Taphos, Forever Only Death

Untuk pertama kalinya atau mungkin seterusnya, saya menggunakan dua bahasa dalam blog ini. mungkin konsep bilingual dalam penulisan akan menjadi penting karena bisa jadi, blog ini akan diekspos antar negara dari berbagai benua. Siapa yang akan menyangka, saya tidak peduli. Pada intinya apabila ini dibutuhkan demi sebuah eksistensi karya, mengapa tidak? Akhirnya, saya mewawancarai band death metal dari negara dingin Eropa yang mungkin terdengar asing di beberapa kalangan death metal tetapi demo mereka dirilis ulang oleh Reaping Death Record dan sold out. Mari kita sambut inilah, Taphos.

Mendengar nama Taphos pasti lumayan asing di telinga, bahkan mulut orang lokal tak kuasa untuk mencibir. Taphos berasal dari bahasa hellenic (τάφος) juga dikenal sejak zaman purba sebagai Hellas, yang berarti kuburan (Grave). Tidak perlu berbasa-basi dengan saya karena kehadiran mereka sudah membuat saya begitu excited karena untuk pertama kalinya blog ini mendapatkan narasumber lintas negara. Okey, check this out:

Taphos. Photo take by google.com
  • From the metal-archives.com site your members only use initials. But for now, who am I talking to?
  • Dari situs metal-archives.com personil kalian hanya menggunakan inisial. Tapi untuk sekarang, dengan siapa saya berbicara?

Hello. This is M from Taphos.

Halo. Ini M dari Taphos.

  • So what’s the concept, you only use initials?
  • Lalu apa konsepnya kalian hanya menggunakan inisial?

We only use initials because we don’t want to use our real names.

Kami hanya menggunakan inisial karena kami tidak ingin menggunakan nama asli kami.

  •  In 2016 you issued a MMXVI demo, 2017 EP MMXVI until 2018, you released the full album “Come Ethereal Somberness”. For such a fast process, are there any obstacles when working on it?
  •  Ditahun 2016 kalian merilis MMXVI demo, tahun 2017 EP MMXVI hingga 2018, kalian merilis full album “Come Ethereal Somberness”. Untuk proses yang sedemikian cepatnya, adakah kendala saat kalian mengerjakannya?

No there has not been any obstacles recording and releasing these tapes and vinyls. We are a very productive band and are in the process of finishing the songs for our next full length.

Tidak ada kendala dalam merekam dan merilis kaset serta vinyl ini. Kami adalah band yang sangat produktif dan saat ini sedang dalam proses menyelesaikan lagu untuk album penuh kami berikutnya.

  •  I have difficulty getting a physical release for the album “Come Ethereal Somberness”. Can you tell us what the concept of the album is?
  • Saya kesulitan mendapatkan rilisan fisik dari album “Come Ethereal Somberness”. Bisa kalian ceritakan kepada kami konsep apa yang ada pada album tersebut?

The concept of the album is to spread death, despair and darkness with our music. 
Konsep album ini adalah menyebarkan kematian, keputusasaan, dan kegelapan dengan musik kami.

Taphos. Photo take by google.com
  • Through Blood Harvest, you released “Come Ethereal Somberness” on CD, Cassette, Digipack and Vinyl formats. But you also upload it on the bandcamp site. Do many people still buy physical releases compared to online streaming?
  • Melalui Blood Harvest, kalian merilis “Come Ethereal Somberness” dalam format CD, kaset, Digipack dan Vinyl. Tetapi kalian juga mengunggahnya dalam situs bandcamp kalian. Apakah orang-orang tetap membeli rilisan fisik meskipun ada streaming online?


When we play shows we sell a lot of records and cds. And sometimes from online sales, so yes people still collect records, CDs and tapes and buy them to support the bands.

Saat kami bermain, kami menjual banyak rekaman dan CD. Dan meskipun adanya penjualan (musik) online, jadi ya orang masih mengoleksi rekaman fisik, CD dan kaset dan membelinya untuk mendukung band.

  • What do you do, if anyone makes the Bootleg version of Taphos?
  • Apa yang kamu lakukan bila ada yang membuat versi bootleg dari Taphos?

I really hope no one will bootleg our music. If anyone wants to release our music they can ask us for permission. But if someone bootlegs our stuff it’s like stealing from the band. And that fucking sucks.

Saya sangat berharap tidak ada yang akan merampas musik kami. Jika ada yang ingin merilis musik kami, mereka dapat meminta izin kepada kami. Tetapi jika seseorang yang membajak barang-barang kami, itu sama seperti mencuri dari band. Dan itu menyebalkan sekali.

  • What is the underground scene like in Denmark? can you tell me for readers in Indonesia?
  • Seperti apa scene underground di Denmark? Bisa kamu ceritakan kepada pembaca di Indonesia?

The underground scene in Copenhagen is very good. We have a lot of great and active deathmetal bands. These are a few of them: Ascendency, Chaotian, Deiquisitor, Hyperdontia, Phrenelith, Sulphurous, Taphos and Undergang. Check them out… they are very good.

Pemandangan bawah tanah di Kopenhagen sangat bagus. Kami memiliki banyak band deathmetal yang hebat dan aktif. Ini beberapa di antaranya: Ascendency, Chaotian, Deiquisitor, Hyperdontia, Phrenelith, Sulphurous, Taphos dan Undergang. Lihat … mereka sangat bagus.

  • MMXVI Demo tapes which were re-released by Reaping Death records Indonesia sold out here. This indicates that many appreciate the musical of Taphos. Have you ever known the death metal scene in Indonesia?
  • Kaset Demo MMXVI yang dirilis ulang oleh Reaping Death Record Indonesia sudah habis disini. Ada indikasi banyak orang orang mengapresiasi musik Taphos. Apakah kalian tahu tentang scene death metal di Indonesia?

It’s nice that the reaping death rereleased our demo. I didn’t know it was sold out though. Maybe there should be made some more. And no I don’t know the scene in Indonesia. We were supposed to do a tour there next week. A guy from Singapore tried to book us a tour. But we never heard back from him. That sucks.

Sangat menyenangkan bahwa Reaping Death Record merilis demo kami. Saya tidak tahu itu terjual habis. Mungkin harus dibuat lagi. Dan tidak, saya tidak tahu scene di Indonesia. Kami seharusnya melakukan tur di sana minggu depan. Seorang pria dari Singapura mencoba memesankan tur kepada kami. Tapi kami tidak pernah mendengar kabar darinya. Itu memuakkan.

Kaset Thapos rilisan Reaping Death Record. Photo take by google.com
  • Are you interested in a tour here?
  • Apakah kalian tertarik untuk tur disini?

We really want to tour Asia. It would be amazing for us to come and play your country.

Kami benar-benar ingin tur Asia. Akan luar biasa bagi kami untuk datang dan bermain negara Anda.

  • What do you want to say for die hard metal fans in Indonesia?
  • Apa yang ingin kamu sampaikan untuk die hard metal fans di Indonesia?

EVIG ER KUN DØDEN…

M

SELAMANYA HANYA KEMATIAN

M

Identitas Band Underground Dalam Sebuah Logo

Pernahkah kalian sadar bahwa disetiap band yang kalian idolakan memilik berbagai bentuk visual yang menjadi identitas terkonsep dalam mewakili individu atau kelompok bermusik, termasuk musik ekstrem itu sendiri? Sebuah bentuk visual perwakilan itu biasa disebut dengan logo.

Logo menurut http://www.vivalogo.com adalah sebuah grafik elemen yang secara unik mengidentifikasi perusahaan, produk, jasa, agensi, institusi, asosiasi, acara, dan lain-lain dengan tujuan membedakan secara umum pemilik logo ini dari entitas. Logo juga memiliki kepentingan menghindari kebingungan yang mungkin terjadi pada market, distributor, supplier, pemakai dan sebagainya. bisa dibayangkan apabila Deicide dan Vader memiliki bentuk logo yang sama atau Carcass dan Napalm Death memiliki aksen logo yang mirip. Pasti memberikan kekacauan visual pada ranah underground.

Logo terutama logo dalam ranah kultur underground beserta extreme metal di dalamnya, merupakan bagian dari karya seni rupa. Herbert Read dalam bukunya yang berjudul The Meaning of Art menyebutkan bahwa seni merupakan usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang menyenangkan dalam arti bentuk yang membingkai perasaan keindahan dan perasaan keindahan dapat terpuaskan apabila menangkan harmoni atau satu kesatuan dari bentuk yang disajikan. Maka logo extreme metal diciptakan para pelaku musik tersebut karena kesenangan mereka pada scene ini dengan usaha menampilkan kesan artistik pada bentuk logo serta sebagai perwakilan visual musik mereka.

Menurut Sakki Makki dalam majalah Concept mengatakan bahwa, “Saya ingin menghimbau kepada semua untuk tidak lagi menggunakan kata logo, tapi menggunakan kata identitas. Kenapa identitas yang dikedepankan? Karena zaman sekarang kita tidak lagi membedakan hanya dengan logo”. Saran Sakti yang lanjut memaparkan kalau pada identifikasinya bukan pada barangnya atau brandnya tetapi lebih pada siapa pemilik barang/brand tersebut. Logo saja tidak cukup untuk menjadi pembanding karena logo hanya penanda, sementara identitas itu semakin lama semakin holistik, semakin penting dan semakin makro. Karena kini logo merupakan marker interpretasi dari sesuatu yang lebih besar dimana hal itu dimiliki oleh korporasi atau produk.

Kelebihan identitas lebih diutamakan mengingat identitas yang berbeda diterapkan pada bentuk logo yang berbeda pula yang menandai suatu waktu atau era. Sebagai contoh kita ambil logo dari Cannibal Corpse. Logo band oldschool death metal ini memiliki identitas berbeda pada logo era Chris Barnes atau George Corpsegrinder Fisher, namun memiliki satu bahsa semiotik yang sama sebagai citra band tersebut yaitu cipratan darah. Kesan pertama kali yang ditangkap oleh kalangan die hard metal fans oleh band ini adanya aksen darah yang berlebih pada dua era logo Cannibal Corpse. Akhirnya identitas “darah” sebagai tanda logo extreme metal tidak hanya melekat pada Cannibal Corpse saja, contohlah Autopsi, Mortician, Internal Bleeding, Disgorge dan sebagainya. Dengan demikian identitas dapat membentuk suatu tanda semiotik visual yang bisa dipakai dalam bentuk logo yang berbeda-beda sebagai penanda identitas serta karakter band.

Dua logo Cannibal Corpse, sebelah kiri era George CorpseGrinder Fisher sedangkan sebelah kanan era Chris Barnes. Photo take by google.com

Logo pada band extreme metal, hardcore atau berbagain subgenre underground lainnya sebenarnya tidak sepenuhnya dibaca. Saya pernah ketika seorang teman yang tidak memiliki latar belakang musik underground sama sekai berusaha membaca logo di salah satu poster yang tertempel di kamar. Dari situ saya menyimupulkan bahwa, sebenarnya logo pada band metal tidak sepenuhnya untuk dibaca, melainkan diingat. Diingat dalam arti mengamati bentuknya, menandai setiap karakter dari tiap element logo tersebut bahwa logo dengan karakter ini adalah milik band ini.

Menurut Nico A. Pranoto, Ketua ADGI (Asosiasi Desain Grafis Indonesia) Jakarta chapter 2006-2007, logo memiliki banyak varian tapi memiliki tiga dasar yaitu Logotype, Logomark dan gabungan Logotype dengan Logomark.

  • Logotype
    Logotype merupakan kata atau nama produk yang dibentuk dengan unsur tipografi. Dalam scene underground, kebanyakan band menggunakan logotype dalam logo bandnya dengan berbagai bentuk tipografi yang berbeda-beda sesuai identitas dan konsep masing-masing. Beberapa band dengan logotype yang terkenal band lawas seperti Nile, Pestilence, Monstrosity, Obituary hingga band extreme metal modern seperti Severed Savior, Gorod, Misery Index, Cerebral Effusion dan sebagainya.
Dismember, death metal asal Swedia yang turut mempopulerkan sound ala gergaji mesin dengan Boss HM-2. Logo mereka termasuk dalam kategori logotype. Photo by google.com
  • Logomark
    Logomark adalah logo yang menggunakan ilustrasi atau icon (ilustratif atau inisial). Logo ini menggunakan icon-icon yang sesuai dengan konsep dan tema yang diusung. Tidak banyak band extreme metal yang menggunakan logomark dalam penempatan identitas band. Kebanyakan beberapa band menggunakan logomark sebagai logo sekunder yang bersifat alternatif pendamping logo utama pada aspek-aspek tertentu, bisa pada album, merchandise, fanpage dan sebagainya. Beberapa band yang menggunakan logomark sebagai logo sekunder contohnya Suffocation pada album Suffocation atau Sepultura yang terkenal dengan logo “S” nya atau Decapitated pada salah satu merchandisenya.
Logomark dari band thrash metal asal Brazil, Sepultura. Logo ini menjadi ikonik di seluruh dunia. Photo by google.com
  • Gabungan Logotype dan Logomark
    Penggabungan logotype dan logomark menjadikan sebuah logo tampil komplit karena hadirnya tipografi dibarengi dengan icon yang muncul. Terdapat beberapa band yang menggunakan konsep logo ini yang dinilai memberikan kesan  kuat akan konsep band yang diusung. Contohlah sejak jaman 80-90’an Slayer, Mayhem, Morbid Angel, Possessed, Death, Unleashed, Nocturnus, Vital Remains sampai pada band penerusnya seperti Lost Soul, Necrophagist dan sebagainya.
Nocturnus, band death metal asal Tampa, Florida ini menampilak gabungan logomark dengan logotype. Photo take by google.com

Vanagandr, Menuju Dimensi Lain

Ponorogo dikenal dengan kota budayanya yang kental. Sebut saja Reog Ponorogo yang mendunia. Hingga Dinas Pendidikan setempat menjadikan Reog sebagai muatan lokal di materi pelajaran di sekolah. Namun saya tidak sedang membahas Reog melainkan salah satu band dari kota tersebut, VANAGANDR.

Saya mengetahui band Vanagandr dari laman musik dari Ponorogo benbenan.com. dari situ lah saya penasaran dengan band tersebut. Setelah dilirik-lirik, saya tak asing dengan sang vokalis yang notabenenya adalah ilustrator yang pernah saya interview untuk Nerograph Zine issue 2. Beliau adalah Arga Kurnia.

Sayangnya saya belum pernah melihat mereka live dimanapun mereka manggung. Termasuk saat mereka berkunjung di Ngawi. Mungkin suatu saat saya dapat menyaksikan mereka live. Untungya saya memiliki rilisan fisik mereka dari EP perdana mereka yang diberi title “Void Dimension”.Atas rekomendasi Arga, sesi ngbrol saya lakukan bersama sang gitaris, Gigih, let’s fly:

Vanagandr. Photo take by google.com
  • Terdapat tiga track dalam album Void Dimension. Karena dirilis dalam format slipcase dan tidak terdapat lirik, apa pesan dari track Acid Dive, Collision dan Badtrip?

Sebelumnya terima kasih kepada Ilvsi Optik zine sudah sudi menginterview band kampung kami ini dan sukses selalu untuk mas Delta. Kembali ke pertanyaan yg benar terdapat 3 track di ep. Void Dimension. Untuk lirik akhirnya kami rilis di bandcamp. Dan pesan dari track Acid dive sendiri tentang awal perjalanan spiritual. Untuk bisa mengontrol diri dengan semesta. Dalam reff kami tekankan anda bisa terbang tinggi seperti dewa mabuk. Tapi anda juga bisa bisa terjatuh seperti bangkai busuk. Kalau untuk track dari Collision sendiri menceritakan tentang perjalan percampuran 3 elemen udara lanjut air lanjut kimia. Dan track terakhir yaitu Badtrip sendiri menceritakan tentang keadaan kacau jika kita tidak kontrol atas semua perbuatan. Dan tak akan bisa melakukan perlawanan walau terasa siksaan tak akan berakhir.

Vanagandr, Void Dimension EP. Photo take by google.com
  • Sound yang berat nan lambat, vocal yang terdengar delay, doom yang terasa. Bagi anda, bagaimana cara yang ideal mendengarkan Void Dimension?

Untuk waktu ideal mendengarkan Void Dimension sebenaranya bebas mau kek gimana. Lebih enak lagi kalau didengarkan dengan posisi kayang antau sikap lilin pasti lebih bisa meresap semua. Hahaha

  • Siapa yang menciptakan logo Vanagandr? Apakah ada makna di pusaran kecil dalam huruf D tersebut?

Untuk logo vanagandr dibuat oleh vokalis kami Arga Kurnia. Menurutnya makna dari pusaran kecil tersebut adalah penggambaran pintu masuk menuju void (ruang hampa) dimana kita bisa “nyuwung” dan berdiskusi dengan diri kita sendiri.. haha hanya bercanda, sebenarnya dalam proses membuat sebuah karya visual saya tidak pernah memikirkan atau mencari cari makna atau pesan2. Semua mengalir begitu saja.jadi kalau ditanya apa makna dari ini dan itu. Saya suka bingung.

Vanagandr logo yang diciptakan oleh Arga Kurnia. Photo by Instagram @vanagandrrr
  • Di kanal Youtube kalian, terdapat video dengan iringan track “Badtrip” apakah itu videoclip atau bagaimana kalian menjelaskanya?

Ya benar itu sebenarnya kami upload awal untuk memperkenalkan single dari EP Void Dimension itu sendiri. Dan kebetulan dengan keterbatasan tidak bisa membuat video lirik maka kita hanya menggambarkan pesan dari track Badtrip itu sendiri. Dengan seolah seperti perjalalnan lalu akhirnya kacau lalu dengan akhir yg tambah kacau dengan tempo yg lebih pelan dan berat.  Semoga saja bisa menggambarkan maksud dari track Badrip itu sendiri

Vanagandr live. Photo take by google.com
  • Seberapa besar pengaruh Dragonaut dari Sleep serta Black Sabbath hingga kalian mengkovernya saat live?

Sangat besar sekali yg kebetulan itu salah dua band pujaan kami. Dan pemilihan lagu dari band tersebut karena kami merasa untuk mempertegas maksud Void Dimension itu sendiri

  • Seperti apa scene musik Ponorogo?

Seperti biasa scene kota ketiga dengan sedikit akamsi yg hanya bisa berjuang sekuat tenaga dan biaya untuk masih bisa mempertahankan scene kolektif itu sendiri. Tapi tetap salut untuk teman teman scene dari Ponorogo bisa menjadi satu tanpa memandang genre dan umur dan terimakasih dari teman” luar kota yg sudah pernah singgah ke ponorogo. Semoga kita bisa bertandang ke kota kalian suatu saat.

Vanagandr live. Photo take by google.com
  • Kalian merilis “Void Dimention” dalam bentuk CD, apa dampaknya terhadap band antara merilis rilisan fisik dengan format digital?

Kebetulan dari semua rilisan kami tak menyangka jika teman” bisa merespon karya kami yg alakadarnya ini dengan baik. Terimakasih semua. Untuk rilisan fisik banyak teman dalam kota dan luar kota yg memesan dan dari 50 keping semuanya bisa ludes. Dan untuk format digital sendiri lewat bandcamp juga ada yg membelinya walau hanya beberapa orang. Tapi itu sudah pencapaian yg bagus bagi kami karena band pertama yg rilis lewat bandcamp dan ada yg membelinya untuk band ponorogo sendiri

  • Serta selamat atas debut Split EP kalian bersama Selfexile. Bisa diceritakan awal mula kalian split dengan band Selfexile asal Sokolov, Czech Republic?

Karena sebelumnya kami mencoba menawarkan split dengan teman antar kota dan banyak kendala. Akhirnya dengan keisengan dan bantuan dari teman kami Neoan yg mencoba iseng mencari band sejenis vanagandr di Bandcamp. Akhirnya ketemu dengan Selfexile dan coba berkontak lewat email. Tak sampai disitu ternyata setelah bertukar track dan berdiskusi akhirnya disepakati untuk membikin split Cannabisoid itu sendiri.

Spilit EP bersama band asal Czech Republic, Selfexile. Photo take by google.com
  • Di Indonesia masih banyak oknum yang sensitif dengan barang haram narkotika, namun Split kalian dinamai “Canabisoid”, bisa dijelaskan konsepnya? Apa kalian tidak takut terjadi sesuatu, ditangkap aparat mungkin? hahahaha #Lol

Kebetulan nama split Cannabisoid itu rekues dari teman teman Selfexile sendiri dan menurut kami bagus juga. Maka disepakati diambil  Cannabisoid itu sendiri. Untuk masalah itu sebenarnya kami samarkan di ep kami Void Dimension dulu dengan tidak terlalu vulgar. Takut sebenarnya ada karena di Indonesia sendiri masalah kecilpun bisa sekali dibesar”kan. Tapi semoga tidak ada apa” saja ya doakan. Hahaha

  • Apa anda setuju pemusnahan ganja dengan dibakar?

Sebenarnya itu bukan pemusnahan lebih tepatnya menikmati ganja bersama sama kalau dibakar. Hahaha

  • Last question, ada yang ingin anda suarakan kepada para pembaca?

Untuk para pembaca semoga tetap mengutamakan budaya membaca dan tetap jalin pertemanan sebanyak banyaknya

Bayang Penumbra Malang, Disposed

Di era saya mengenal musik underground, saya tertarik dengan salah satu genre yaitu Hardcore. Sama seperti saaat saya membahas bersama Mashedbrains, saya selalu bersemangat di arena moshpit kala itu untuk berkarate kid hahahaha. Namun seiring berjalannya waktu, di tahun 2016 hingga kemari saya menemukan sudut pandang berbeda dalam musik hardcore. saya menemui era hardcore yang gelap selaras dengan emosi yang kelam. Salah satu band yang menarik perhatian saya yaitu, DISPOSED dari Malang.

DISPOSED. Photo take from Instagram

Sewaktu mendengar band Disposed, saya belum tertarik untuk memiliki rilisan fisik band tersebut. Lalu saat saya ngobrol santai dengan Micco Rulyanto, saya sempet tanya dengan beliau karena disalah satu postingan sosmednya dia memakai kaos Disposed. Micco bilang materi mereka bagus, bahkan ia menegaskan kepada saya kalau suka musik yang gelap saya dijamin pasti suka. Karena Micco bilang begitu, saya mencoba untuk mencari tahu rilisan fisik Disposed yang kabarnya CD mereka yang dicetak secara self released sudah habis. Apa daya saya hanya bisa streaming di laman bandcamp mereka yang menyisakan satu single “Two Meters” serta cuplikan EP yang singkat di youtube.

Tetapi takdir berkehendak lain ketika label asal kediri, Resting Hell merilis ulang EP mereka yang bertajuk “Penumbra”. Sedikit cerita yang fun saat saya berusaha memiliki CD tersebut. Kala itu saya mengetahui beberapa titik distribusi EP Penumbra salah satunya di Madiun. Dari Ngawi saya mengontak Fazz Store selaku titik dari Madiun. Ownernya mengiyakan namun jam tutup hingga pukul 22.00, alhasil saya dari Ngawi berangkat pukul 18.30 bergegas menuju Madiun. Namun nass, hujan lebat melanda hingga pakaian basah kuyup tidak karuan hingga perjalanan yang hanya 30 menit memakan waktu hingga lebih dari 1 jam yang mana harus berteduh beberapa kali karena naik motor sendirian. Sesampai di toko, saya disambut sang owner Mas Ando yang mungkin beliau merasa kasihan hingga niatan saya untuk beli rilisan fisik disambut dengan teh hangat dan cemilan sembari menunggu hujan reda demi sekeping EP dari band Malang tersebut.

Seiring berjalannya waktu hingga saya menyadari Disposed merupakan band favorit dalam playlist dan saya memiliki riwayat khusus dalam memiliki CD mereka, kenapa tidak untuk mengontak salah satu membernya untuk membahas beberapa pertanyaan ringan dan fun? Akhirnya dengan bantuan Micco saya dapat menghubungi salah satu personilnya, Riko Andreas dibantu sang vokalis, Yuslih. Berikut ulasannya:

  • Bagaimana kabar Disposed sekarang. Setelah saya amati kalan update terakhir show  28 April di Pasuruan?

Riko : Saya Riko dari Disposed saya akan dibantu Yuslih (vokalis Disposed) , Langsung ke Jawaban dari pertanyaan nomer 1. Kabar kami baik, tentu akan ada beberapa show lagi di bulan ini, bahkan kami sedang menyiapkan materi beberapa lagu nanti nya yang akan dijadikan EP (lagi)  atau Full Album kami masih belum bisa memastikan. Yang pasti kami sedang meng-garap materi ditengah kesibukan personil Disposed.

Yuslih, Vocalist. Photo take from Instagram by @mengenaskan
  • Mengapa “Penumbra” sebagai perwakilan wujud kata rangkuman track gelap kalian?

Yuslih : Maknanya kami ingin menciptakan alunan musik dengan nuansa bias. Lirik dan nada2nya pun tidak melulu yg ngeri2. Arti kata penumbra kalau di proyeksikan ke lagu yg kami buat jadi seperti lebih ke bersentuhan dengan cahaya (kehadiran) dan ketiadaan cahaya (kehampaan)

  • Mengapa hanya sebatas EP (Extended Play), mengapa tidak full album mengingat seluruh track hardcore nan gelap ini memukau memberikan asupan ledakan liar diantara gemerlap cahaya blantika musik yang didominasi lagu cinta?
Disposed – Penumbra EP. Photo take by Instagram.

Riko : Sebenarnya karena Disposed sendiri masih dibilang band baru kami lebih suka mengenalkan profil Disposed melalui EP ketimbang Full Album, sekedar hanya utk memberi salam kepada para pendengar bahwa inilah Disposed dan seperti ini musik nya.

  • EP kalian Penumbra dalam format CD dirilis secara independent sebelum dirilis oleh Resting Hell, apa perbedaan diantara keduanya?

Riko : Perbedaan hanya dalam bentuk format nya saja, Disaster Records dalam bentuk kaset, Lalu kami dan Resting Hell dalam bentuk Compact Disc (CD).

  • EP format CD yang dirilis secara independent, kemudian dirilis oleh Resting Hell. Belum lagi dirilis oleh Disaster Record dalam format kaset, apa yang mendasari kalian untuk tetap merilis rilisan fisik ditengah maraknya streaming lagu online yg kualitasnya setara rilisan fisik?

Riko : Ya semua musisi pastinya akan merilis fisik semua album atau karya nya. Mungkin karena di lingkungan kita juga masih banyak yang mencintai rilisan fisik apalagi band temen sendiri kesan nya harus punya nih. Memang era streaming sudah sangat berkembang tapi rasa ingin memiliki rilisan fisik teman2 saya jauh lebih besar. Appreciate it! Tidak memungkin kan juga nanti disposed akan memasuki dunia streaming juga kok. Tp setelah EP album dari kami sold out, tujuan nya satu hanya ingin memudahkan para pendengar saja yang ingin mendengarkan karya kami dimana saja.

Penumbra EP cassette version released by Disaster Records. Photo take by Instagram
  • “Diaspora” merupakan satu-satunya track berbahasa Indonesia diantara track lainnya yang menggunakan bahasa asing (bahasa Inggris), adakah konsep tertentu dari hal tersebut?

Yuslih : Sebenarnya konsep spesifik dari tiap lagu gak ada karna dalam ep penumbra. Lagu2nya saling berkaitan jadi semacam cerita yang di episode kan. Semua lirik sebenarnya berangkat dari bahasa ibu yakni bahasa indonesia yang kemudian kami rekonstruksi ulang menjadi kalimat2 yg mudah diingat dalam bahasa inggris. Hanya saja untuk diaspora, kami kebingungan untuk merekonstruksi ulang ke dalam bahasa inggris karna kami rasa, diaspora akan sangat cantik kalau tetap pada bahasa asli.

  • Ada objek menarik dalm cover album kalian, terdapat burung (dalam pengamatan saya burung gagak) dalam art kalian, adakah pesan dari bentuk visual tersebut?

Riko : Pesan artwork tersebut seperti yin dan yang,  ada hitam ada putih, ada sisi baik ada sisi buruk, antara bulan dan gagak, inti nya lebih menceritakan sisi manusia saja. Kadang kita berbuat baik dan sangat buruk. Otomatis art burung gagak yang ada di cover penumbra tidak lain menggambarkan sisi gelap manusia.

Photo take by Instagram
  • Siapa yang menciptakan logo keren Disposed?

Riko : Kebetulan yang bikin logo anak” Disposed sendiri di rembuk secara bersama.

Disposed logo. Photo take by google.com
  • Sebutkan 5 band luar negeri beserta albumnya yang menjadi influence kalian?

Riko : Mungkin lebih saya kerucutkan melalui sudut pandang influence Disposed saja ya biar simpel , toh kita satu selera hehe, Disposed sendiri pada awalnya sangat meng-influence kan band2 seperti Nails,  Weekend Nachos,  Implore,  Trap Them,  Black Breath dan tidak menutup kemungkinan materi baru kami akan sedikit merubah influence kami.

  • Terakhir, yang ingin anda sampaikan kepada pembaca?

Riko : Terakhir pesan ya, hmm ini agak ribet nih. Tetap beli rilisan fisik album teman kalian agar keberlangsungan dalam suatu band tetap berjalan, kunjungi gigs” kolektif yang diadakan teman kalian tiap weekend biasanya, support terus movement teman kalian seperti kalian mensupport artis yang bahkan kalian tidak kenali. Dan pastinya nantikan gebrakan terbaru dari kami! Stay safe!

Photo take by Instagram from @mengenaskan

Antara Menjadi Guru Dan Berkarya

Oleh : Sickgit Sick

Entah kenapa saya ingin memposting hasil obrolan dengan teman saya, Sickgit Sick. Dimana hasil obrolan ini ditulis dan diterbitkan secara independent oleh Zine beliau.

Semoga hasil obrolan ini bermanfaat bagi banyak orang sekalipun ini sudah berlalu sekitar 2017 lalu. Terakhir saya ber karya dalam bentuk rupa yaitu sebuiah peta untuk give setiap pembelian album kedua Paranoid Despire, Majasty. Maka apabila kalian heran kenapa saya tidak berkarya,mungkin jawabannya:

  • Apakabar bro delta a.k.a pak guru. Haha ?

Hahaha, Alhamdulillah baik.

  • Apa kegiatan kamu akhir2 ini? Kapan nih turun kejalan bareng lagi? ahaha

Selain sibuk dengan kerjaan mengajar, saya tertarik untuk bikin film pendek. Saya pribadi minta maaf saat turun ke jalan saya gagal untuk ikut karena ketiduran padahal kita sudah janjian untuk turun ke jalan bareng.

  • O ya, sebagai seorang artworker metal dan seorang guru kesenian juga nih, pernah nggak kamu merasa bosan menjalani rutinitas term kerja jadi guru dan mengajar kayak gitu?

Untuk berkarya artwork sendiri yang lebih ke ilustrasi metal sedikit saya kurangi. Bukan berarti saya berhenti tapi saya tidak ingin berkarya karena mengejar profit tapi ingin berkarya dengan apa yang benar-benar terkonsep. Maka, saya sementara menggambar sesuai dengan mood. Jadi jarang untuk upload-upload gambar.

Untuk rutinitas sebagai guru, saya Alhamdulillah merasa tidak terbebani. Sharing dan bertemu dengan murid-murid terkadang hal yang menyenangkan dan menyebalkan dimana dapat membuka perspektif baru bagi saya pribadi. Sedikit banyak menjadi guru dapat menemukan hal-hal baru bagi saya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Subandiyo, Guru seni budaya SMA Negeri 3 Boyolali dan Hyan Rizky Kurniawan, teman saya kuliah yang menemukan passion saya dalam mengajar.

  • Apa upaya yang kamu lakukan saat bosan atau mentok dalam membuat karya?

Beribadah, mendengarkan musik, pergi ke luar alias hangout juga browsing-browsing internet. Biasanya ngobrol dengan teman-teman, tetapi adanya pengaruh generasi wifi membuat intensitas ngobrol menjadi berkurang hahahahaha…

  • Bagaimana pendapatmu tentang zine personal sendiri?

Saya rasa zine personal lebih “personal” dalam artian kualitas zine itu sendiri hanya dapat dinilai bagi mereka kekuatan ideologi personalitasnya sama. Dengan begitu pelaku zine personal itu akan dapat terbuka diri menanggapi personalitas yang sama dengan pelaku zine personal lainnya.

  • Kapan nerograph zine ke-3 rilis?

Harusnya bulan april lalu sudah rilis, namun dua narasumber yang saya wawancarai mengajukan revisi untuk pertanyaannya hingga saya harus menulis draft pertanyaan lagi. Padahal layout, cover, konsep, konten sudah siap. Tapi tidak masalah, bagi saya justru ini tantangan untuk menciptakan list pertanyaan yang menarik bagi interviewer agar mereka tertantang untuk berpikir dalam menjawab pertanyaan saya agar Nerograph Zine issue 3 lebih menarik. (Yang mana tidak akan pernah dirilis karena sudah beralih menjadi Webzine seperti ini #Lol)

  • Saya lihat kamu cukup memperhatikan perkembangan scene musik lokal. Bagaimana pendapatmu tentang scene musik lokal ngawi sendiri?

Saya tidak begitu banyak mengikuti musik-musik  di Ngawi kecuali dalam scene underground. Meskipun tidak seramai dulu, masih ada event dan band yang masih konsisten di scene tersebut.

  • Balik lagi nih soal dunia artwork, siapa yg berperan besar dalam mempengaruhi kamu terjun ke dunia coret-mencoret artwork?

Sejak SMA saya tertarik dengan gambar-gambar seram dan jelas tentunya inspirasi saya Mark Riddick. Seiring berjalannya waktu saya membuat banyak karya-karya diluar ilustrasi tersebut. Akhir-akhir ini saya tertarik melihat arca, ukiran, relief candi. Juga melihat karya-karya kebudayaan kuno di Indonesia maupun mancanegara.

  • Inspirasi dalam menggambar? Lokal maupun interlokal alias luar negeri?

Mark Riddick, Toshihiro Egawa, Par Ollofson, Dan Seagrave, Rukmunal Hakim, Darbotz dan masih banyak lagi.

  • Apa tangapanmu tentang orang-orang yang punya paham menolak kerja untuk orang lain/korporasi? Karena saya lihat mereka lebih mengikuti hasratnya untuk lebih mengikuti kehendak mereka sendiri…

Saya sendiri tidak bisa berkata banyak mengingat saya juga bekerja untuk orang lain. Namun terkadang muncul keingingan untuk menjadi diri sendiri dalam bekerja. Maka solusi yang tepat untuk hal ini adalah just do it. Lakukan saja hal tersebut asalkan berguna bagi orang banyak dan kehidupan baik di dunia maupun akhirat kelak.

  • Apa yg kamu pikirkan tentang passion?

Passion itu naluri dan kata hati, satu-satunya yang membuktikan itu passion atau tidak hanyalah waktu. Apabila dia tetap konsisten menjalani kata hatinya yang menghasilkan karya terbaiknya dari waktu-ke waktu, Itulah passion.

  • Saya dengar kamu mulai mendirikan label sendiri dengan membuat project2 film pendek, bisa ceritakan sedikit?

Saya tertarik untuk bermain-main sinematografi akhir-akhir ini karena saya juga membina ekstrakurikuler film pendek disekolah. Label tersebut bukan label yang terlalu serius, hanya sebuah nama lain saya ketika saya berkarya video.

  • Saya merasa di era digital ini sebagian besar anak-anak muda mulai tidak lagi mengenal rilisan fisik karena adanya internet. Entah itu buku, kaset, CD, booklet, dsb. Mereka lebih dimanjakan dan disita masa produktifnya oleh media sosial. Apa tanggapan bro delta tentang fenomena ini?

ONLY PHYSICAL RECORD IS REAL. Tergantung lingkup yang mana mereka mengenal rilisan fisik. Ketika kamu tumbuh di lingkungan underground dengan death metal, thrash metal dan semuanya, rilisan fisik akan sangat berarti bagi di hard metal fans. Karena jejak-jejak luhur para sesepuh musik di scene tersebut tercipta dari demo-demo rilisan fisik berupa kaset. Namun ketika kamu tumbuh dengan musik yang tidak mengenal rilisan fisik katakanlah mereka terdongkrak karena popularitas panggung. Para penikmatnya akan kesusahan mengenal sebuah konsep rilisan fisik.

Konsep rilisan fisik tergantung pada era dan jangkauan pencipta itu sendiri. Pada awal-awal saya mengoleksi rilisan fisik, saya cukup gencar mempromosikan BUY PHYSICAL RECORD tapi tuntutan zaman dan mindset membuat saya sadar tidak semuanya dapat memahami makna rilisan fisik. Tetapi bagi mereka yang terbiasa dengan rilisan fisik, hal-hal yang hanya berupa digital akan terasa hambar untuk dimiliki.

  • Kapan morticinum addled reuni? Hahaha

Saya juga berharap sekali kita reuni. Tidak hanya dari personil baru tapi juga personil lama. Hanya tuhan yang menjawabnya dengan waktu hahahaha.. saya berpikir untuk mengkover dissnya yonglek. hahahaha

  • Satu kata tentang TV?

Sebuah pembodohan massal yang terorganisir rapi bagi mereka yang menerima segala macamnya tanpa filterisasi untuk dirinya sendiri. Dipublikasi secara repetitif. Mendominasi mindset banyak orang. Leih cepat dipercayai ketimbang mengkaji ulang kembali. Bukan untuk dihindari saat kalian melihat TV, tapi memfilter segala apa yang TV suguhkan.

  • Pencapaian tertinggi kamu saat ini?

Saya rasa tidak ada. Saya tidak mau menganggap suatu hal yang saya kerjakan sebagai pencapaian tertinggi. Saya takut membandingkannya dengan masa lalu sehingga ketika saya berkarya untuk masa depan terganjal karena pengetahuan dan batas capaian tertinggi di masa lalu.

  • Pernah nggak ngerasa gagal? Dalam hal apa? Atau cerita kejadian freak juga boleh…

Kalau saya tidak gagal, saya tidak mungkin menjadi diri saya yang saat ini. Terkadang gagal itu adlah hal yang penting untuk mengetahui batas kekurangan kita. Hanya saja kita tertanamkan paham bahwa gagal itu memalukan dan mindset orang kebanyakan ketika melihat kegagalan adalah marah dan mencibir kegagalan itu. suatu mindset yang membuat saya geli karena ketika orang bangkit dari kegagalannya dan sukses, baru orang-orang sadar atas pencapaian orang tersebut. Terkadang ini yang harus saya tanamkan pada diri saya untuk tetap menikmati suatu proses, apapun itu.

Kejadian freak cukup banyak, mengingat saya adalah orang yang berusaha berbeda dengan lingkungan saya. Yang sampai saat ini saya teringat adalah saya selalu diangap seumuran dengan murid-murid saya jadi di acara-acara seremonial sekalipun orang tidak percaya kalau saya adalah seorang guru.

  • Bagaimana cara kamu menjaga mood tetap stabil selama berkarya, boleh dong bagi tips? Hehehe

Saya tidak punya cara tertentu untuk mendorong mood saya kembali. Hahahaa… karena ketika bosan saya juga masih bingung untuk melakukan apa.

  • Sampai di penghujung nih, ada nggak pesan & kesan untuk mas editor ini? Haha

terus berkarya, belajar dan banyak-banyak berdoa. Hahahahaha..

Gilgaxar, Death Metal Muda Nuansa Lama

Apapun yang terjadi pada scene death metal, kita seharusnya menghargai bagaimana sikap para pendahulu death metal dalam memulai karya mereka dengan meracik sound-sound awal death metal. Seperti kemarin saat saya meet and greet dengan band Immolation di Boyolali, saya bertemu dengan bapak-bapak membawa kaset pita bertuliskan “Immolation ’88” spontan saya bertanya itu apaan dan ternyata itu demo Immolation di awal karir mereka.

Dari Richard Johnson, editor Disposable Underground zine, disalah satu zinenya yang saya baca keluaran 1990. saya mendapati Richard sering membeli demo-demo band 90’an seperti Abominog, Atheist hingga band besar layaknya Cannibal Corpse era Chris Barnes. Ternyata band-band death metal purba itu mengeluarkan demo untuk dijual kepada kalangan atau sekedar dibagikan cuma-cuma kepada sahabat dekat. Mungkin sama seperti Rotten Corpe dari Malang yang membagikan demonya secara cuma-cuma yang secara rehearsal direkam di studio Oase era 90’an.

Menurut Vice Indonesia pula, tahun 2018 adalah kebangkitan death metal lama era 80’s dan 90′ dimana banyak band-band muda yang terkadang tidak terlahir di era tersebut membawakan musik-musik dengan style khas band-band lawas. Suasana seram, gelapnya kematian, sadisme, okultis, anti religion dan berbagai imbuhan kematian lainnya khas death metal lama mucul kembali. Saya teringat wawancara Andre Tiranda dalam Abominasi Zine, ” Seram. Kalau ga seram berarti ada yang salah, karena lo main death metal. Kalau lo nonton film horror, terus film itu ga seram berarti ada yang salah kan sama filmnya. Death metal itu harus punya itu, entah itu cuman ada satu detik, lima detik atau lima menit. Di album lo harus ada itu. Seram.” (Abominasi Zine, 2013). Dari sini dapat saya tarik bahwa, oldschool death metal memiliki agrsifitas keseraman death metaal yang seharusnya membuat bulu kuduk merinding dan memacu kontroversi batiniyah bagi orang yang melihatnya.

Dari kalangan death metal muda yang mempresentasikan kembali era lama musik ini, saya bertemu dengan beberapa kawan yang menciptakan band dengan mengembalikan kejayaan scene lawas death metal. Sebut saja Gilgaxar, yang baru saja merilis demo rehearsalnya dalam format kaset dan dibagikan gratis kepada kawan-kawan. Meski tidak kebagian demo tersebut, saya tetap tertarik untuk mengulas Gilgaxar hingga bertemu dengan salah satu membernya untuk ngobrol, berikut ulasannya:

Olieztrator, gitaris Gilgaxar. Photo take by google.com
  • Bisa diperkenalkan siapa sajakah Gilgaxar?

Saya Olieztrator pada Gitar & Vocal, Ficky pada Vocal, Krisna pada Bass, dan Nurul pada Drum.

Gilgaxar from left to right : Olieztrator, Krisna, Ficky, Nurul. Photo take by google.com
  • Kalian merilis sebuah demo, berapa track dalam demo tersebut?

Rehearsal demo tape ada 4 track materi kita dan 1 lagu cover dari CANCER.Saya suka kaset hehe

  • Ada alasan kenapa merilis demo dalam bentuk kaset, bukankah lebih efisien dalam bentuk CD?

Saya suka kaset hehe

Demo rehearsal yang dibagikan cuma-cuma hanya 15 pcs. Photo take by google.com
  • Demo tersebut mengingatkan saya dengan demo2 yang dibuat para punggawa death metal era lama yang berbeda dengan konsep demo pada kebanyakan band merilis demo via online atau CD promo, mengapa kalian mengonsep demikian?

Melihat masa kini dan masa lampau itu perlu, dan saya ingin melakukan apa yang dilakukan pada masa itu, tidak peduli sedigital apa masa kini.Merilis rehearsal secara mandiri dan DIY lalu memberikannya pada orang orang pilihan, termasuk Ross Dolan ( 1/15 ) hehe.

  • Adakah tujuan tertentu dari kalian merekam rehearsal dan menjadikannya demo?

Point nya hampir sama seperti jawaban diatas, melakukan apa yang dilakukan pada masa itu, selain promo.. saya mengajak mereka untuk time travel ke ahir 80an – awal 90an.

  • 2018 (termasuk pada tahun ini 2019) melalui artikel Vice dianggap sebagai kebangkitan oldschool death metal, bagaimana tanggapan kalian?

Ini adalah fakta yang menarik, dimana penikmat mungkin mulai merasa jenuh dengan musik yang kecepatandan kebrutalannya sudah mentok, sound digital mentah yang begitu clean dan ringan ditelinga,terlalu banyak pengulangan materi dari yang sudah ada.Dan ketika kembali mendengarkan materipara pendahulu, mereka terkampleng sadar.. 80an akhir hingga 90an awal adalah era termurni para punggawa extreme metal meledakan kuburannya.

  • Apakah kamu mengikuti dengan adanya trend dalam scene ini?

Di tahun 2014 saya mulai mengkarang materi yang lebih true death metal karena sadar materi kami sebelumnya.. death metal music tidak seperti itu. Terus menyelam dan harus saya temukan bikini botom. Lalu pada akhir 2017 kami mulai menggeber distudio dengan personel baru.

  • Satu-satunya demo yang kalian rilis resmi secara online hanyalah “Baptized in Rapture”, mengingat tidak ada lirik yang dipublish, apa konsep lagu tersebut?

Menceritakan “dia laki laki” dibalik layar yang sangat berpengaruh pada kemunduran peradaban umat manusia. Menciptakan sistem yang belawanan dengan logika dengan segala kelicikan dan kebusukannya.

  • Bagaimana anda menggambarkan sound Baptized in Rapture?

Jawabanya mengarah pada pakem tukang masak handal, dapur tertinggi penggodokan extreme metal di Amerika, Tom Morris & Scott Burns. Disadari atau tidak, yang mereka sebut sound lawas itulah yang saklawase ( Eternity ).

  • Keluar dari topic, bagaimana pendapat anda tentang death metal yang tidak bisa menghidupi kebutuhan (kata lainnya financial) harian, mengingat desas-desusnya itulah yang menyebabkan Frank Mullen memilih keluar dari Suffocation?

Mungkin sedikit berbeda dengan seorang gitaris atau drummer yang menurut saya lebih sering di endorse berbagai merk dagang dsb, sehingga ada income tambahan biar dapur tetap ngebul.. itu di Amerika dan di Eropa sana. Di Indonesia harus memiliki pekerjaan tetap, tidak bisa dipungkiri dan harap maklum.

  • Terakhir, apa yang akan dilakukan oleh Gilgaxar kedepannya?

Yang utama dan paling penting adalah mampu bertahan, terus produktif dan karya kita dinikmati para metalhead didunia. Terimakasih..

Makna Sebuah Ilustrasi Bersama Resting Hell

Rilisan fisik berkualitas tidak akan pernah tersedia di gerai junkfood!!!

Resting Hell
Photo take from instagram @restinghell

Kutipan di atas ada benarnya ketika sebuah rilisan musik berkualitas terpampang nyata di beberapa titik lokasi, dimana tidak seharusnya industri tersebut mewakili sebuah dokumentasi rilisan fisik musik.

Artikel kali ini membahas seberapa pentingnya sebuah ilustrasi terhadap pandangan sebuah label. Seidealis apapun sebuah band/musisi dalam merilis rangkuman musik mereka, pasti ada aspek visual yang mewakili musik tersebut. tidak dapat dipungkiri bahkan band underground sekelas Deadsquad sekalipun menggunakan lebih dari satu ilustrasi untuk album Profanatik.

Dalam pandangan saya selaku dulu ketika masih berpikiran bahwa dunia hanyalah hitam dan putih, saya mengerjakan art untuk sebuah band dari Jakarta bernama Cadaver untuk album terbaru mereka. Dari situ saya merasa bahwa sebuah album musik yang memiliki banyak lagu di dalamnya harus segaris dengan ilustrasi yang terkonsep untuk mewakili aspek visual yang akan menjadi kemasan pertama yang tertangkap mata sebelum telinga mendengar full lenght nya.

untuk menegaskan seberapa pentingnya sebuah ilustrasi, saya tidak mengiterview sebuah band. Melainkan sebuah label yang berasal dari Kediri, Resting Hell. Wawancara ini saya lakukan di akhir 2016 dalam zine saya dulu, Nerograph zine dan saya post di blog ini agar dapat dibaca oleh banyak khalayak serta saya rasa masih relevan dengan keadaan sekarang. Resting Hell adalah salah satu label yang hari ini masih merilis banyak rilisan fisik dan merch yang mana beberapa rilisannya ada di rak CD koleksi saya. Salah satu rilisan Resting Hell yang hari ini masih saya putar adalah Disfare “Self Title” band power violence asal Jakarta yang setiap saya play tak mampu membendung chaos di telinga dan berikut obrolan ringan saya bersama Gofur, dari Resting Hell:

  • Saya tertarik pada label satu ini dengan beberapa rilisan yang amazing dari aspekvisualnya. Namun bolehkah anda memperkenalkan diri anda beserta label anda?

Terima kasih sebelumnya untuk Delta. Perkenalkan saya Gofur dari Resting Hell. Resting Hell adalah salah satu record label dari Kediri yang pada awal berdirinya hanya merupakan band merchandise yang hanya membuat beberapa cetakan kaos dan merchandise dari band hardcore punk teman-teman yang saya kenal sejak 2010. Namun seiring berjalannya waktu dan kesenangan saya terhadap rilisan fisik, saya mulai mencoba untuk mengembangkan Resting Hell menjadi sebuah record label. Dan saya disini tidak sendiri, saya mengajak seorang sahabat dari kecil, Fendi yang notabene sampai saat ini juga menjalankan record label ini lebih maximal baik dari segi keuangan yang tertata dan juga masalah distribusi.

Beberapa produk Resting Hell. Photo take from instagram @restinghell
  • Selaku label yang merilis merch dan rilisan fisik, bagai mana pendapat anda tenang keberadaan sebuah artwork/ilustrasi yang ada di dalamnya?

Dalam sebuah band, artwork / ilustrasi menurut saya sangat penting. Karena dari artwork / ilustrasi itu kita bisa menggambarkan bagaimana band itu sendiri. Serta artwork bisa juga digunakan sebagai trademark ataupun identitas band itu sendiri. sSyang banget kan kalau bandnya keren, musik oke, lirik juga oke tapi covernya artnya kurang “ih” gitu hehehehe. Liat aja bagaimana Metalica dengan “Pushead” nya maupun Sleep dengan “Erik Roper” nya bahkan Baroness dengan “Baizley”nya. Semua terasa sudah menjadi identitas dari band itu sendiri. Dan artwork yang keren juga mempengaruhi penjualan rilisan Jisik itu sendiri lhoo… 😀

  • Pada hal ini, andakah yang mencarikan ilustrator band atau band sendiri yang memilih siapa senimannya?

Sejauh ini untuk band-band yang udah dirilis sama Resting Hell sih bebas. Ada yang udah disiapin sama band itu sendiri, ada juga beberapa yang saya carikan artworknya. Namun kalaupun dirasa kurang oke, saya juga minta revisi, gitu sih.

  • Hingga saat ini terjadi pembajakan artwork. Selaku label bagaimana anda menyikapinya?

Hahaha, iya lucu juga sih karena pengalaman kayak gitu pernah saya alami juga. Skull bones logo Resting Hell buatan Ken Terror dibajak juga sama salah satu band, yang nggak mau saya sebutkan. Namun setelah kita coba mengingatkan dan ngajak ngomong, si band sendiri yang akhirnya mengakui kesalahannya. Ya just that, mau gimana lagi udah terlanjur. Yang penting orang yang ngebajak udah mengakui kesalahannya dan mau minta maaf saya kira udah cukup.

Resting Hell Skull n bones. Photo take from instagram @restinghell
  • Dibajak dalam arti sudah tercetak merch atau belum?

Sudah malahan dibikin kaos dan udah dijual.

  • Apa dari pihak artworker / ilustrator sudah tahu hal itu?

Sudah dan sudah saya komunikasikan pastinya. Ya mau gimana lagi hahaha udah terlanjur toh gambar yang dibajak juga gak sebaik resolusi asli sih.

  • Dalam pembuatan merch, bagaimana cara anda memilih art untuk merch keluaran Resting hell?

Kalau pemilihan secara baku kudu gimana gimana gitu nggak ada. Yang jelas musti kudu sesuai dengan konsep band itu sendiri. Hati dan perasaan kita nih yang dimainin kira-kira cocok nggak dan oke nggak hehehe.

  • Pernah berpikir untuk membuat gambar sendiri dengan konsep sendiri?

Pernah sih pada awal-awal Resting Hell dulu bikin T-shirt merchandise, untuk artwork saya kerjakan sendiri. Karena keterbatasn budget juga buat beli gambar hahaha.

  • Ada Artworker/ilustrator yang karyanya anda sukai?

Ada mas. Ken Terror dan Dan Tone

  • Kebiasaan yang anda sukai sehari-hari?

Yang saya sukai, bermalas-malasan sambil dengerin CD hahaha

Disfare “Self Title” rilisan Resting Hell 2016. Photo take from instagram @restinghell
  • Terakhir pesan untuk pembaca dan khususnya artworker/ilustrator?

Untuk pembaca, selalu support terus segala movement positif dari skena kalian. Do it with your friend. Dan untuk para artworker mungkin yang masih beginner selalu terus mencoba dan berlatih ngegambar terus ya. Biar punya karakter gambar sendiri.

Resting Hell Hellish Industry

is Hardcore Punk Metal Subgenre record label, spread the chaos since 2013 at Kediri East Java, Indonesia
e-mail at restinghell666@gmail.com

Instagram : @restinghell

Nicrov, Serigala Liar Dari Ibukota

Saya menyaksikan pertama kali band Nicrov saat saya berada di sebuah event bernama Deadrenaline 7 : Death Black Series di Boyolali. Mereka datang berempat dari Jakarta bersama satu additional, Resha dari Infected Sragen. Konsep musik yang mereka bawa berbeda dengan death metal yang pernah saya temui sebelumnya, death n roll. Pada awalnya crowd terlihat sepi. Namun karena Nicrov memainkan musik dengan begitu gayengnya, crowd mulai beranjak ramai memainkan sekitar 5-7 track mereka. Setelah dari perhelatan itu, saya masih mengingat begitu excitednya saya melihat mereka.

Nicrov, from left to right : ED, RF, UC, DC. Foto by Yoga Beges. Take from google.com

Beberapa bulan setelah mereka main dari Deadrenaline, saya dikontak oleh sang vokalis untuk menjadi dokumenter mereka saat bermain di Sragen hingga saat mereka menjalani tour bertajuk Lost Chapter In Central Java Mini Tour 2019. Hingga akhirnya saya dapat menangkap sesuatu yang menarik dari band ini, diputuskan untuk saya rangkum dengan obrolan ringan bersama sang vokalis, UC. Berikut ulasannya:

UC Nicrov. Photo by Delta Eka Wardana
  • Nicrov telah menyelesaikan tour bertajuk “Lost Chapter in Central Java Mini Tour 2019”, padhal Nicrov sendiri masih berstatus demo pre album, apa yang melatar belakangi anda dan teman-teman untuk menggelar tour tersebut?

Halo, perkenalkan dulu gua UC Warlord dari Nicrov. Latar belakang gua sama temen” gelar tur ini ada 5 alasan, yang pertama silaturahmi ke temen” di Jawa tengah terutama kota” yang belum pernah Nicrov singgahin, yang kedua buat acuan Nicrov sendiri seberapa banyak sih metalhead yang udah tau musik Nicrov, apa sih yang Nicrov suguhkan? yang ketiga sebagai bentuk pengenalan musik Nicrov dan ending trilogi tur demo yang gua bentuk sebelum album di rilis, yang keempat buat bahan edukasi, sharing tentang musik sama temen” di sana soalnya gua pribadi agak risau sama perkembangan scene terutama death metal, yang kelima sebagai pembuka jalan buat temen” yang lain untuk tur di kota-kota itu.

  • Apakah hal ini lazim untuk sebuah band dengan bermodal demo untuk mengelar sebuah tour/mini tour?

Sah aja, kalo udah bicara masalah promosi karya gua rasa setiap band punya cara yang efektif dan efisien buat nentuin bentuk promosi yang mereka pilih. Mungkin gua pribadi pake cara lama yaitu door to door buat Nicrov, gua juga lebih suka tatap muka ke temen” bukan cuma sekedar say hai di media sosial haha, terlebih di titik tur ini 70% materi yang kita bawa itu materi di album nanti.

  • Dalam beberapa titik saya mengamati Nicrov tidak hanya bermain di acara pure death metal, namun juga di event punk dan hardcore, mengapa demikian?

Karena gua pribadi ga suka adanya eksklusifitas, fak lah wong semua scene sama. sama sama menderita dari eksistensi musik general terlebih temen temen di Nicrov juga punya latar belakang musik yang beda”, gua berharap ga ada sekat yang kita bikin sendiri apalagi sekarang untuk sekedar buat event itu izinnya setengah mati. shit

  • Apa yang membedakan demo “Forging The Silver Bullets” dengan “Lost Chapter Demo”?

Bedanya kalo “Forging the Silver Bullets” di rekam dalam bentuk live studio, kalo “Lost Chapter” dikemas dalam bentuk raw mix dari data album nanti. Kurang lebih haha

Nicrov – Lost Chapter Demo. Photo by Hitam Kelam Store
Nicrov – Forging The Silver Bullets (Demo Live) versi kaset. Photo take by google.com
  • Saya melihat dua sosok baru yang berbeda pada posisi drummer, yang berbeda saat saya pertama kali melihat Nicrov di Deadrenaline 7 : Black Death series kemudian nicrov menambah formasi baru dengan menambahkan gitaris, siapakah mereka berdua?

Di posisi drum itu ada MC, dulu sempet jadi drummer pengganti DC pas dia ga bisa. akhirnya karena suatu hal MC kita angkat jadi drummer tetep di Nicrov. Di posisi lead gitar ada GB, dari awal sebenernya konsep awal Nicrov itu ber 5. Susahnya cari SDM yang satu Visi dan Misi sama Nicrov jadi hambatan sih, beruntung sebelum album rilis kita udah bisa nambah line up di posisi ini. Welcome aboard Lycan

Nicrov dengan member baru MC (paling Kiri) dan GB (paling kanan) serta additional bassist, Dimas. Photo by Delta Eka Wardana
  • Saya mengamati nicrov kerap menggunakan additional player dibeberapa titik bermain. Terkadang ada beberapa band menolak bermain apabila formasi asli tidak lengkap. Bagaimana pendapat anda?

Pendapat gua ya gapapa kalo band lain nerapin itu haha, di sisi lain gua menjunjung tinggi kepentingan Nicrov diatas kepentingan personal. jadi selama Nicrov bisa survive, terlebih saat tur, ya kenapa ga di coba? Setiap player pasti punya kepentingan diluar Nicrov, misal pekerjaan atau tiba” berhalangan banget ga bisa perform. Menurut keputusan bersama yang paling bijak yaitu cari additional player buat Nicrov. That’s it

  • Nicrov merilis split album bersama band Avulsed, death metal asal spanyol. Bagaimana respon band Avulsed saat split dengan Nicrov?

Ini semua ga lepas dari peran Label Nicrov juga, Sickness Prods. Pas Avulsed main di Hammersonic kalo ga salah tahun 2015, owner sickness si andre ketemu dave rotten vocalist dari Avulsed tuh pertama kali. Obrolan terus berlanjut pas Nicrov akhirnya join ke sickness dan coba tawarin split album sama mereka. Gua pribadi seneng banget, Dave sama personil Avulsed yang lain setuju buat split dan sampe mereka minta izin buat discography ini masuk ke album anniversary 25 tahunnya mereka “Deathgeneration”. Gilaaaa!!! Nicrov salah satu dari dua band yang pernah split sama legenda death metal dari spanyol ini, what a day!!!

Nicrov split EP dengan band asal Spanyol, Avulsed. Dirilis oleh Sickness Production. Photo take by google.com
  • Di Indonesia kultur death metal masih banyak di dominasi oleh band-band brutal dan technical, namun nicrov berada di luar jalur tersebut mengedepankan nuansa dan atmosfir memainkan death metal tidak begitu cepat dengan feel in. Bagaimana respon audience dengan kehadiran musik nicrov yang seperti itu?

Semua balik ke selera sama tujuan dari sebelum Nicrov ada. Gua seleksi banyak hal mulai dari visi misi, background musik sampe influence player Nicrov sebelum nyentuh Death Metal. Pilihannya? yang genre death metal pake sentuhan doom, punk, grunge dan yang lainnya hahaha. Banyak trial and error juga ko selama perjalanan sebelum album ini haha, semoga materi yang ada di album Nicrov nanti bisa jadi candu di kala jenuh sama opsi yang ada.

  • Mana yang lebih anda nikmati, penggunaan lirik bahasa inggris yang dangkal atau bahasa indonesia yang dalam?

gua lebih memilih nikmatin 2-2nya, karena gua tau susahnya cari tema, ide penulisan lirik itu ga gampang. misal, pake bahasa inggris yang dangkal tapi cocok sama musik dan tema yang di pilih kenapa engga? itu opsi sih, gua udah pernah terjebak di 2 posisi itu hahaha.

  • Saat ini marak isu tentang RUU no. 5 tentang permusikkan, bagaimana pendapat anda selaku orang di scene death metal/underground?

Gua pribadi menanggapi RUU no. 5 itu ga terlalu ambil pusing, toh ada ato engga undang-undang itu, eksistensi underground itu bakal tetep ada. malah dengan adanya larang2an tersebut bakalan memicu lebih banyak aktifitas” kolektif di scene ini. “kami terus ada, dan berlipat ganda.”

  • Final comment untuk pembaca baik die hard metalfans, band player dan lain-lain?

Terima kasih buat seluruh pembaca Ilvsi Optik Webine buat ruang dan waktunya, tetap support pergerakan” underground, stay old, hail Lycanthrodeath!!! Cheers

Embrio Monster Kota Gadis, Imperforata

2014 this band was created by him, on 2015 i’m joined, make a some material together, shared a good and bad time together Today Fajar S. Wicaksono as a leader, front man announcement resign from this band, the best vocalist ever i’ve seen Sad news but I aprrecitated his choice, thank you so much for everything, everything! Trust me! Without him this band would not be where, like we see right now And today I annouce first album IMPERFORATA will be realese with the great records label on this planet DISMEMBERED RECORDS !! On this years !! This band not going anywhere and still DEATH METAL until I’m died !

Guitarist from Imperforata, Yogi Awan Samudra

Saya menuliskan tulisan ini di bulan Februari 2019 bersama sang vokalis Fajar S. Wicaksono. pada saat itu Imperforata hanya menyisakan dua personil nya saja bersama sang gitaris Yogi Awan Samudra. Obrolan ringan ini begitu asik menyisakan eforia saat itu diterpa badai wacana RUU Permusikan dan dari berbagai daerah di Indonesia bersatu untuk membuat pergerakan kritis akan wacana tersebut.

Namun, saya kembali dikejutkan dengan statement fajar pada tanggal 16 Juli 2019 bahwa dia mengatakan keluar dari band yang telah ia rintis.

Statement yang dikeluarkan oleh Fajar dan dikonfirmasi melalui pihak band di akun sosial media mereka. Photo take by Instagram @imperforataIDDM

Band ini menyisakan Yogi selaku member terakhir dan berusaha menghidupi band ini ditengah proses menuju full album. Dan simak obrolan singkat saya dulu dengan Fajar saat dia masih berada di band ini. Mungkin interview ini akan terasa hambar karena sudah terlewat beberapa bulan, namun sepertinya masih banyak hikmah yang bisa kita petik di sini. Let’s roll!

Yogi Awan Samudra dari Imperforata. Photo take by google.com
  1. Bisa perkenalkan diri anda kepada para pembaca?

Hallo saya Fajar S. Wicaksono dari Imperforata.

  • Bisa diceritakan Imperforata saat ini?

Imperforata saat ini di ambang kepunahan, kami di tinggal dua personel kami ya itu Danar dan Sofyan hal tsb menunjukan bahwa band ini tidak sedang baik baik saja, tetapi kami (saya dan Yogi) tetap menjaga agar api Imperforata tak kan pernah padam, dan berita baik kita sampaikan di saat ini kamu memasuki fase recording untuk full album di tahun ini.

  • Imperforata mengalami banyak perubahan mulai dari slamming ke brutal death lalu berubah pada single “Possessed”, mengapa demikian?

Hahaaa, sejak awal kami tidak pernah menganggap bahwa kami adalah band slamming, semenjak 2014 saya membentuk band ini dengan format one man saya barmain dengan konsep brutal death, ketika Bagus Wijie bergabung menjadi gitaris musik mengalami perubahan karena menesuaikan dengan karakter dia, tetapi masih di road brutal death bisa kita cek di promo 2015 Imperforata, pasca Bagus Wijie hengkang gitrais di ambil alih oleh Yogi, di situ proses kami terjadi berawal dari EP 2016 “Immortal Untreated” sampai saat ini kami mengalami banyak hal, pencarian dan pendewasaan yang kami dapat, terlebih  Yogi, lalu Yogi menemukan kenyamanan ketika memainkan riff death metal dan di realisasikan pada single 2017

“Possessed” bukankah kenyamanan sebagai dasar kita melakukan suatu hal? Hahah kalau kami sih begitu

  • Seberapa besar pengaruh “death” (band) ke imperforata saat ini?

Tidak banyak berpengaruh, jujur Imperforata sendiri tidak condong kemana mana semua musik kami serap semua band kami explore mungkin yogi pribadi sangat mengidolakan Chuck Schuldiner (Death) tapi bukan berarti musik kami condong ke “Death” band

  • Bagaimana opini orang ketika mengetahui Imperforata saat ini menjadi lebih death metal ketimbang brutal death?

Sejauh ini dan sepengamatan saya teman teman sekitar tidak ada masalah mereka menerima dengan baik (mungkin) tapi kami tidak tau orang orang di luar sana, apa pun itu suka atau tidak itu hak mereka.

  • Apakah suatu saat kalian membuat video klip?

Mungkin !! Akhir akhir ini kami memikirkan hal tersebut dan sudah kami bicarakan, semoga saja

  • Perlukah death metal dan underground mendapat pengakuan dari publik mainstream?

Tidak perlu, mengapa death metal / underground perlu pengakuan public mainstream

kalau aku kamu dan kita semua sudah mengakuinya.

  • Apakah death metal di indonesia menjanjikan untuk peluang bisnis? Mengingat cukup banyak event death metal dengan skala besar?

Mungkin, bisa iya bisa tidak tergantung di bidang mana yang kita bahas, jika dari event death metal yang pernah saya singgah sih mungkin tidak kayaknya, terlihat panitia pun terkadang tombok mereka survive agar acara death fest tetap ada, dengan modal nekat mereka menggelar acara, menurutku mereka pahlawan sih tapi jika di lihat dari segi perilisan mungkin menjajikan, banyak bermunculan lebel lebel baru yang mulai merintis dan banyak lebel indonesia yang bekerjasama dengan lebel luar dalam perihal perilisan atau distribusi

Imperforata tetap melanjutkan full album mereka di bawah naungan Dismembered Record meski hanya menyisakan satu member saja. Photo take by google.com
  • Mana menurutmu yang lebih enjoy, bermain di skena festival besar atau sebuah gigs kecil?

Menurutku semua enjoy sih, yang paling utama sih mabok ketemu teman teman jauh itu lebih dari cukup, menikmati acara dengan sederhana perfom dengan maksimal.

  • Indonesia sedang krisis keyakinan, setiap problem tertentu dikaitkan dengan isu keyakinan tertentu dan tersambung lurus dengan politik, bagaimana sikapmu?

Kalau saya sih lebih memilih diam, karena keyakinan setiap orang bisa berbeda beda bahkan yang satu agama pun mempunyai sudut pandang yang berbeda tentang keyakinan, pertanyaan yang lumayan sulit sih, tapi jika di tanya sikap saya lebih memilih acuh saja

  • Final comment untuk webzine dan pembaca?

Untuk webzine : saya mendukung dengan sangat terbentuknya webzine seperti ini, mungkin kedepannya lebih produktif lagi

Untuk pembaca : jangan sampai kita kehilangan idealis kita entah dalam hal bermusik atau kehidupan, karena idealis adalah puncak kemewahan yang di miliki seorang pemuda seperti kata Tan Malaka.

Menggeramkan Amarah, Mashedbrains

Manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).

Psikolog brilian asal RusiaPavel Semenov

Seharusnya tulisan ini sudah kadaluarsa karena sudah terlewat beberapa bulan. Namun apa peduli saya? Kalau ini masih layak dibaca, tentukan saja tanggal postnya dan sebarkan!

Sebelum era hardcore kid (Sebutan saya untuk orang-orang yang ngakunya hardcore tapi sekedar poser) saya sempat memuja beberapa band di tempat saya tinggal. Dimana mereka banyak yang memainkan hardcore beatdown yang atraktif. Setiap kali band hardcore live, raga serasa bergejolak untuk berada di tengah moshpit, sekalipun saya memakai atribut death metal.

Berselang tahun lamanya banyak band yang bubar dan salah satunya ada yang menyisakan show terakhir mereka kala itu di NGAWI ROCK IN FREEDOM 2017. Namun gairah untuk band-bandnan masih terasa hingga muncul satu kekuatan baru yang menyedot aura saya untuk mendikumentasikan obrolan ringan kepada sebuah band yang digawangi oleh Mamat, Kokko dan Pratama, terciptalah embrio MASHEDBRAINS.

Left to right : Mamat, Pratama, Kokko. Photo take by Kahanan Kolektif

MASHEDBRAINS yang saya tidak peduli genre apa mereka ada yang bilang punk, hardcore punk, fastcore, power violence atau segala macam tambahan artian untuk sekedar menspesifikasikan mereka, adalah penyegar amarah dikala banyak teman-teman yang merindukan pelampiasan amarah dalam sebuah musik.

Saya bertemu dengan Kokko selaku drummer dari MASHEDBRAINS untuk menceritakan band ini.

Kokko on action with Mashedbrains. Photo take by google.com
  • Bisa diceritakan latar belakang anda membentuk Mashedbrains?

Halo, sebelumnya perkenalkan aku kokok dari mashedbrains. Terima kasih banyak untuk delta dari ilvsi optik zine yang berkenan melibatkan saya pada sesi interview ini. Emm yang menjadi latar belakang membentuk mashedbrains sendiri sih karena pada band sebelumnya di antara mati segan hidup tak mau hahaha, sebenarnya alasannya sama kayak orang lain sih masih pengen ngeband & mungkin biar ada alasan aja bisa main ke luar kota nambah jaringan pertemanan. Karena pertemanan adalah koentji !

  • Bersama mashedbrains, anda adalah band hardcore punk dengan sentuhan blastbeat pertama yang merilis EP di Ngawi, bagaimana perasaan anda?
Mashedbrains, AFRAID EP. Self Released. Photo take by google.com

Sebenarnya sebelum mashedbrains sudah ada Rinanjam dulu band pertama di Ngawi yang menambahkan sedikit tambahan ketukan blastbeat di beberapa lagu tapi memang benar sih mereka belum sempat memuntahkan ep atau album tak tau lagi sekarang nasibnya, karena memang sesuai dengan awal pembentukan MB yang sedikit bosan melihat beberapa band yang memainkan hc/punk yg gitu2 mulu, kami pengen mengembalikan atmosfir moshpit era awal 2000 an dimana hc/punk saat itu dimainkan dalam waktu beberapa detik saja. Dibeberapa kota besar pada era awal 2000 an memang lagi digandrungi band2 ngebut sebut saja Aparat Mati (Bandung), Domestik Doktrin (Bandung), Mortal Combat (Jogja) dll walaupun sebenarnya sih aku gak ikut ngerasain euforianya. Buat aku sendiri sih kenapa bisa tertarik untuk membentuk band ngebut ini pertama kali karena membaca dari beberapa zine yang saat itu gencar mempromosikan band2 fastcore/ thrashcore/ powerviolence. Selain itu juga dampak setelah ngobrol bersama teman dari Madiun Bobby Jagger (Midnight Rambler) yang saat itu sedang asik bernostalgia dengan obrolan tentang skena hc/punk di jogja pada era 2000 an. Dari obrolan inilah akhirnya malah aku di ajak donny (negative force) membentuk band baru dengan genre fastcore/ powerviolence. Tapi karena adanya jarak yang memisahkan hahaha akhirnya cuma jadi wacana saja (walaupun sudah beberapa kali latihan di studio sih sebenarnya). Pada akhirnya project band tersebut diteruskan oleh donny & teman2 dimadiun yang akhirnya melahirkan band Who Cares (2013). Dari situlah kemudian aku mempunyai niatan untuk membentuk band fastcore/ powerviolence sendiri yang saat itu masih bernama Samber Bledex (2015). Sempat main di beberapa gigs tapi setelah itu karena ada beberapa kesibukan dari personil SB akhirnya aku mengajak Mamat (rinanjam) dan Putra (voltup) untuk melanjutkan lagi dan sepakat ganti nama jadi Mashedbrains.

Mashedbrains. Photo take by google.com
  • Seberapa pentingkah sebuah band untuk mengemas dan mendokumentasikan karyanya, dari sudut pandang mashedbains?

Penting banget sih, ngapain lagi ngeband kalo gak buat rilisan fisik ? Emm mengutip obrolan Garna (Ak47) dengan salah satu media “bahwa yang sekedar terucap itu akan hilang, tapi yang tertulis akan abadi” jadi dengan mendokumentasikan karya itu merupakan sebuah pencatatan sejarah yang kelak mampu dinikmati generasi setelah kita. Jadi dengan adanya rilisan fisik teman2 yang lain juga bisa ikut berkontribusi dengan cara membeli rilisan fisik tersebut, agar keuangan di dalam band juga bisa terbantu dengan adanya support dari teman2 semua. Kita juga bisa trade dengan rilisan dari temen2 band lain dan bisa saling membantu dalam mendistribusikan rilisan.

  • Apa konsep EP anda tersebut?

Pada EP perdana Mashedbrains ini kami sepakat dengan mengusung tema war on drugs & juga tumbuhan yang sampai saat ini menyebut namanya saja masih dianggap sebagai sbuah hal yang tabu. Pada EP Afraid bercerita tentang paranoia yang dimiliki oleh masyarakat terhadap sebuah tanaman yang sebenarnya memiliki banyak manfaat, yang saat ini manfaatnya baru dirasakan oleh segelintir orang saja. Kenapa afraid, karena memang itulah cerminan dari apa yang tergambarkan setelah mencoba membayangkan tanaman tersebut. Ketakutan yang dimaksud disini bukanlah ketakutan efek samping setelah mengkonsumsi atau sejenisnya tapi ketakutan tentang sistem hukum yang membelenggu orang yang coba2 berdekatan dengan tanaman tersebut, sistem hukum yang nantinya akan sangat merugikan orang yang mencoba untuk menggunakannya. Padahal pemerintah tidak pernah tahu latar belakang orang yang berkenalan dengan tanaman tersebut, apakah untuk sekedar bersenang senang, bertahan hidup, atau untuk pengobatan ? Mereka semua dipukul rata disandingkan dengan pemakai narkotika kelas 1 yang hukumannya jelas akan sangat merugikan orang tersebut. Selain itu kami juga menggambarkan sikap kesewenangan aparat terhadap rakyat yang semena mena. Khususnya pada kasus war on drugs, aparat diberikan kekuasaan untuk mengakhiri hidup seseorang hanya karena dia mengkonsumsi tanaman tersebut. Padahal, sebagian aparat sebenarnya juga ikut mengkonsumsi dan terlibat dalam pendistribusian tanaman tersebut, tapi seakan seperti serigala berbulu domba, mereka tidak perduli yang terpenting berita acara telah terisi dan besok naik pangkat lagi. Sedangkan dari segi sound kami terinfluence dari beberapa band2 yang berada dibawah naungan Slap a Ham Record, To Live a Lie Record dan Youth Attack Record.

  • Bisa ceritakan tour Mashedbrains bertajuk Afraid Central Java Tour 2018?

Hahaha sebenarnya itu tur dadakan sih, sebelumnya kami diajak temen2 semarang untuk ikut berpartisipasi di acaranya temen2 semarang grindcore kartel yaitu di acara Detonasi Semarang Grindcore Festival, nah dari situ baru kepikiran kenapa tidak tur sekalian? Nah akhirnya aku mengkontak beberapa teman di Jogja, Solo dan Sragen. Setelah fix dengan masalah tanggal di setiap kota bulan juli kami nekat berangkat. Sedikit pontang panting sih karena waktu persiapan yang sangat mepet tapi alhamdulillah turnya sukses dan lancar. Oh iya, kami juga mau berterima kasih kepada semua teman yang telah kami repotkan dan kami temui di tiap kota selama perjalanan tur, semoga kita segera dipertemukan kemballiiii.

Setelah mereka melaksanakan Afraid Central Java Tour 2018, Mashedbrains bersama Alzheimergrind, Lembuade dan Ternoda melakukan tour ke Bali bertajuk Namanya Juga Tour 2019. Photo take by google.com
  • Beritahu kepada pembaca makna tour bagi band yang telah mengeluarkan karya. Mengapa band melaksanakan tour?

Ngeband tanpa tur bagai sayur tanpa garam kurang sedep, tur merupakan rukun iman dari ngeband yang apabila tidak dilakukan bisa dosa hahaha. selain sebagai media promosi atas rilisan yang telah kita keluarkan, tur juga merupakan ajang untuk menambah jaringan pertemanan di berbagai kota. Kita akan bertemu wajah baru dan wajah lama pada saat menggelar tur ditiap kota dan pasti akan mendapatkan cerita, ilmu dan pengalaman baru yang tidak terlupakan. Oh iya, untuk teman – teman luar kota yang akan melakukan tur dan ingin singgah ke Ngawi bisa mengkontak saya atau bisa menghubungi teman2 di Kahanan Kolektif.

  • Bagaimana menurut pendapat anda skena hardcore punk saat ini?

Skena hc/punk saat ini masih tetap menyenangkan walaupun pasti ada wajah lama yang pergi dan wajah baru yang datang tidak masalah, intinya kita semua ingin belajar dan bersenang senang bersama disini.

  • Stereotype masyarakat melihat punk justru mengarah ke kaum-kaum gelandangan yang terlihat mengamen atau bergerombol di jalanan, bagaimana anda selaku member Mashedbrains menyikapinya?

Hahaha mau gimana lagi faktanya memang banyak orang yang berdandan ala punk dan mengatakan dirinya punk, mengamen dan merusuh dijalan. Kalo banyak orang yang akhirnya mengambil kesimpulan bahwa seperti itulah punk ya mau gimana lagi… Nah kemarin waktu tur aku bertemu dengan Bisma dari Spektakel Klab Palembang, Spektakel Klab merupakan salah satu skena hc/punk di Palembang yang aktif mengorganisir berbagai kegiatan mandiri dipalembang. Selain mengorganisir gigs untuk band yang akan tur ke palembang teman2 Spektakel Klab juga sering mengorganisir kegiatan seperti workshop, chairity show, screening film, fnb dan berbagai kegiatan menarik lainnya. Nah hebatnya nih mereka mulai mengajak teman2 street punk di Palembang untuk ikut berkontribusi nyata dalam kegiatannya seperti melibatkan teman2 street punk untuk berkontribusi saat mengorganisir band yang sedang tur, mensupport kegiatan yang dibuat oleh teman2 street punk dengan cara datang dan membeli tiket, mengajak temen2 street punk mengikuti workshop sablon agar sedikit demi sedikit mulai meninggalkan ngamen dan beralih ke sablon untuk alternatif bertahan hidup, mengajak mereka untuk berkontribusi di kegiatan food not bomb, may day dan lain lain. Jadi jika kamu jengah dengan pandangan orang tentang label punk yang disematkan terhadap mereka kamu bisa mengadaptasi cara yang dilakukan oleh2 temen2 Spektakel Klab Palembang tanpa menjudge mereka.

  • Terlebih lagi terdengar kabar setiap ada event/gigs dimana terdapat segerombolan oknum yang mengatasnamakan punk selalu berakhir rusuh, apa pendapat anda dengan hal demikian?

Menurutku sih gak cuma yang berdandan ala punk yang sering merusuh, kadang ada juga yang berdandan ala gangster hahahaha.

  • sikap anda tentang RUU musik?

Mau ada RUU musik atau nggak bagi band underground kampung seperti kami sama aja dan gak pernah ambil pusing, tapi mungkin buat band yang udah lalu lalang dipanggung acara festival dan semacamnya pasti jelas ada dampaknya. Mungkin ada yg mau coba buat petisi agar gak jadi disahkan ?

  • Pesan untuk para pembaca?

Karena budaya menulis dan membaca memang sudah seharusnya harus kita tularkan kepada setiap orang, begitupun juga dengan budaya mengapresiasi. Kita juga harus menularkan buadaya untuk mengapreisasi segala bentuk pergerakan positif dari semua teman disekitar kita. Maka dari itu untuk teman2 semua mari kita dukung zine ini supaya masih tetap berlanjut dan seterusnya dengan kontribusi yang nyata. jangan pelit anjing ! Salam :))

Design a site like this with WordPress.com
Get started