasi kalian?
Eggik :Selama pangungan dilewati gruff selalu ingin terlihat energik. Pernah suatu hari kami main di malang tapi pada saat itu tidak ada yang maju bikin pit sama sekali mungkin di part part yang beatdown banget, tapi kami Gruff malah lompat lompat dan frestyle . Karena penonton banyak atau sedikit bagi saya pribadi tidak menurunkan performence selama itu kondusif
Rizky : Kita selalu menerapkan panggung itu sebagai taman bermain, kita bebas meluapkan energi selaknya anak kecil yang dengan riangnya bermain tanpa memperdulikan sekitarnya, panggung adalah milik performance,jadi entah moshpit sepi atau rame kita tetap akan menampilkan sesuatu semaksimal yang kita bisa.
Raka : Mungkin karena perform atau manggung adalah Healing untuk kita dari sumpeknya rutinitas sibuk kerja sehari-hari, bisa di pastikan energi nya untuk saat ini masih selalu sama. meskipun moshpit tidak seliar yang gimana gimana. kami tidak pernah mempermasalahkan itu, karena cara orang menikmati gigs dengan bertanggung jawap juga beraneka ragam.
Avis : Semua bentuk vibes yang terjadi akan selalu kami nikmati selagi semua masih bisa kondusif, sebab panggung bagi saya sendiri adalah tempat bersenang² dan silaturahmi
Hendy : Akan selalu seperti itu, karna menurut kami panggung itu udah jadi tempat have fun yang selalu kita pengen pijakin terus, utuk masalah vibe untuk setiap kota memang selalu berbeda beda tapi kita selalu ingin memberikan perform yang terbaik buat para penonton, tapi ngawi the best baru kali itu kami perform jam set 1 malem dan gaada pihak pihak yang berhentiin kami enjoy banget, ngawi terbaik🔥🤝
Beberapa waktu lalu kalian bermain di event yang free ticket. sedangkan di media sosial sedang ramai bahwa harga tiket menentukan kualitas penonton. bagaimana kalian menanggapinya?
Eggik :Pada prihal itu, kita tidak memiliki aturan atau batasan seperti itu. Harga tiket dan kualitas musik adalah dua hal yang berbeda. Harga tiket di tentukan bagaimana produksi event itu sendiri atau bahkan tidak ada biaya tiket selama Event tidak rugi . Dan kualitas musik dalam hal itu harus selalu di perhatikan dalam sebuah band, jika band yang kualitasnya bagus terus main di acara free tiket adalah moment yang asik untuk menunjukan yang terbaik untuk band itu, karena yang datang pada event itu berbagai macam orang. Bisa potensi band itu bakal di terima orang lebih luas lagi
Rizky : Memang tidak dapat di pungkiri harga tiket lebih menyaring audience, misal kita ibaratkan gigs dengan harga tiket entah nominal berapapun itu,apalagi agak mahal, biasanya yang datang memang benar-benar ingin melihat band yang tampil. Tapi itu juga bukan jaminan kalau acara pasti akan berjalan aman, karena menurutku itu adalah tanggung jawab kita bersama,entah itu panita,band yang perform,audince juga harus menjaga agar acara tetap kondusif.
Raka : Why Not? mungkin kebetulan pihak panitia sedang banyak rezeki, dan masih banyak lagi alesan lain nya. untuk perihal kualitas penonton bukan hak kami untuk men-justifikasi, alangkah lebih baiknya sudah ada filter dalam diri untuk lebih bertanggung jawap saat menikmati sebuah Gigs, terlepas itu free entry, dll.
Avis : Untuk perihal memfilter penonton itu bukan hak kami, ya alangkah lebih baik nya untuk lebih bertanggung jawab lagi terhadap diri sendiri dalam menikmati gigs dan mengapresiasi vibes didalamnya
Hendy : Untuk perihal pertanyaan harga tiket menentukan kualitas menurut saya adalah bualan, karena semua orang berhak untuk bersenang senang untuk bergembira di dalam pit. Saya pribadi merasa senang bisa membantu kawan untuk berpartisipasi dalam acaranya, karena menurut saya poin utama yang dapat diambil adalah saling membantu dan terkoneksi.
Bagaimana tanggapan kalian untuk hardcore for fashion? yang tidak menjadikan hardcore sebagai attitude?
Eggik :Fashion untuk hardcore per hari ini menarik semua orang berhak untuk menentuka style fashionnya sendiri. Namun dalam garis besar alangkah baiknya Sikap dan pola fikir harus di perbaiki dan di hiasi, layaknya fashion kalian sendiri yang sepatu kalian mahal, topi kalian mahal, kaos kalian mahal tapi pola fikir dan pola sikap masih murahan dan merusak ekosistem hardcore .sangat tidak baik dan menjijikan
Rizky : Hardcore for fashion menurutku sah-sah aja,secara gak langsung mereka yang membeli merch dari band yang mereka suka,atau bahkan dari band yang mereka enggak tau lagunya sekalipun itu sudah membantu si band untuk survive dalam berkarya. Bahkan bisa aja orang yang awalnya gak tau sama si band jadi penasaran dan akhirnya tau band tersebut dari merch yang mereka beli dan akhirnya mulai mendengarkan karya nya.
Raka : Bagi saya untuk menunjang fashion agar terlihat hardcore membutuhkan kepercayaan diri yang baik. Kepercayaan diri diawali oleh konsep diri. Alangkah baiknya melihat hubungan konsep diri dan kepercayaan diri pada Hardcore tersebut. Attitude adalah point utama.
Avis : Sebenarnya sah sah aja apabila fashion itu didukung dengan tidak membeli merch bajakan atau mendukung produk² lokal teman kalian, karena datang di gigs hardcore dengan style kalian sendiri adalah suatu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri terlebih juga pada produk yang kita pakai. Hardcore and style for attitude
Hendy : Sebenernya sih fine aja, tapi semoga dengan adanya triger fashion hardcore mereka mau mengulik lebih dalam tentang hardcore itu seperti apa
Apakah setiap personil merasakan ada benang merah antara kehidupan dan sisi musikalitas kalian?
Eggik :Saya pribadi merasakan itu ada. Karena lirik dan instrument yang berwarna-warni pada per lagu gruff di ciptakan dengan mood yang sesuai dengan kehidupan . Terutama pada Great Expectation yang lebih berkesan bagi saya pribadi
Rizky : Kalo aku benang merah antara kehidupan dan musikalitas itu saling berkesinambungan , karna akupun membuat karya secara tidak langsung terpengaruh oleh kebiasaan/kehidupan ku sehari-hari, atau pengalaman hidup yang pernah aku lewati.
Raka : kita merasa ada benang-merah antara karya dan kehidupan sehari-hari kita, karena karya kita berkaitan dengan irisan hidup para personel seluruh dinamika dan problematikanya
Avis : Saya rasa memang ada sebab lirik yang saya gambarkan adalah pure keresahan yang sedang saya alami saat itu bahkan beberapa tahun lalu
Hendy : 80%
Apa kalian merasa keadaan sosial kalian senada dengan lirik-lirik yang Gruff sampaikan?
Eggik :Bagi saya pribadi masih pada tanggung jawab itu sebagai personil band. Walau pun ketakutan yang ada di diri saya pribadi dan anak anak gruff tidak semua kami lawan ketakutan itu.
Rizky : Mungkin di beberapa lagu ada yang relate denganku, misal break the fear untuk ku pribadi adalah melawan ketakutan dalam berkarya. Jangan takut membuat karya apalagi minder . Intinya buat aja dulu, masalah orang lain akan suka atau enggak dengan apa yang kita buat, kita kembalikan lagi ke mereka. Karna aku selalu percaya setiap musik punya pasarnya masing-masing.
Raka : 80%
Avis : 85%
mengapa cover EP kalian menggunakan kolase foto, tidak selazimnya band lain menggunakan artwork ilustrasi?
Eggik :Karena pada saat itu peluncuran EP benar-benar butuh percepatan saja. Akhirnya bikin kolase foto yang bisa jadi berbeda dengan band lain.
Rizky : Selain menghemat biaya kita juga ingin sedikit mengenalkan sekilas foto dari personel gruff sendiri dalam bentuk kolase.
Raka : Karena di era itu kami personil Gruff, sedang sering melakukan kegiatan jamming kolase mingguan. dengan tujuan menghibur diri versi positive saat berkumpul di basecamp kita. menurut kami hal yang seru jika hasil foto debut kita saat perfomance kita bikin kolase, Kun Fayakun.
Avis : Kebetulan saya sendiri suka berkolase manual maupun digital, pada waktu itu saya cuma iseng bikin kolase digital menggabungkan foto² kita waktu manggung, ketika saya up di story wa ternyata banyak yang setuju jika dibuat cover ep
Hendy : Mungkin kita pada waktu ingin melanjutkan artwork dari single pertama kami yang di up di bandcamp seblum menjadi ep yang sekarang yaitu fault, fun factnya kita juga masih belom ada modal buat bikin artwork di ilustrator wkwk jadi kita bikin seadanya aja lah dan itu juga foto pas kita lagi manggung di acara world colage day di sidoarjo 🤝
Final word untuk siapapun?
Eggik :Tunggu rilisan lagu baru dari gruff yang insyallah jauh lebih berwarna dari EP yang sebelumnya
Rizky : Berlarilah,ukirlah kisah.
Raka : Ini bebas ini semua bebas Ini yang kau mau kau berhak bebas
Avis : See your eyes and believe
Hendy : don’t be scared
Listen Gruff – Self Titled EP 2023 on spotify, click link down below