Menggeramkan Amarah, Mashedbrains

Manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).

Psikolog brilian asal RusiaPavel Semenov

Seharusnya tulisan ini sudah kadaluarsa karena sudah terlewat beberapa bulan. Namun apa peduli saya? Kalau ini masih layak dibaca, tentukan saja tanggal postnya dan sebarkan!

Sebelum era hardcore kid (Sebutan saya untuk orang-orang yang ngakunya hardcore tapi sekedar poser) saya sempat memuja beberapa band di tempat saya tinggal. Dimana mereka banyak yang memainkan hardcore beatdown yang atraktif. Setiap kali band hardcore live, raga serasa bergejolak untuk berada di tengah moshpit, sekalipun saya memakai atribut death metal.

Berselang tahun lamanya banyak band yang bubar dan salah satunya ada yang menyisakan show terakhir mereka kala itu di NGAWI ROCK IN FREEDOM 2017. Namun gairah untuk band-bandnan masih terasa hingga muncul satu kekuatan baru yang menyedot aura saya untuk mendikumentasikan obrolan ringan kepada sebuah band yang digawangi oleh Mamat, Kokko dan Pratama, terciptalah embrio MASHEDBRAINS.

Left to right : Mamat, Pratama, Kokko. Photo take by Kahanan Kolektif

MASHEDBRAINS yang saya tidak peduli genre apa mereka ada yang bilang punk, hardcore punk, fastcore, power violence atau segala macam tambahan artian untuk sekedar menspesifikasikan mereka, adalah penyegar amarah dikala banyak teman-teman yang merindukan pelampiasan amarah dalam sebuah musik.

Saya bertemu dengan Kokko selaku drummer dari MASHEDBRAINS untuk menceritakan band ini.

Kokko on action with Mashedbrains. Photo take by google.com
  • Bisa diceritakan latar belakang anda membentuk Mashedbrains?

Halo, sebelumnya perkenalkan aku kokok dari mashedbrains. Terima kasih banyak untuk delta dari ilvsi optik zine yang berkenan melibatkan saya pada sesi interview ini. Emm yang menjadi latar belakang membentuk mashedbrains sendiri sih karena pada band sebelumnya di antara mati segan hidup tak mau hahaha, sebenarnya alasannya sama kayak orang lain sih masih pengen ngeband & mungkin biar ada alasan aja bisa main ke luar kota nambah jaringan pertemanan. Karena pertemanan adalah koentji !

  • Bersama mashedbrains, anda adalah band hardcore punk dengan sentuhan blastbeat pertama yang merilis EP di Ngawi, bagaimana perasaan anda?
Mashedbrains, AFRAID EP. Self Released. Photo take by google.com

Sebenarnya sebelum mashedbrains sudah ada Rinanjam dulu band pertama di Ngawi yang menambahkan sedikit tambahan ketukan blastbeat di beberapa lagu tapi memang benar sih mereka belum sempat memuntahkan ep atau album tak tau lagi sekarang nasibnya, karena memang sesuai dengan awal pembentukan MB yang sedikit bosan melihat beberapa band yang memainkan hc/punk yg gitu2 mulu, kami pengen mengembalikan atmosfir moshpit era awal 2000 an dimana hc/punk saat itu dimainkan dalam waktu beberapa detik saja. Dibeberapa kota besar pada era awal 2000 an memang lagi digandrungi band2 ngebut sebut saja Aparat Mati (Bandung), Domestik Doktrin (Bandung), Mortal Combat (Jogja) dll walaupun sebenarnya sih aku gak ikut ngerasain euforianya. Buat aku sendiri sih kenapa bisa tertarik untuk membentuk band ngebut ini pertama kali karena membaca dari beberapa zine yang saat itu gencar mempromosikan band2 fastcore/ thrashcore/ powerviolence. Selain itu juga dampak setelah ngobrol bersama teman dari Madiun Bobby Jagger (Midnight Rambler) yang saat itu sedang asik bernostalgia dengan obrolan tentang skena hc/punk di jogja pada era 2000 an. Dari obrolan inilah akhirnya malah aku di ajak donny (negative force) membentuk band baru dengan genre fastcore/ powerviolence. Tapi karena adanya jarak yang memisahkan hahaha akhirnya cuma jadi wacana saja (walaupun sudah beberapa kali latihan di studio sih sebenarnya). Pada akhirnya project band tersebut diteruskan oleh donny & teman2 dimadiun yang akhirnya melahirkan band Who Cares (2013). Dari situlah kemudian aku mempunyai niatan untuk membentuk band fastcore/ powerviolence sendiri yang saat itu masih bernama Samber Bledex (2015). Sempat main di beberapa gigs tapi setelah itu karena ada beberapa kesibukan dari personil SB akhirnya aku mengajak Mamat (rinanjam) dan Putra (voltup) untuk melanjutkan lagi dan sepakat ganti nama jadi Mashedbrains.

Mashedbrains. Photo take by google.com
  • Seberapa pentingkah sebuah band untuk mengemas dan mendokumentasikan karyanya, dari sudut pandang mashedbains?

Penting banget sih, ngapain lagi ngeband kalo gak buat rilisan fisik ? Emm mengutip obrolan Garna (Ak47) dengan salah satu media “bahwa yang sekedar terucap itu akan hilang, tapi yang tertulis akan abadi” jadi dengan mendokumentasikan karya itu merupakan sebuah pencatatan sejarah yang kelak mampu dinikmati generasi setelah kita. Jadi dengan adanya rilisan fisik teman2 yang lain juga bisa ikut berkontribusi dengan cara membeli rilisan fisik tersebut, agar keuangan di dalam band juga bisa terbantu dengan adanya support dari teman2 semua. Kita juga bisa trade dengan rilisan dari temen2 band lain dan bisa saling membantu dalam mendistribusikan rilisan.

  • Apa konsep EP anda tersebut?

Pada EP perdana Mashedbrains ini kami sepakat dengan mengusung tema war on drugs & juga tumbuhan yang sampai saat ini menyebut namanya saja masih dianggap sebagai sbuah hal yang tabu. Pada EP Afraid bercerita tentang paranoia yang dimiliki oleh masyarakat terhadap sebuah tanaman yang sebenarnya memiliki banyak manfaat, yang saat ini manfaatnya baru dirasakan oleh segelintir orang saja. Kenapa afraid, karena memang itulah cerminan dari apa yang tergambarkan setelah mencoba membayangkan tanaman tersebut. Ketakutan yang dimaksud disini bukanlah ketakutan efek samping setelah mengkonsumsi atau sejenisnya tapi ketakutan tentang sistem hukum yang membelenggu orang yang coba2 berdekatan dengan tanaman tersebut, sistem hukum yang nantinya akan sangat merugikan orang yang mencoba untuk menggunakannya. Padahal pemerintah tidak pernah tahu latar belakang orang yang berkenalan dengan tanaman tersebut, apakah untuk sekedar bersenang senang, bertahan hidup, atau untuk pengobatan ? Mereka semua dipukul rata disandingkan dengan pemakai narkotika kelas 1 yang hukumannya jelas akan sangat merugikan orang tersebut. Selain itu kami juga menggambarkan sikap kesewenangan aparat terhadap rakyat yang semena mena. Khususnya pada kasus war on drugs, aparat diberikan kekuasaan untuk mengakhiri hidup seseorang hanya karena dia mengkonsumsi tanaman tersebut. Padahal, sebagian aparat sebenarnya juga ikut mengkonsumsi dan terlibat dalam pendistribusian tanaman tersebut, tapi seakan seperti serigala berbulu domba, mereka tidak perduli yang terpenting berita acara telah terisi dan besok naik pangkat lagi. Sedangkan dari segi sound kami terinfluence dari beberapa band2 yang berada dibawah naungan Slap a Ham Record, To Live a Lie Record dan Youth Attack Record.

  • Bisa ceritakan tour Mashedbrains bertajuk Afraid Central Java Tour 2018?

Hahaha sebenarnya itu tur dadakan sih, sebelumnya kami diajak temen2 semarang untuk ikut berpartisipasi di acaranya temen2 semarang grindcore kartel yaitu di acara Detonasi Semarang Grindcore Festival, nah dari situ baru kepikiran kenapa tidak tur sekalian? Nah akhirnya aku mengkontak beberapa teman di Jogja, Solo dan Sragen. Setelah fix dengan masalah tanggal di setiap kota bulan juli kami nekat berangkat. Sedikit pontang panting sih karena waktu persiapan yang sangat mepet tapi alhamdulillah turnya sukses dan lancar. Oh iya, kami juga mau berterima kasih kepada semua teman yang telah kami repotkan dan kami temui di tiap kota selama perjalanan tur, semoga kita segera dipertemukan kemballiiii.

Setelah mereka melaksanakan Afraid Central Java Tour 2018, Mashedbrains bersama Alzheimergrind, Lembuade dan Ternoda melakukan tour ke Bali bertajuk Namanya Juga Tour 2019. Photo take by google.com
  • Beritahu kepada pembaca makna tour bagi band yang telah mengeluarkan karya. Mengapa band melaksanakan tour?

Ngeband tanpa tur bagai sayur tanpa garam kurang sedep, tur merupakan rukun iman dari ngeband yang apabila tidak dilakukan bisa dosa hahaha. selain sebagai media promosi atas rilisan yang telah kita keluarkan, tur juga merupakan ajang untuk menambah jaringan pertemanan di berbagai kota. Kita akan bertemu wajah baru dan wajah lama pada saat menggelar tur ditiap kota dan pasti akan mendapatkan cerita, ilmu dan pengalaman baru yang tidak terlupakan. Oh iya, untuk teman – teman luar kota yang akan melakukan tur dan ingin singgah ke Ngawi bisa mengkontak saya atau bisa menghubungi teman2 di Kahanan Kolektif.

  • Bagaimana menurut pendapat anda skena hardcore punk saat ini?

Skena hc/punk saat ini masih tetap menyenangkan walaupun pasti ada wajah lama yang pergi dan wajah baru yang datang tidak masalah, intinya kita semua ingin belajar dan bersenang senang bersama disini.

  • Stereotype masyarakat melihat punk justru mengarah ke kaum-kaum gelandangan yang terlihat mengamen atau bergerombol di jalanan, bagaimana anda selaku member Mashedbrains menyikapinya?

Hahaha mau gimana lagi faktanya memang banyak orang yang berdandan ala punk dan mengatakan dirinya punk, mengamen dan merusuh dijalan. Kalo banyak orang yang akhirnya mengambil kesimpulan bahwa seperti itulah punk ya mau gimana lagi… Nah kemarin waktu tur aku bertemu dengan Bisma dari Spektakel Klab Palembang, Spektakel Klab merupakan salah satu skena hc/punk di Palembang yang aktif mengorganisir berbagai kegiatan mandiri dipalembang. Selain mengorganisir gigs untuk band yang akan tur ke palembang teman2 Spektakel Klab juga sering mengorganisir kegiatan seperti workshop, chairity show, screening film, fnb dan berbagai kegiatan menarik lainnya. Nah hebatnya nih mereka mulai mengajak teman2 street punk di Palembang untuk ikut berkontribusi nyata dalam kegiatannya seperti melibatkan teman2 street punk untuk berkontribusi saat mengorganisir band yang sedang tur, mensupport kegiatan yang dibuat oleh teman2 street punk dengan cara datang dan membeli tiket, mengajak temen2 street punk mengikuti workshop sablon agar sedikit demi sedikit mulai meninggalkan ngamen dan beralih ke sablon untuk alternatif bertahan hidup, mengajak mereka untuk berkontribusi di kegiatan food not bomb, may day dan lain lain. Jadi jika kamu jengah dengan pandangan orang tentang label punk yang disematkan terhadap mereka kamu bisa mengadaptasi cara yang dilakukan oleh2 temen2 Spektakel Klab Palembang tanpa menjudge mereka.

  • Terlebih lagi terdengar kabar setiap ada event/gigs dimana terdapat segerombolan oknum yang mengatasnamakan punk selalu berakhir rusuh, apa pendapat anda dengan hal demikian?

Menurutku sih gak cuma yang berdandan ala punk yang sering merusuh, kadang ada juga yang berdandan ala gangster hahahaha.

  • sikap anda tentang RUU musik?

Mau ada RUU musik atau nggak bagi band underground kampung seperti kami sama aja dan gak pernah ambil pusing, tapi mungkin buat band yang udah lalu lalang dipanggung acara festival dan semacamnya pasti jelas ada dampaknya. Mungkin ada yg mau coba buat petisi agar gak jadi disahkan ?

  • Pesan untuk para pembaca?

Karena budaya menulis dan membaca memang sudah seharusnya harus kita tularkan kepada setiap orang, begitupun juga dengan budaya mengapresiasi. Kita juga harus menularkan buadaya untuk mengapreisasi segala bentuk pergerakan positif dari semua teman disekitar kita. Maka dari itu untuk teman2 semua mari kita dukung zine ini supaya masih tetap berlanjut dan seterusnya dengan kontribusi yang nyata. jangan pelit anjing ! Salam :))

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started