Mengingat Kerajaan Wilwatikta Dalam Album Paranoid Despire, Majasty

Paranoid Despire, salah satu band death metal yang dulunya saya kenal melalui salah satu personilnya, Wahyu. Yang mana saat itu dia adalah adik tingkat saya di kampus. Saya berpikir awalnya ini adalah band biasa yang saya temui sehari-hari dimana saat gigs sekedar memuaskan nafsu headbang.

Ternyata tidak!

Band ini memainkan death metal yang tidak biasa dengan komposisi yang berat terarah tanpa ada sela untuk membantai rasa kagum audience saat mendengar riff-riffnya. Album pertama mereka, NEBULOUS yang dirilis oleh Hitam Kelam Record mendapat respon yang positif dikalangan pecinta musik cadas. Hingga pada tahun 2018, pada tanggal 18.08.18 mereka menampik scene ini dengan album terbaru mereka MAJASTY.

Saat ini, saya bersama sang vokalis Andrian Kokom untuk menceritakan album kedua mereka, MAJASTY yang mereka rilis secara independen. Berikut ulasannya.

Andrian Kokom, Vokalis Paranoid Despire. Photo take by google.com
  • Saya sudah mendengar album Majasty, bisa diceritakan mengenai penggambaran album tersebut?

Album Majasty menggambarkan beberapa peristiwa yang terjadi di bumi Wilwatikta/Majapahit yang bersumber dari Negarakertagama dan Pararaton, ada juga beberapa dari  Babat Tanah Jawi, beberapa cerita yang bertajuk Mitologi yang merupakan konsep awal Paranoid dalam dua album yang telah lahir, kami banyak mengadopsi cerita-cerita kuno yang jarang di perhatikan dan penting untuk disampaikan kepada generasi muda akan keluhuran Majapahit sebagai kerajaan yang mempunyai periode terlama dan mampu mencapai puncak keemasan persatuan Nusantara.

  • Secara sound, apakah kamu menginginkan album sebelumnya seperti (sound) album Majasty?

Ya tentunya, tapi itu merupakan sebuah proses untuk evaluasi kami  untuk menjadi lebih baik, dan kami masih belum puas lebih tepatnya tidak boleh puas, karena kami ingin mempunyai progres lebih baik untuk kedepannya, mungkin untuk album berikutnya kami bisa menyajikannya dengan sound yang lebih baik lagi dari Majasty.

  • Death metal adalah subgenre metal yang berkaitan dengan kematian, kekerasan, gore dan lain-lain. Sedangkan album Majasty menceritakan sejarah Majapahit. Mengapa demikian? Apa yang Paranoid despire, sampaikan?

Kembali lagi pada konsep awal Paranoid yang mengangkat Mitologi sebagai benang merahnya, karena didalam mitologi terdapat bentuk kekerasan, kematian, kengerian dan masih banyak lagi, dan ini akan memperluas kami dalam menuangkan ide-ide dalam penulisan sebuah karya, tidak memungkiri lahirnya sejarah serta ilmu berawal dari mitos, dan terpecahkannya sebuah mitos akan membawa kita kepada kebenaran yang belum kita ketahui. Dan alasan kami mengangkat Majapahit sebenarnya sangat sederhana, karena kami adalah fans para leluhur-leluhur Majapahit, yang meninggalkan banyak ilmu yang luhur yang ingin kami sampaikan dengan musik Deathmetal.

Majasty, Album kedua Paranoid Despire. Self released. Photo take by google.com
  • Di dalam lirik “Aim The Highest” terdapat kalimat “Palapa..”. Apakah single “Aim The Highest” menjadi salah satu acuan album Majasty?

Bisa dibilang seperti itu, karena Nebulous dan Majasty saling berkaitan, tetapi Majasty lebih bersifat mengerucut dan lebih tegas dari pada Nebulous yang masih samar samar dari segi ceritanya.

  • Ada keinginan untuk album Majasty dirlis menjadi vinyl?

Pastinya ada, kami juga ingin merilis Nebulous menjadi vinyl karena dari segi sound akan terdengar lebih real dari media perekam CD ataupun Kaset pita. Dan untuk penikmat musik, itu akan menjadi point plus karena tidak ditemukan dalam format CD ataupun Kaset pita. Dan akan sangat berkesan ketika ada yang meminta tanda tangan di vinyl kami nantinya, seperti yang kami lihat Cannibal Corpse dengan formasi awal, setelah melakukan show “Eat Moscow Alive 1993” dan bertemu dengan para fansnya untuk memberikan signature beberapa vinyl fansnya. Pemandangan yang jarang kita temui di era sekarang, pastinya sangat keren hahaha XD.

  •  Bisa ceritakan atmosfir saat kalian launching album di Mojokerto. Apa yang kalian rasakan?

Bermain dirumah, bisa dikatakan kalau kami pulang kerumah, karena sejatinya Majapahit adalah tanah leluhur kami, dan kami merasakan atmosphere yang berbeda ketika bermain disana, dengan dihadirkannya salah satu pataka Majapahit yaitu Trisula yang dibawa oleh Mas Nanang sebagai juru kunci, dan memadukannya dengan musik Paranoid tentunya itu menjadi moment bersejarah untuk Paranoid, bisa dikatakan bukan sembarangan orang bisa menghadirkan pataka tersebut, ini adalah salah satu wujud restu dari para leluhur kami.

  • Apabila RUU permusikkan disahkan, apa yang kamu lakukan untuk pasal no. 32 (Uji Kompetensi)?

Kalaupun RUU permusikan No.32 disahkan tentunya kami akan menolaknya, dan juga ini akan merugikan setiap musisi karena diwajibkan mengikuti uji kompetensi, walaupun kami belum tau seperti apa penyelenggaraannya tetapi yang jelas itu merupakan sebuah pembatas untuk setiap musisi dalam mengekspresikan karyanya, dan kalau benar disahkan maka kami selaku musisi yang bergerak di ranah Underground akan benar-benar bermain dengan cara Underground, karena sejatinya musik Underground adalah musik perlawanan.

  • Apakah kamu mendengarkan death metal setiap hari? Apa playlistmu akhir-akhir ini?

Setiap hari saya mendengarkan musik Deathmetal, disamping sebagai refrensi saya juga menggemari band-band deathmetal, seperti Obituary, Malevolent Creation, Morbid Angel, Deicide, Gorefest, Cannibal Corpse, Six Feet Under, Entombed, Dismember, Sinister, Fleshcrawl dan masih banyak lagi, tapi saya tidak membatasi diri untuk mendengarkan genre musik lain, seperti Grindcore, Brutal, Heavy Metal, Hardcore, Black Metal, Grunge, Punk. Karena saya juga seorang penikmat musik-musik Underground.

  • Pesan untuk zine dan pembaca

Deathmetal is immortal

Deathroned, Temaram dan Kegelapan Dari Surabaya

Setelah kelahiran sebuah karya, penulis telah mati. The Author is Dead.

— Roland Barthes

Di pertengahan 2016, saya tercengang dengan kehadiran mesin gelap asal Jawa Timur berama Deathroned. pada waktu itu mereka berada di dalam naungan tameng raksasa Hitam Kelam Record selaku pencetak demo mereka. Tanpa pikir panjang saya menghubunginya untuk mendapatkan rilisan tersebut. Hingga pada tahun 2018 saya dapat melihat live mereka saat saya menjadi additional Nicrov.

Alhasil saya dapat ngobrol ringan dengan salah satu personil Deahtroned, Reno Surya.

  • Hai Deathroned, saya Delta dari ILVSI OPTIK ZINE, bisa perkenalkan diri anda dan dengan siapa saya ngobrol?

Hi, Delta! Saya Reno. Saya adalah salah satu dari kolaborator Deathroned. Kolaborator lain adalah E. Leviathan. L. Abyss. Dan di drum saat ini kami di bantu oleh Ical dan Fadly dari Humanure.

Photo from Google.com
  • Sampai hari ini saya menikmati demo MMXVI tetapi saya belum mendapatkan lirik dari Unholy Serpent dan Blasphemy Insane, bisa anda ceritakan latar belakang kedua lagu tersebut?

Ah, okay. Kedua lirik tersebut sebetulnya, sangat prematur bagi kami. Dua repetoar yang terkandung dalam demo pertama kami mengalami dua proses kreatif yang berbeda. Saya bertanggung jawab penuh pada Unholy Serpent, sedangkan L. Abyss yang menulis Blasphemy Insane.

Saya tidak memiliki kapasitas menjawab untuk Blapshemy Insane. Proses diskusi kami saat itu hanya pada fase konstruksi wacana saja pada saat. Seperti tentang ‘bagaimana bentuk lirik di demo kami nanti?’ ‘gagasan apa yang akan dimuat di dalamnya’. Hanya sebatas itu.

Dua lirik yang yang terkandung dalam dua nomor di demo kami adalah sesuatu yang masih sangat komikal. Seperti Unholy Serpent misalnya. Adalah interpretasi saya tentang hal-hal yang sifatnya phantasmagorical. Tentang maha lemahnya kita membedakan hal yang nyata dan fiktif. Tentang kebenaran yang tidak tunggal; yang sebagian manusia anggap suci, adalah kebusukan bagi manusia lainnya. Sedangkan yang kerap di katakan sebagai gelap; adalah sebuah terang bagi manusia lainnya.

  • Pendapat audience dengan demo tersebut?

Kami tidak berharap banyak kepada demo tersebut. Dan sebenarnya kami tidak pernah mengharapkan apapun dari siapapun. Kualitas rekaman jauh dari apa yang kami mau. Masih jauh dari kata memuaskan.

Photo by Yoga Beges, take from google.com
  • Secara tersirat, konsep deathroned lebih mengoyak ke arah keyakinan (yang disampaikan oleh samack dalam press rilis SPLIT dengan Diabolical) dibandingkan dengan konsep gore, brutal, alien dsb. Benarkah? Jika iya, mengapa demikian?

Kami memberikan kebebasan tafsir bagi siapapun. Roland Barthes mengatakan bahwa setelah kelahiran sebuah karya, penulis telah mati. The Author is Dead. Kami mempercayai konsep tersebut. Kenapa demikian? Karena memang yang menjadi fokus kami dalam merakit repetoar adalah memang mempertanyakan kembali tentang keyakinan. Pertanyaan tentang hubungan vertikal, atau justru menyoal—atau mengkoyak—batas antara gelap terang, benar salah. Kami berupaya meretas batas-batas itu.

  • Kalian sangat swedish pada demo tersebut, apa equipment dan gear kalian?

Kami terlalu mabuk dan tidak benar-benar ingat apapun kecuali Randal Thrasher dan Boss HM-2. Ingatan kami memang payah.

  • Tidakkah kalian takut suatu saat dicap sebagai “terlalu swedish” oleh orang-orang mengingat kalian jauh berada di timur, jauh dari negara dingin eropa tersebut?

Kami tidak pernah benar-benar berupaya menjadi siapapun. Atau katakanlah “Swedish”-esque. Memang kami menggunakan Boss HM-2, tapi untuk riff kami banyak hanya di pengaruhi oleh band-band Stockholm, Swedia, saja.

Justru, kami banyak terpengaruh riff-riff band seperti Wolfbrigade, Tragedy, Dawn, atau Obliteration. Di debut EP kami nanti kami menjanjikan musik dan lirik yang lebih konseptual dan kontekstual.  

  • Pada maret 2018, deathroned merilis single Upon a Mortal Wound, secara sound berbeda dengan demo MMXVI, mengapa demikian?

Sebetulnya memang sound seperti ini yang kami mau. Kami bertemu dengan engineer yang benar-benar mengerti kami—Daniel Natjaard of Hordavjintra, Natjard, Valerian—yang banyak membantu kami saat proses penulisan musik di debut EP kami. Upon a Mortal Wound adalah salah satu bentuk yang paripurna—bagi kami pribadi—jika ditilik dari segi apapun.

Serta, Made Darma dari Warmouth dan Deadly Weapon adalah man behind the gun, yang sangat membantu kami dan tahu apa yang kami mau. Kami melakukan beberapa eksperemintasi sebelum melakukan proses rekaman. Serta kemudian masing-masing personil memiliki referensi masing-masing, yang kemudian mempertebal pengaruh musik kami dari keragaman tersebut. Saya rasa karena dalam mengerjakan Upon A Mortal Wound kami memiliki rentang waktu yang cukup lama.Hal itu membantu kami untuk mengeksplorasi sound serta hal-hal yang turut dibelakangnya.

Photo take from google.com
  • Upon a mortal wound cenderung mengarah ke oldschool raw blackened death metal, benarkah demikian?

Uhm, bagaimana itu? Yang kami tahu, komposisi musik kami adalah Death Metal. Untuk segala imbuhan, kami kembalikan kepada pendengar.

  • Beralih topik, kondisi negara saat ini sedang sangat sensitif, apalagi berkaitan dengan keyakinan. Padahal underground erat digunakan sebagai media pengkritik dengan berbagai tematik termasuk keyakinan, blasphemy, anti-religion dan sebagainya. bagaimana anda selaku member deathroned menyikapi hal ini?

Saya pikir bukan hanya saat ini. Negara ini memang kupingnya terlalu tipis untuk menerima kritik. Diluar konteks Deathroned, kami memang tidak pernah berharap apa-apa kepada negara. Kami juga tidak akan memperlibatkan apa yang dilarang atau dianjurkan oleh negara dalam proses kekaryaan kami.

Saya pikir masing-masing seniman atau band memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengodok karyanya. Dan bagi kami meracik repetoar adalah sebuah ritus yang suci. Kami tidakan membuka ruang, atau akan terpengaruh siapa saja, apalagi negara. 

  • Ditambah lagi munculnya RUU pasal no 5 tentang musik yang memuat larangan bagi para musisi membuat konten provokatif, bagaimana pendapat anda?

Saya akan menjawab pertanyaan ini diluar Deathroned.

Menurut saya, adanya RUU Permusikan memang sama sekali tidak menawarkan benefit apapun bagi musisi yang berada di wilayah independen. Karena batasanan tentang mana konten yang ‘provokatif’ dan tidak masih bias, dan abu-abu. Bisa saja pasal ini digunakan untuk membungkam segala bentuk protes—seperti halnya UU ITE yang kerap digunakan untuk menjerat aktivisi lingkungan—dan akan membawa bangsa kita kepada kemunduran.

Saya rasa jika UU ini di sahkan, kita tidak perlu menunggu bagian dari Orde Baru memimpin negara ini, untuk membuat bangsa kita dekaden. Rezim ini sama otoritarianistiknya dengan rezim Orba. Kita tengah hidup di sebuah negara yang terlalu banyak ikut campur dalam urusan rakyatnya. Dari urusan ranjang, atau hingga urusan musik.

  • Terima kasih sudah bersedia berbincang dengan dengan anda, ada pesan-pesan untuk para pembaca?

Death Shall Prevail!

Introduce Yourself

Delta Eka Wardana, is a non-permanent teacher in SMA Ngawi 2. he is a teacher of arts and culture focusing on art. but he likes music especially death metal and various other underground music sub culture.

At this time he is focused as a teacher and deepens his hobbies playing bass and working with various mediums.

You can contact him via email at
deltaekaw@gmail.com

Design a site like this with WordPress.com
Get started